Review: Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019)

Sempat ragu dengan ide remake Keluarga Cemara ketika pertama mendengarnya, tapi film Keluarga Cemara arahan Yandy Laurens di tahun 2019 ini berhasil mengubah pandanganku 180 derajat.


Ada 3 alasan utama yang membuat Keluarga Cemara begitu berhasil.

1. Akting jempolan
Akting Ringgo sebagai Abah adalah akting terbagus Ringgo setelah Ujang Pantry 12 tahun silam. Bukan berarti akting Ringgo sebelum-sebelumnya ga bagus ya. Engga, sama sekali engga. Ringgo adalah salah satu aktor favorit gue sejak lama karena memang dia bisa akting dengan bagus sekali.

Tapi aktingnya sebagai Abah di Keluarga Cemara was on a different level of awesomeness. Pendalaman karakter dan kedalaman emosinya tuh juara banget menurut gue. Dia bisa memupuk emosinya dari awal, memainkannya dengan sangat bagus, hingga akhirnya berhasil mengeluarkan yang terbaik di adegan klimaks. Dia berhasil membuat kita benar-benar kenal dan merasa dekat sama Abah.

Dan bukan cuma Ringgo aja. Zara JKT48 sebagai Euis juga jempolan banget sebagai pemain baru di dunia perfilman tanah air. Sama seperti Ringgo, Zara juga jago banget memainkan emosi perannya, sehingga walaupun ia tidak selalu mengungkapkan perasaannya, tapi kita-kita yang nonton bisa dibuat tau tentang perasaannya yang sesungguhnya, hanya lewat mata dan ekspresi wajahnya.


2. Karakter yang believeable dan bergerak
Keluarga Cemara adalah jenis film yang keberhasilannya ditentukan oleh kepiawaian aktornya memainkan peran, serta karakter yang diberikan kepadanya. Untungnya, akting luar biasa aktor-aktor di film ini tidak disia-siakan oleh karakter yang ala kadarnya.

Karakternya sangat believable dan terus bergerak sepanjang film berlangsung. Kita sebagai penonton bisa mengikuti perubahan dan perkembangan karakternya. Abah yang tadinya begitu positif dan semangat, kemudian lesu, berusaha menjaga semangatnya, berubah jadi pesimis, berubah jadi pemarah, dan seterusnya. 

Begitu pula Euis yang memperlihatkan pergolakan batin lewat ekspresi di wajahnya, serta pendewasaan diri lewat perkembangan karakternya. Mulai dari anak happy go lucky, jadi anak yang tidak percaya diri, lalu berusaha untuk menjadi kakak yang bertanggung jawab dan anak yang pengertian, hingga akhirnya dia menemukan dirinya yang baru.

Love it.

3. Cerita yang pas, di-direct dengan pas juga
Premis Keluarga Cemara di tangan yang salah akan jadi cerita yang begitu dramatis dan memaksa kita untuk menangis. Di tangan penulis dan sutradara yang salah, Keluarga Cemara bisa memberikan kita rentetan musibah yang memang membuat kita nangis sih, tapi capek nontonnya.

Tapi, di tangan Gina S. Noer dan Yandi Laurens, Keluarga Cemara jadi film yang pas, tidak berlebihan. Kesedihannya ditampilkan sesederhana bahagianya, komedinya ditampilkan sejalan dengan pergerakan cerita dan karakter, letupan emosinya pun sangat presisi waktunya. Kalau kata teman saya, "formulaik", tapi berhasil.

Sebuah upaya yang cukup sulit dilakukan, jikalau mereka yang membuatnya ingin "show off", sehingga tidak bisa mem-filter hal-hal yang semestinya tidak perlu ditampilkan

Final Verdict
Keluarga Cemara punya paket lengkap. Cerita sederhana tapi ngena, karakter yang begitu hidup, dan aktor-aktor brilian yang bisa menghidupi karakternya. Definitely pembuka awal tahun yang berkesan.

Komentar

  1. nonton film ini 2x. pas nonton pertama, dari awal sampe akhir cerita ngikut cara berpikirnya Abah. Setiap abah senang, sedih, ketawa, marah, ikut merasa ohh yaaa abah benar! Euis yang salah.

    lalu pas nonton kedua kali, berusaha menahan emosi untuk gak nangis (biar fokus sama cerita dan detail lainnya gitulho huhu soalnya pas nonton pertama terlalu ngikutin emosi sampe keluar studio dengan mata bengkak). e ternyataaa, jadi menelaah lagi emang apa yang bikin abah marah? euis? emang euis salah? emang euis ada ngelakuin itu? enggak. ternyata euis gak salah. abah hanya inget yg jelek2nya aja tapi lupa kalo semua keluarga juga berjuang, termasuk euis.

    dan ini juga nyadarin, FILM INI SEBAGUS INI! T_T

    BalasHapus

Posting Komentar