Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

29.5.17

, , , , , , , , , , ,

Review: Critical Eleven (Monty Tiwa & Robert Ronny, 2017)

Share

Hai pembaca, apa kabar? Lama tak membaca celotehanku soal film di blog ini ya? Mohon maaf karena kesibukan menghalangiku me-review sesering dulu. Tapi kini aku kembali dengan salah satu film ter-hits tahun ini: Critical Eleven.

Critical Eleven adalah novel-to-film pertama Ika Natassa. Best seller di novel, box office juga di film. Tercatat hingga 18 hari penayangannya hari ini, ada lebih dari 764 ribu pasang mata yang telah menyaksikan filmnya. Entah itu hanya sekali nonton, dua kali nonton kayak gue, atau bahkan lebih.

Ceritanya sederhana. Ale (Reza Rahadian) dan Anya (Adinia Wirasti) jatuh cinta pada pandangan pertama, mereka menikah dalam waktu singkat, Anya mengandung, tapi kemudian.. Anya keguguran. Kekuatan pernikahan mereka pun diuji di sini. Akankah mereka berhasil melaluinya dan kembali tegar berdiri sebagai suami-istri?


Sejak kali pertama gue melihat jejeran pemainnya yang rupawan, gue excited. Banget. Man, cowok-cowok ganteng dan cewek-cewek cantik in one movie? Hell yeah! Lalu melihat cara Ika Natassa, Adinia Wirasti, dan Reza Rahadian mempromosikan film ini, gue tahu bahwa Critical Eleven dibuat dengan penuh passion, penuh cinta. Ditambah dengan Monty Tiwa sebagai sutradara dan Robert Ronny sebagai produser -- dan juga sutradara --, gue tahu bahwa film ini juga akan dibuat dengan amat sangat niat. "Film ini mestinya bagus," pikir gue.

Tapi kemudian trailer-nya keluar. Gue nonton tiga kali beruntun, and I was like.. "Kok... gini?"

Ekspektasi terjun bebas, hingga akhirnya tibalah hari penayangan filmnya di bioskop.


Kekuatan Ika Natassa adalah ia selalu berhasil membuat karakter tokoh-tokohnya begitu hidup, membuat pembaca ikut terhanyut dalam kisah mereka. Ngga sedikit pembaca yang kemudian mendamba memiliki pasangan se-charming dan sebaik karakter-karakter pria, maupun menjadi wanita independen yang keren seperti dalam novel-novel Ika.

Masalahnya adalah: filmnya tidak berhasil menghidupkan karakter-karakter itu. Yes, kita tau kalau Ale cinta sama Anya dan sebaliknya lewat serangkaian adegan cium-peluk-dan uwel-uwelan manja itu. Tapi kita ga bener-bener tau siapa Ale dan Anya in the first place. Penonton tidak diajak berkenalan dengan karakter Ale dan Anya, apa yang membuat mereka jatuh cinta (karena Ale ganteng dan Anya cantik, kah?), serta kemudian apa yang akhirnya membuat mereka melakukan apapun yang mereka lakukan, plus segala tingkah laku dan konflik yang kemudian muncul karenanya. 

Dan bukan, itu semua bukan karena Adinia Wirasti dan Reza Rahadian bermain buruk. Bukan. Adinia dan Reza bermain luar biasa, terutama di paruh kedua filmnya. Ketika mereka menangis, marah, dan jatuh sejatuh-jatuhnya saat kehilangan Aidan, gue sebagai penonton bisa melihat betapa kehilangannya mereka akan calon buah hatinya. Tapi, gue hanya sampai pada batas "melihat" saja -- dan berpikir betapa bagusnya akting mereka. Gue tidak bisa ikut merasakan sedihnya rasa kehilangan mereka. Gue ga bisa ikut menangis bersama mereka. Dan ini semua bukan karena gue ga bisa relate sama ceritanya. Good storytelling will get to you, eventhough you haven't been on their shoes.

Masalahnya adalah di "karakter yang hilang" itu tadi. Skenarionya tidak memberikan karakter dan cerita yang cukup kuat untuk membuat gue percaya bahwa Ale dan Anya adalah dua muda-mudi yang cinta mati satu sama lain. Karena menurut gue, segala ciuman, pelukan, dan berbagai bentuk kemesraan fisik lainnya itu tidak cukup untuk membuat gue percaya bahwa mereka se-cinta itu.


Hasilnya, tangisan Reza dan Asti yang menyayat hati di paruh kedua hanya sampai sebatas "mau ngelapin air mata Reza Rahadian" aja, tapi ga sampai membuat gue ikut menangis karena merasakan apa yang mereka rasakan. Gue tidak berhasil dibuat merasakan kesakitan itu, karena paruh pertama filmnya tidak berhasil membuat gue percaya bahwa mereka sebegitu menginginkan Aidan dan bahwa kehadiran Aidan sebegitu berharganya untuk mereka.

Dan itulah yang membuat gue sedih. Dua pemain yang memberikan 110% akting mereka jadi terlihat tidak 100% karena mereka tidak diberikan karakter dan cerita yang cukup kuat untuk membuat gue "masuk" ke dalam kisah mereka.


Critical Eleven juga punya sederet pemain pendukung yang visually very pleasing. Hamish Daud, Refal Hady, Nino Fernandez, Anggika Bolsterli, Mikha Tambayong, Astrid Tiar, Revalina S. Temat, Hannah Al-Rashid. Deretan yang indah, bukan? Tapi sayangnya.. mereka semua hanya sekedar memanjakan mata, tapi ngga punya peran sama sekali. Dalam artian, mereka ngga ada juga ga ngaruh. 

Dan hal ini sangat disayangkan menurut gue, terutama karena beberapa di antara mereka punya kemampuan akting yang ngga kalah sama Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Revalina S. Temat dan Hannah Al-Rashid misalnya, mereka hanya dikasih peran "segitu doang". Nino Fernandez apalagi. Gue masih ingat betapa luar biasanya Nino di Wa'alaikumussalam Paris, tapi malah numpang lewat doang tanpa dialog. Sementara Hamish Daud yang semestinya punya potensi peran sebagai orang ketiga ketika hubungan Ale dan Anya lagi hancur-hancurnya, malah ngga diberikan peran itu.. plus aktingnya pun sangat tidak meyakinkan.

So, yeah.. Gue sejujurnya kecewa sama apa yang gue tonton. Karena Critical Eleven sebenarnya punya banyak banget amunisi untuk menjadikannya sebuah film yang luar biasa. Tapi entah di mana miss-nya, the movie wasn't what it should've been.

0 comments:

Posting Komentar