Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

19.11.16

, , , , , , , , ,

Review: Melbourne: Rewind (Danial Rifki, 2016)

Share


Melbourne: Rewind adalah film Indonesia berbasis novel ke-2 yang novelnya sempat gue baca sebelum filmnya dibuat. Bercerita tentang Laura (Pamela Bowie), gadis belia yang belum bisa move on dari Max (Morgan Oey), mantan pacarnya yang pergi meninggalkannya -- bukan demi wanita lain, tapi demi menggapai cita-citanya. Laura kemudian bertemu dengan Evan (Jovial da Lopez), dan jatuh cinta pada pria ini. Namun kemudian dua hal terjadi: Evan lebih memilih Cee (Aurelie Moeremans), sahabat baik Laura, dan Max kembali. JENG JENG.

Filmnya yang ditulis oleh Haqi Achmad mengambil angle yang berbeda dari novelnya. Kalau novel bercerita dari sudut pandang Laura, maka film bercerita dari sudut pandang Max. Dan hasilnya.. Filmnya jadi lebih menarik. Haqi bisa menggambarkan perubahan karakter Max ketika "muda" dulu, dan Max setelah ia berhasil menggapai mimpinya. Dan perubahan karakter itu dimainkan dengan baik sekali oleh Morgan Oey. Ada kedalaman karakter di sana, bukan hanya perubahan fisik semata. 

Sementara karakter Laura yang clueless tentang hidupnya, juga berhasil diperankan dengan baik oleh Pamela Bowie. Walaupun kemudian yaa.. Gue jadi hampir tidak bisa membedakan aktingnya di film Melbourne: Rewind ini dan di film Winter in Tokyo sebelumnya. Tapi, ketika Laura dan Max ada dalam satu frame, Laura jadi terlihat lebih hidup, sama seperti perasaannya pada Max yang sebetulnya tak pernah mati (#eaaa). Sementara Morgan tampak lebih menggemaskan dan adorable saat bersama Pamela.

Di sisi lain, dua karakter pendukung, Evan dan Cee, walau tidak diberikan karakter dan porsi yang cukup banyak, tetap bisa memberi penyegaran dengan caranya sendiri di layar. Aurelie berhasil membuat gue kagum akan daya tahan tubuhnya terhadap dingin. Ketika yang lain menggunakan jaket tebal, ia dengan santainya menggunakan cropped top yang memperlihatkan perut seksinya -- tanpa kelihatan kedinginan sama sekali. Sementara Jovial, membawa ciri khasnya sebagai Youtuber, menunjukkan kharisma dan kemampuan berbicaranya di depan kamera.

Cerita cinta empat manusia ini kemudian diramu oleh Danial Rifki menjadi sebuah film yang terasa berbeda dari film romansa Indonesia kebanyakan. Melbourne: Rewind terasa dewasa, ngga menye-menye, ngga drama, dan ngga berlebihan. Ditambah dengan deretan soundtrack super enak yang mengiringi film ini, Melbourne: Rewind jadi punya feel seperti film romance Indie ala Hollywood. Me like!

1 comments: