Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

4.10.16

, , , , , , , , , , , , , ,

Review: Ada Cinta di SMA (Patrick Effendy, 2016)

Share

Pertama kali banget gue "berkenalan" dengan 2 dari 3 personil CJR yang ada sekarang adalah sewaktu gue menonton 5 Elang tahun 2011 lalu, saat mereka masih berusia 11 tahun, serta pitik-pitik imut nan lucu. Film pertama, dan nama "Coboy Junior" pun belum melekat pada diri mereka. Di tahun yang sama, Patrick Effendy menyatukan mereka, dan lahirlah little-boyband yang kemudian mengguncang dunia musik Indonesia.

Dua tahun setelah Coboy Junior terbentuk, mereka merilis sebuah film berjudul Coboy Junior The Movie, yang bercerita tentang asal muasal terbentuknya Coboy Junior. Film ini kemudian menjadi film Indonesia terlaris ke-5 pada tahun 2013. Dua tahun kemudian, berharap meneruskan jejak kesuksesan film pendahulunya, sekaligus momen untuk "rebranding" grup bocah-bocah cilik yang pada saat itu sudah menginjak usia remaja, dibuat pula lah sebuah film berjudul CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu. Di sini, lagi-lagi mereka bercerita tentang perjuangan CJR setelah ditinggal salah satu anggotanya.

Tahun 2016 ini, ketika mereka sudah berusia 16-18 tahun, CJR kembali bermain bersama dalam sebuah film -- yang katanya juga akan jadi film "perpisahan" CJR. Tapi tidak seperti 2 film sebelumnya, kali ini mereka tidak lagi mengisahkan cerita CJR, melainkan menokohkan seseorang dalam sebuah cerita fiktif. Disutradarai oleh Patrick Effendy seperti film ke-2, Starvision Plus mengajak penulis spesialis remaja, Haqi Achmad, untuk menulis skrip filmnya -- dan juga novelisasinya, dan dibuatlah film musikal berjudul Ada Cinta di SMA.


Ada Cinta di SMA berhasil menarik perhatian gue di kemunculan teaser trailer-nya. Despite the generation gap, gue merasa bahwa film tentang anak SMA ini berbeda dengan film-film anak SMA pada umumnya. Dari teaser trailer-nya, film ini terasa segar, terasa muda dan sangat dinamis, seperti layaknya anak SMA.

Ada Cinta di SMA berfokus pada kisah Iqbal (Iqbaal Dhiafakhri), kehidupannya di sekolah, di rumah, persahabatan, cita-cita, dan tentunya percikan-percikan asmara khas SMA. Iqbal yang merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara, merasa lelah selalu diremehkan oleh keluarga, maupun musuh bebuyutannya sejak kecil, Ayla (Caitlin Halderman). Memiliki cap anak bandel, Iqbal berusaha membuktikan bahwa semua orang salah karena menganggapnya tidak bisa jadi apa-apa. Karena itu, ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS menggantikan Kiki (Teuku Ryzki). Niatnya itu tentu saja kembali menerima cibiran dari keluarga, Ayla yang juga merupakan lawannya, dan secara mengejutkan, sahabatnya, Aldi (Alvaro Maldini). 


Gue nonton Ada Cinta di SMA pas penayangan perdananya tanggal 27 September 2016 kemarin, and I left the studio with a smile on my face. Dan kayaknya gue bukan satu-satunya.

Satu bioskop berkali-kali bereaksi terhadap apa yang terjadi di layar. Ketika ada adegan yang unyu-gemes-bikin baper, penonton berteriak seru kegirangan. They sounded like they were enjoying the movie a lot. And what come to my surprise was, ternyata penontonnya bukan cuma ABG lho. Ya, dengan reaksi yang gue dengar di dalam bioskop, ditambah faktor fans CJR yang mayoritas adalah ABG, ga heran dong kalo gue menduga bahwa kebanyakkan orang-orang yang nonton bareng gue adalah ABG juga? Tapi, pas film selesai dan orang-orang mulai bangun dari tempat duduk, gue kebingungan. Lah.. Banyak tante-tante juga ternyata.. Turns out, the movie worked for the "older people" too.

Sebagai sebuah film remaja yang judulnya aja "Ada CINTA di SMA", gue senang dengan fakta bahwa film ini bukan hanya tentang cinta-cintaan saja, yang kemudian menjadikan "sekolah" hanya sebagai tempelan. Di film Ada Cinta di SMA, sekolah juga dijadikan core cerita, termasuk salah satu kegiatan khas yang SMA banget, yaitu OSIS. Didukung dengan pemain yang memang benar-benar masih SMA -- bukan pemain tua yang dimuda-mudakan seperti biasanya, film ini benar-benar terasa muda. Segar, lucu, dan menggemaskan. Atau kalo kata anak muda zaman sekarang: "bikin baper!"

Dari segi akting, chemistry Iqbal-Aldi-Kiki ngga perlu diragukan lagi. Akting mereka pun natural, karena toh ini bukan kali pertama mereka berakting. Yang cukup mengejutkan adalah Caitlin Halderman yang notabene adalah pendatang baru dan tidak punya pengalaman akting apapun. Bukan hanya cantik, Caitlin juga terlihat potensial, memiliki karakter yang kuat, dan bisa berakting dengan enak. Sementara dua cewek lainnya, Gege Elisa yang berperan sebagai Tara, teman baik Ayla, dan Bella (Agatha Chelsea), gebetan Kiki, juga berakting sesuai karakternya. Terasa natural dan sesuai umurnya.

Tapi, lo ngga akan serta-merta merasakan apa yang gue deskripsikan di atas di menit pertama film dimulai. Paruh pertama filmnya terasa canggung, kayak orang baru awal-awal PDKT. Chemistry mereka belum terbangun 100%. Dan bagi penonton yang sudah terlebih dahulu membaca novelnya seperti gue, secara tidak sadar gue jadi membandingkan antara novel dengan film, karena novelnya udah "megang" dari awal. Tapi untungnya hal itu tidak berlangsung lama, karena begitu film mencapai klimaks, film ini terasa gregetnya. Lo bisa merasakan tensi kompetisi antara Iqbal-Ayla, percik-percik asmara Kiki-Bella, dan tentunya perjuangan para sahabat, Aldi-Tara, dalam upaya mereka membela best friend-nya.

Ditambah dengan lagu-lagu super ear catchy yang diciptakan Patrick Effendy, film ini akan bikin lo pengen nonton filmnya lagi, just to sing along... Sebuah kado perpisahan yang manis untuk para Comate (fans CJR), sekaligus sebuah film yang menggemaskan untuk penonton awam.

Lihat trailer-nya di sini, dan tonton filmnya di bioskop-bioskop terdekat, mulai 6 Oktober 2016!

0 comments:

Posting Komentar