Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

9.7.16

, , , , , , , , , , , ,

Review: Sabtu Bersama Bapak (Monty Tiwa, 2016)

Share

Sabtu Bersama Bapak adalah salah satu film Indonesia yang paling gue tunggu tahun ini. Novelnya gue suka banget. Jadi ga heran kalau gue punya ekspektasi yang super tinggi pada filmnya. Apalagi, sutradaranya adalah Monty Tiwa, yang emang sutradara spesialis film drama rumah tangga begini. Penulis skenarionya pun Adhitya Mulya, yang juga merupakan penulis novel aslinya. Jadi mestinya, "jiwa" novelnya tidak akan hilang.

Tapi mungkin karena ekspektasi yang ketinggian itulah, gue sebetulnya agak kecewa dengan Sabtu Bersama Bapak ketika gue pertama kali menontonnya.

All I know is Acha Septriasa as Rissa was great. Banyak orang bilang kalau Acha itu bagus, tapi baru di film Sabtu Bersama Bapak ini lah gue sadar betapa bagusnya Acha. Bukan cuma dari ekspresi, tapi Acha benar-benar menghidupi karakter Rissa dari gestur tubuh dan bahkan perasaannya. Gue takjub banget lho waktu melihat air matanya jatuh ketika memang momennya dia harus jatuh. Keren!

Gue juga tahu bahwa Deva Mahenra luar biasa menokohkan Cakra. Gue yang awalnya pesimis sama Deva setelah melihat aktingnya di Romeo+Rinjani, plus belum lagi mukanya yang playboy itu, gue sempet bingung gimanaaaa ceritanya Deva Mahenra bisa memerankan sosok Cakra yang kurang atraktif, polos, dan grogian? Tapi ternyata, Deva membuktikan bahwa saya salah besar. Deva benar-benar bisa memainkan karakter Cakra yang polos, grogian, dan sayang banget sama Mamahnya dengan sangat baik. Belum lagi tek-tokannya dengan Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita) yang mulus banget dan bisa menampilkan komedi yang bukan cuma menyegarkan, tapi juga bikin ketawa ga kira-kira.

Ketiga, Abimana Aryasatya sebagai Bapak. He just never fails. Walaupun sempet takut salah fokus karena Abimana sebagai Bapak gantengnya luar biasa, tapi ternyata Abimana bisa menyalurkan "kebijaksanaan" Bapak dengan sangat baik, walaupun hanya muncul lewat layar kaca dan posisi yang itu-itu saja. Dan hasilnya, gue ga salah fokus sama kegantengan Abimana, dan bisa melihatnya sebagai Bapak, seperti Bapak yang gue baca di novelnya.

Tapi.. Gue ga puas. Gue ga puas hanya karena 3 aktor utamanya bermain dengan sangat brilian. Gue mau mendapatkan rasa yang sama ketika menonton filmnya, seperti ketika gue membaca bukunya. Tapi.. Gue ngga berhasil mendapatkan rasa itu ketika gue pertama kali nonton film Sabtu Bersama Bapak.

And that's where I did wrong.


Membandingkan sebuah novel dengan sebuah film ketika novelnya difilmkan adalah hal yang sangat wajar. Apalagi jika lo suka banget sama novelnya. Lo berharap filmnya bisa mewujudkan bayangan lo akan novelnya menjadi nyata. Gue pun melakukannya.

Di novel, fokus Sabtu Bersama Bapak adalah Bapaknya. Kita diceritakan bagaimana seorang Bapak begitu sayang sama keluarganya, dan betapa ia menyadari pentingnya peran seorang Bapak dalam proses tumbuh kembang anaknya menjadi dewasa nanti. Apalagi anaknya dua-duanya laki-laki. Kita diajak membaca nasihat-nasihat si Bapak yang diceritakan lewat video tape setiap Sabtu, dan bagaimana nasihat-nasihat itu berhasil membentuk anak-anaknya menjadi laki-laki yang baik dan anak-anak yang membanggakan orangtua. Tapi bukan cuma untuk anak-anak atau laki-laki. Novelnya juga mengajarkan gue -- seorang perempuan -- bagaimana menjadi wanita yang baik, istri yang baik (nantinya), dan ibu yang baik (nantinya juga). Intinya, novelnya membuat gue yang juga kehilangan Ayah ketika gue masih anak-anak ini merasa gue memiliki Ayah, lewat Bapak.

Namun, filmnya tidak menampilkan itu. Filmnya tidak bisa membuat gue merasakan sesosok Ayah. Makanya, ketika pertama kali gue menonton filmnya, gue kecewa. 

Tapi kemudian gue sadar kalau gue melakukan kesalahan dengan membanding-bandingkan novel dengan filmnya, seperti kata Haqi Achmad, "novel dan film adalah dua medium yang berbeda". Ketika membaca novel, seorang pembaca bisa berimajinasi seliar mungkin. Interpretasi masing-masing orang berbeda. Sementara di film, orang lain -- yang juga punya interpretasi yang berbeda dengan lo -- mewujudkannya ke dalam bentuk visual yang mau ga mau harus lo terima, karena itu adalah wujud dari interpretasi mereka (para pembuat film) atas novelnya. Makanya, ngga heran ketika sebuah novel difilmkan, banyak pembaca yang marah dan ga suka sama hasil filmnya.

Jadi, gue memutuskan untuk menonton Sabtu Bersama Bapak sekali lagi, membuang semua ekspektasi, dan melupakan rasa yang gue dapatkan sehabis membaca novelnya, dan menonton film Sabtu Bersama Bapak sebagai sebuah film yang "terpisah" dari novelnya. Seperti kata Deva Mahenra sebelum filmnya dimulai pas premiere kemarin, "tontonlah filmnya sebagai sebuah film utuh, dan jangan bandingkan dengan novelnya." 

Dan hasilnya pun berbeda.


Second viewing ini membuat gue sadar bahwa novel dan film memang tidak bisa dibandingkan. Mediumnya beda. Proses berpikirnya beda. Dan proses penonton mengonsumsi kedua media ini pun berbeda, maka jelas, treatment-nya pun harus berbeda.

Di film, gue ga bisa melihat sesosok Bapak karena memang bukan Bapak fokusnya. 

Fokus film adalah tentang kehidupan istri dan kedua anaknya sepeninggal sang Bapak. Bagaimana mereka menjalani hidup mengikuti "kata Bapak", dan pada akhirnya, bagaimana mereka menjadi anak, laki-laki, suami, dan Ayah yang baik untuk anak-anaknya di kemudian hari.

Seperti kata Bapak menjelang akhir film, "saya adalah masa lalu yang menolak untuk pergi, sementara kamu, adalah masa depan mereka." Keberadaan Bapak di film hanyalah sebagai "panduan" bagi anak-anak dan istrinya, sesuai dengan latar belakang kenapa novel Sabtu Bersama Bapak ini ada: karena Adhitya Mulya sadar betul pentingnya peran seorang Ayah terhadap tumbuh kembang anaknya. Tapi, itu hanya panduan, yang seharusnya menjadi fokus ya memang mereka-mereka yang ditinggal dan masih menjalani hidup seperti biasa.

Jadi, setelah nonton lagi, gue sadar bahwa sebagai sebuah film, Sabtu Bersama Bapak berhasil bercerita dengan sangat baik, dan juga berhasil menghibur penontonnya. Monty Tiwa berhasil membawa kita melihat perkembangan Satya dan Cakra dari kecil, kehidupan mereka dan Bu Itje (Ira Wibowo) yang tidak lepas dari pengaruh nasihat-nasihat Bapak, proses mereka "naik jenjang", serta bagaimana Satya (Arifin Putra) dan Cakra memiliki karakter yang begitu berbeda -- karena proses penerimaan mereka akan nasihat Bapak yang juga berbeda, sehingga membentuk dua pribadi yang begitu berbeda pula -- dan Arifin Putra dan Deva Mahenra berhasil memerankan dua karakter tersebut dengan sangat baik. Kita juga dibikin tertawa terbahak-bahak oleh kekonyolan Cakra-Firman-Wati, dibikin nangis oleh romantisme dan kesetiaan cinta Bapak dan Bu Itje, dibikin takut oleh Satya, dan dibikin kagum oleh Rissa.


Filmnya memang ngga sempurna. Akting semua tokoh anak-anaknya -- Satya dan Cakra kecil, dan apalagi Ryan dan Miku -- yang super duper bikin frustrasi, serta kualitas gambar (beberapa stock shot Eropa) yang kurang baik, mungkin membuat pengalaman menontonnya menjadi berkurang. But hey, gue ga terlalu terganggu akan hal itu. Karena buat gue, selama filmnya bisa bercerita dengan baik dan bisa menyampaikan rasa ke penontonnya, gue sudah senang.  

4 comments:

  1. Overall, worth to watch, Kan ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti ga baca sampe abis yaaaa :)))
      Filmnya bagus. Tapi pas nonton jangan dibandingin sama buku aja, karena memang beda fokus cerita :)

      Hapus
  2. Kania keren ih reviewnya, looks like an expert!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aww, dibaca sama travel blogger kondang :o
      Thanks, Rif! Hahaha :))

      Hapus