Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

12.7.16

, , , , , , , , , ,

Review: ILY from 38.000 FT (Asep Kusdinar, 2016)

Share

ILY from 38.000 FT adalah film kedua Screenplay Films tahun ini. Padahal baru di awal tahun Screenplay merilis London Love Story, yang sejauh ini masih nyaman duduk di kursi no. 5 perolehan penonton terbanyak sepanjang 2016. Berharap mengulang kesuksesan? Pastinya. Baru seminggu tayang saja mereka sudah mendapatkan 523rb penonton lebih dari ILY from 38.000 FT. 

Film ini bercerita tentang Aletta (Michelle Ziudith), seorang gadis berdarah biru yang menolak dijodohkan oleh Eyang-nya, dan memutuskan untuk kabur ke Bali. Tak sengaja, ia bertemu dengan Arga (Rizky Nazar) di pesawat, di mana Arga "menyelamatkannya" dari gangguan penumpang resek yang kebetulan duduk di sebelah Aletta. Belum lagi setelahnya Aletta diantarkan hingga ke depan penginapannya oleh Arga. Jatuh cinta pada pandangan pertama lah ia. Apakah mereka akan bersatu semudah itu? Tentu tidak.. Karena selain Arga ternyata adalah tipe pria pemalu, ada banyak masalah lain yang selalu saja siap menjegal mereka sepanjang perjalanan. Lyfe.


Sejujurnya, gue tadinya sama sekali tidak berniat menonton ILY from 38.000 FT ini, karena gue tidak sanggup menonton London Love Story hingga selesai. Saya pusing dengan cerita yang bolong dan banyaknya dialog-dialog yang tweetable, hingga lama-lama bikin eneg. Tapi kemudian gue menonton Magic Hour (film pertama Screenplay yang tayang tahun lalu dan juga jadi box office, red.), dan gue melihat ternyata Rizky Nazar cakep juga dan aktingnya pun oke. Padahal tadinya gue kira dia penyanyi dangdut. Peace. Jadi, mungkin masih ada harapan untuk saya bisa bertahan di film terbaru mereka ini.

Lantas, bagaimana filmnya?

Awalnya gue cukup menikmatinya. Candaannya cukup bisa bikin ketawa, adegan romantis-romantisnya pun cukup unyu, mengingatkan masa muda -- halah. Bahkan, sikap Aletta yang berlebihan tanpa motif sehingga membuat ia jadi terlihat seperti orang sugar rush aja masih bisa gue terima. Tapi... Setelah adegan malam pertama di kemah, gue jadi merasa, kok kayaknya banyak adegan yang ngga lulus sensor LSF, hingga gue ga bisa memahami jalan ceritanya ya? Jangan-jangan, ada "sesuatu" yang terjadi antara Aletta dan Arga di dalam kemah malam itu, hingga Aletta segitu cintanya sama Arga, dan Arga yang pemalu dan super cool itu mendadak bisa dengan mudahnya bilang "suka dan sayang, tapi belom cinta" sama Aletta. Jeng jeng. 

Sisa film setelah adegan tersebut seakan-akan di-shoot oleh dua orang yang berbeda, dalam waktu yang berbeda, ngga ada skrip, dan editornya pun ngga pegang skrip pas ngedit. Jadi kayak ngga ada yang tau mau dibawa ke mana film ini, gitu. Karena banyak banget adegan di mana Aletta ngomong apa, disautin apa sama Arga, dan sebaliknya. Banyak juga adegan yang mendadak ada, tiba-tiba emosi sudah memuncak, tapi ngga ada yang tau apa yang terjadi sebelumnya yang menyebabkan kemunculan emosi yang memuncak itu. 


Dari segi akting pun ngga ada yang menolong, kecuali Rizky Nazar yang berperan sempurna sebagai cowok cool pemalu yang sulit mengungkapkan rasa cintanya pada gadis impiannya. Cool-nya effortless gitu, mengingatkan gue akan Rio Dewanto di zaman FTV dulu. Sebagai leader in the group ia berhasil menunjukkan wibawanya, ketika marah ia cukup menakutkan, ketika romantis ia berhasil bikin penonton cewek baper barbar, seperti "tagline" yang dibawa ILY 38.000 FT selama mengkampanyekan filmnya.

Sementara Michelle Ziudith, I've seen better from her, seperti di Remember When misalnya. Ketika ia ngga perlu teriak-teriak, sok imut, sok manis, and just be a normal and loveable girl. Tanta Ginting? Gue ga tau apa yang terjadi dengan 3 penghargaan yang telah ia terima sebelumnya, tapi di ILY from 38.000 FT ini dia jelek banget. Marah-marah ga jelas dan basically over the top in every aspect. Derby Romero yang berperan sebagai Rimba (namanya bagus, btw), juga sebenarnya cukup baik memerankan sosok cowok cool-romantis gitu, tapi sayang, karakter tersebut sudah di-own sama Arga, sehingga ia kalah spotlight. Dan terakhir, Ricky Cuaca yang hadir sebagai laugh-maker juga cukup menghibur di tengah kepusingan gue sama cerita dan dialognya yang bolong-bolong kayak sundel bolong.


Here's the thing. I used to watch every episode of Love in Paris -- sinetron favorit gue di SCTV dulu -- dan bahkan gue menontonnya lagi di Youtube sambil mencatat dialog-dialognya yang menurut gue bagus. Tapi gue ngga tau apa yang terjadi dengan Tisa TS, sang penulis skrip ILY from 38.000 FT yang juga menuliskan skrip Love in Paris, tapi di film ini Tisa ngaco banget. Karakter tokoh-tokohnya ngga punya basis (terutama Aletta), hingga dia bisa bertindak semaunya dan berubah-ubah, tergantung suasana hatinya. Jadi kayak ngga ada yang nge-guide dia untuk stay on track dan juga membentuk dia sebagai sesosok manusia yang believeable. Belum lagi dialog-dialognya. It's like Tisa was trying TOO hard to make tweetable dialogues, sehingga bukannya unyu, malah bikin gue mengernyit karena dialog-dialog itu terasa benar dipaksakan ada -- untuk ditwit. 

Namun yang menurut gue paling krusial adalah jalan dan logika ceritanya. Gue sadar betul kalau film cinta-cintaan remaja akan selalu menggunakan "formula" yang sama dan cenderung tidak terlalu kompleks. But that's fine, karena ketika menonton film remaja, kita memang diajak untuk haha-hihi dan ber-aww-aww ria saja. Tapi bukan berarti karena ceritanya yang ketebak itu, sang penulis skrip bisa membuat cerita yang asal-asalan, melupakan logika berpikir, dan lupa bahwa ia harus bercerita kepada penonton. It doesn't have to be perfect, tapi penonton berhak mengerti atas apa yang mereka tonton, se-cheesy dan se-predictable apapun ceritanya. 

Karena ngga mungkin kan, Beauty bisa jatuh cinta sama Beast tanpa kita tahu apa penyebabnya, atau Sang Pangeran rela ke sana kemari mencari sang pemilik sepatu kaca jika tidak ada penyebab jelas akan apa yang membuat Cinderella begitu memikat hatinya?

4 comments: