Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

29.12.15

, , , , , , , ,

Review: Ngenest The Movie (Ernest Prakasa, 2015)

Share


Baru kelar nonton Ngenest The Movie sekitar dua jam yang lalu, dan sekarang review-nya udah jadi. Tanda apa? Tanda gue terinspirasi dan excited banget.

Sejujurnya, gue ga ada ekspektasi apapun terhadap film ini. Gue bahkan ga tau ini film tentang apa. Pemikiran awal gue, yaaah ini paling akan jadi another so-so movie. Tapi gue salah besar. Salah sesalah-salahnya. Ngenest The Movie instantly jadi film terfavorit gue tahun ini. Akhirnya, setelah menunggu 12 bulan, ada juga film Indonesia yang bener-bener bagus, bener-bener gue suka, bener-bener ngena di hati, dan bisa bikin gue se-excited ini.

Ngenest The Movie diangkat dari buku trilogi Ngenest, yang merupakan kisah nyata dari penulisnya, Ernest Prakasa. Film ini pun ditulis skripnya, disutradarai, dan diperankan sendiri oleh Ernest Prakasa himself. Bercerita tentang Ernest, seorang Cina tulen yang bercita-cita untuk punya istri pribumi. Alasannya sederhana: ia lelah di-bully “Cina, Cina” mulu dari kecil, dan ingin mengakhiri “garis pem-bully-an” tersebut. 

Siapapun yang besar di keluarga Cina (atau di lingkungan Cina) akan mengerti “keinginan sederhana” Ernest ini. Isu yang disampaikan Ernest ini sebetulnya sensitif (isu tentang ras gitu lho), tapi Ernest berhasil membungkusnya dengan sangat baik, sehingga waktu nonton kita ngga perlu mengernyit ataupun mikir sampai kepala pusing, karena penyampaiannya penuh canda dan tawa. 

Hal lain yang gue suka banget adalah gimana Ernest menggambarkan segala atribut ke-Cina-annya. Kalo ke-Cina-an Jody di Filosofi Kopi adalah hal-hal berbau stereotype, maka semua elemen ke-Cina-an Ernest di Ngenest dipaparkan dengan apa adanya. Dan itu bikin yang Cina bisa relate dan menertawakan Ernest (serta diri mereka sendiri), sementara yang bukan Cina bisa melihat Cina yang sebenarnya atau yang non-stereotype itu seperti apa.

Intinya, gue sukaaaaaa banget sama Ngenest The Movie. Komedinya kena, dramanya kena, romance-nya pun kena. Gue suka cara penceritaan Ernest, ngelawak, tapi sarat makna. Ernest berhasil membangun ritme cerita dan emosi penonton dengan sangat baik. Pelan-pelan dikeluarin, dibikin panas, sampai akhirnya kita dibawa ke titik klimaks. Waktu lucu ya kita ketawa ngakak, waktu sedih ya kita nangis, waktu unyu ya kita ber-“aww.. aww” ria. Sebuah pencapaian mengagumkan dari seorang sutradara debutan yang bahkan ngga punya basic penyutradaraan sama sekali.

Dari departemen akting, Ernest sebetulnya tidak terlalu istimewa sebagai aktor. Tapi sebagai sutradara, ia berhasil mengarahkan seluruh pemainnya dengan sangat luar biasa. Mulai dari yang kecil, yang tua, pemain utama, pemain pendukung, hingga yang numpang lewat doang, semua bermain bagus sekali. Natural dan meyakinkan. Lucu pada tempatnya dan pas momennya.

Special mention buat Morgan Oey yang jadi Patrick, sahabat Ernest, dan Lala Karmela, yang jadi Meira, istri Ernest. Morgan semakin mengukuhkan namanya di blantika perfilman Indonesia, karena sejak Assalamualaikum Beijing, ia konstan memberikan penampilan yang memukau dan bikin gue semakin ngefans. Sementara Lala Karmela yang lebih dikenal sebagai penyanyi, secara mengejutkan juga bisa berakting! Dan bagus! Ia tampil sangat natural dan chemistry-nya dengan Ernest pun mungkin bisa bikin Meira asli cemburu.

What a great way to end 2015. Thank you, Ernest. Ngga banyak lho yang bisa menghasilkan film sebagus ini di debut penyutradaraan dan penulisan skenarionya. Tapi Ernest bisa. Gue hanya berharap semoga Ernest mempertahankan prestasinya dan mengulanginya lagi di film-film berikutnya, karena ia sangat menjanjikan sebagai seorang sutradara. 

Semoga filmnya laku. Amin! Karena menurut gue, film ini sangat pantas untuk laku. Ayo ditonton filmnya, Ngenest The Movie, mulai 30 Desember 2015 di bioskop-bioskop kesayangan Anda! Dijamin bakal bikin lo happy and smiling from ear to ear setelah selesai nonton filmnya. Ga sabar untuk nonton lagi!

13 comments:

  1. gan/sis kira kira dibandingin film single nya raditya dika bagusan mana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum nonton Single, jadi ga bisa bandingin sih, hehe. Tapi saran saya, tonton ini deh. Beneran. Saya betul-betul ga nyangka kalo Ngenest ternyata sebagus itu. Lucu, tapi juga ada makna di dalamnya :)

      Hapus
    2. Kalo dibandingin sama Single untuk segi komedi,film ini bisa ngalahain Single,karena genre komedi di Ngenest sangat natural dan enggak dibuat - buat kayak film yang lain.

      Hapus
  2. Salah loe kaget sm lala yg bisa akting.
    Lala kan awalnya pemain sinetron. Cuma kurang tetkenal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tau kok. Dia dulu pemain sinetron, ga terkenal, pindah ke luar negeri, balik sini lagi jadi penyanyi. Tapi dulu memang ga pernah liat aktingnya waktu jadi pemain sinetron :)

      Hapus
  3. Saya sebagai seorang Chinese-Indonesia merasa film ini tidak bisa mencerminkan bagaimana "penderitaan" seorang Chinese yang tinggal di Indonesia karena Ernest di sini bisa digolongkan sebagai Chinese minoritas dari etnis Chinese-Indonesia yang sudah minoritas di Indonesia (minoritas dari minoritas, ironis sekali bukan?). Karena Ernest sejak kecil disekolahkan di sekolah negri, jadi sama sekali nggak aneh kalau dia sampai di-bully oleh pribumi dan akhirnya membangun mental "ingin menjadi pribumi" agar tidak di-bully lagi. Sedangkan majoritas anak-anak Chinese-Indo disekolahkan di sekolah swasta oleh orang tuanya untuk menghindari pem-bully-an atas dasar rasis ini. Jadi nggak semua Chinese-Indo yang menonton film ini bisa mengaitkan dirinya dengan tokoh Ernest karena pada realitanya sangat sedikit Chinese-Indo yang menjalani kehidupan seperti Ernest.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, that's why si penulis bilang Ernest nampilin masalah dengan apa adanya dan dengan caranya sendiri.

      Hapus
    2. Saya tidak setuju dengan pernyataan ini di artikel di atas:

      "Siapapun yang besar di keluarga Cina (atau di lingkungan Cina) akan mengerti “keinginan sederhana” Ernest ini."

      Karena tidak semua orang yang besar di keluarga Chinese bisa relate dengan keinginan Ernest ini.

      Hapus
    3. Pembullyan tidak terjadi hanya di sekolah. Saya Cina juga, dan dulu sekolah swasta (Katolik) yang mayoritas Cina. Tetapi, sering kali pergi dan pulang sekolah dicegat oleh anak-anak kampung. Paling sering diolok olok: "Cina makan babi!", "Apa kamu lirik-lirik, dasar Cina!" Dikeroyok, diancam mau disilet, sudah biasa. Tetapi saya tidak punya keinginan untuk menjadi pribumi. Saya kawin dengan Cina juga. Asimilasi itu mengalir sendiri sampai saya menemukan identitas saya sendiri, seperti banyak Orang Cina segenerasi saya (kira2 10 tahun lebih tua drpd Ernest) yaitu Cina Indonesia yang hybrida. I am so lucky to have the best of both worlds!

      Hapus
  4. nanya dong, pemeran cewe yg pake jilbab pas si ernest pengen refund eh ternyata batal sapa ya? (temen nya meira yg ngucapin assalamualaikum)

    BalasHapus
  5. pertengahan ke belakang udah ketebak jln ceritanya boring, but okelah buat ton2an bareng tmn2

    Download Film Warcraft

    BalasHapus