Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

14.11.15

, , , , , , , , , ,

Review: Badoet (Awi Suryadi, 2015)

Share

Badoet sudah menarik perhatian gue sejak teaser poster dan trailer-nya keluar. Film ini keliatan dibikin sungguh-sungguh, bukan sekedar horror ala-ala. Dan nama Awi Suryadi bukanlah nama sembarangan. Some of his movies were outstanding (although some are not), sebut aja Claudia/Jasmine, I Know What You Did on Facebook, dan yang terakhir yang gue suka banget: Street Society

Tahun ini, dia kembali bikin horror. Badoet judulnya. Ceritanya cukup simpel, standar horror pada umumnya, tentang arwah lepas yang ingin balas dendam. Tapi, hantunya bukanlah hantu berbaju putih seram ataupun hantu-hantu yang sering tampil di film-film kita. Hantunya berupa badut, sosok yang mungkin disukai banyak anak kecil, tapi juga ditakuti tidak sedikit anak kecil lainnya.

Cerita berawal ketika Vino menemukan sebuah kotak musik usang di sebuah pasar malam. Terhanyut oleh suara yang keluar dari dalamnya, Vino membawa pulang kotak musik itu dan memperlihatkannya ke teman-temannya. Hanya sehari setelah kotak musik itu mulai mengalunkan melodi yang menghipnotis, satu per satu teman Vino meninggal. Anehnya, semuanya memiliki satu kesamaan: mereka jadi hobi menggambar badut, dan mereka meninggal setelah pergi ke pasar malam. Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa mereka meninggal? Tonton sendiri di bioskop untuk mengetahui jawabannya ya.


Secara keseluruhan, Badoet memenuhi ekspektasi gue. Filmnya betul-betul horror. Mencekam tanpa perlu hantu berpenampakan seram, menakutkan tanpa perlu gelap-gelapan, dan mengagetkan tanpa perlu suara yang berlebihan. Film ini dibuat dengan serius, dikemas dengan menarik sehingga tetap tampil cantik dan artistik. Bahasa kerennya, production value-nya oke punya.

Tapi sayangnya, Badoet masih lemah dalam penceritaannya. Masih banyak plot hole – yang sebenarnya tidak akan terlalu jadi masalah jika akting para pemainnya meyakinkan. Masalahnya adalah, aktingnya tidak meyakinkan, terutama para pemain dewasanya. Ketika para bocah berakting sungguh-sungguh, si kakak-kakak dan tante-oom ini malah berakting ya… begitulah. Tapi, malah kakak-kakak dan tante-oom ini yang mendapat credit di poster, sementara anak-anaknya engga. Huft. Eh tapi, kredit khusus untuk Ronny P. Tjandra yang berperan sebagai Sang Badut. He’s creepy and soooo into the character. Great job, Om Ronny.

But overall, menurut gue Badoet sangat layak ditonton, malah harus ditonton. Udah lama ga nonton film horror yang kayak gini. Beneran menakutkan, mengagetkan, dan mencekam, tanpa bumbu-bumbu ngga penting. Good job, Awi Suryadi.

4 comments:

  1. Aaaakkk kudu sempet nonton nih film. Akhirnya nemu juga blog tentang film. Harus belajar banyak dari blog yang satu ini tentang bagaimana caranya mereview sebuah film. Blog gue juga tentang film, loh =) *promo*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Yosfiqar! Thanks udah mampir dan udah baca review gue yaa :)
      Ayo ditonton Badoet nya sebelom turun dari bioskop! :D

      Hapus
  2. Hai all, ada promo baru nih dengan bayaran lumayan, cukup posting atau tulis review Anda akan mendapat bayaran tanpa batasan. Semakin banyak Anda posting atau menulis review maka semakin besar bayaran yang Anda terima. Untuk informasi lebih lanjut silahkan cek link ini ya guys: http://casinofounder.com/promosi/?lang=id


    BalasHapus