Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

14.11.15

, , , , , , , ,

Review: Air Mata Surga (Hestu Saputra, 2015)

Share

Mungkin agak telat ya, me-review film ini setelah hampir sebulan tayang, udah dapet 355ribu penonton lebih, dan asyik nangkring di posisi ke-6 box office Indonesia tahun ini. Tapi gapapalah ya, daripada ngga sama sekali.

Jadi, Air Mata Surga tayang berdekatan dengan Ayah dan Sebuah Lagu Untuk Tuhan. Entah mengapa, ketiga film ini memiliki tone poster yang sama. Sendu. Dan kelihatannya, ketiga film ini juga sama-sama pilu, pedih, dan bakalan menguras air mata penontonnya. Tapi, berhubung Air Mata Surga tayang duluan, gue jadinya nonton dia duluan (dan yang dua lainnya jadi ga gue tonton, haha).

Air Mata Surga bercerita tentang perjalanan hidup Fisha (Dewi Sandra), seorang mahasiswi S2 di Jogja cantik, baik hati, dan sholehah. Ia ditaksir sahabatnya yang juga ganteng, baik hati, dan sholeh, Hamzah (Morgan Oey) namanya. Tapi apa daya, cinta Hamzah bertepuk sebelah tangan. Singkat cerita, Fisha yang lagi sibuk bikin thesis mendapatkan seorang dosen pembimbing bernama Doktor Fikri (Richard Kevin), yang ternyata masih muda, ganteng, kaya raya, dan Maha Santri pula. Jatuh cinta lah mereka pada pandangan pertama, dan kemudian menikah. Apa daya, pernikahan yang mestinya barokah ini tidak mendapat restu dari Ibunda Fikri (Roewina), karena Fisha bukan berasal dari keluarga ningrat. Mungkin tulah, mungkin takdir, pernikahan mereka mendapat banyak sekali guncangan. Fisha hamil dua kali, dan dua kali-dua kalinya keguguran. Tidak cukup sampai di situ, Fisha pun ternyata mengidap kanker! Jeng jeng.

Dari sinopsisnya saja kita sudah menebak bahwa Air Mata Surga adalah film yang melelahkan. Film yang sudah jatuh, ketimpa tangga pula. Dan semestinya, film ini bisa menjadi sumber air mata dan isak tangis penontonnya. Tapi ternyata, film ini tidak berhasil mewujudkan keinginannya tersebut.

Satu, karakter utama wanitanya tidak bisa membuat penonton bersimpati. Dewi Sandra yang dua kali keguguran dan terkena kanker rahim tidak berhasil membuat gue kasihan sama dia, sodara-sodara. I don't know why. Dia terlihat tidak meyakinkan, tidak menghidupi perannya, dan terlihat terlalu berkating. Ia terlihat sangat berusaha tampil bubbly, ceria, polos, lovely, dan itu semua terlalu... berusaha. Karakter yang tidak simpatik itu diperburuk dengan cerita yang diberikan kepadanya. Yakali bro, nyuruh sahabat sendiri nikahin suaminya. Udah ngasih bekas, nyakitin sahabat plus suaminya pula. Sahabat dan istri macam apa itu. 

Dua, karakter utama prianya pun tidak meyakinkan. Sama seperti Dewi Sandra yang terlihat terlalu berusaha, Richard Kevin pun sama. Ia terlihat terlalu berusaha tampil sebagai Don Juan yang ganteng, kaya, dan baik hati. Saking terlalu berusahanya, lagi-lagi ia malah gagal mewujudkan apa yang seharusnya muncul dari karakternya. Penonton seharusnya mengasihani Richard Kevin ketika ia gagal menjadi Ayah dan ketika ia dipaksa menikah dengan sahabat istrinya sendiri, padahal ia tidak mau. Tapi, ini engga tuh.

Tiga, karakter yang aktingnya meyakinkan malah tidak mendapatkan porsi yang layak. Setelah mencuri perhatian di Assalamualaikum Beijing, Morgan Oey kembali menunjukan pesona dan kemampuannya di Air Mata Surga. Ia bukan cuma tampil meyakinkan, tapi ia pun berhasil menghidupi karakternya dengan sangat baik, sebagai seorang sahabat yang cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi tetap ikhlas ketika orang yang dicintainya itu memilih orang lain. Dan harusnya, Morgan mendapat porsi cerita yang lebih banyak. 

Menurut gue, Air Mata Surga gagal karena poin yang sangat krusial: para aktor dan ceritanya. Kalau saja akting para pemainnya bisa lebih meyakinkan dan bisa menarik simpati penonton, ceritanya yang tidak simpatik itu tetap bisa membuat penonton simpatik kok, seperti Surga Yang Tak Dirindukan misalnya. Padahal, production value-nya oke lho. Sayang, oh sayang.

1 comments:

  1. bener banget gan...eke nonton sama sekali ga kebawa suasana. ga ada greget. over akting. sama kaya film air mata fatimah..pesan bagus yg tersirat di cerita jd ga sampe ke penonton karna akting artis dan jalan ceritanya...
    surga yg tak drindukan pemainya bagus tp ceritanya aneh,,,moso nikahin org tanpa pikir panjang hnya untuk mencegah bunuh diri.emang ga ada cara lain?pake janji nikahin. disitu sbenernya memiliki pesan yg ga bagus. apa lelaki taat agama hrus seperti itu menghadapi masalah yg terjadi sprti di film. ga mikirin perasaan istri..idih benci sama poligami

    BalasHapus