Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

7.8.15

, , , , , , , , , , , ,

Review: Lamaran (Monty Tiwa, 2015)

Share

Sebelumnya, gue mau minta maaf karena telat banget nge-review ini, padahal nontonnya udah dari hari pertama tayang, hahaha.

***

Akhirnya setelah dua bulan ngga ada film Indonesia yang bagus dan sebulan kemarin film Indonesia juga vakum dari layar lebar, musim box office Indonesia a.k.a film lebaran tayang juga. Dan film lebaran pertama yang gue tonton adalah Lamaran, bikinan Rapi Films yang disutradarai Monty Tiwa.

Lamaran bercerita tentang Tiar (Acha Septriasa), seorang pengacara yang mendadak terkenal karena  "keberaniannya" memegang kasus besar yang berbahaya. Padahal, itu semua terjadi tanpa sengaja. Karena kasus besar ini pulalah, ia jadi "dilindungi" oleh dua super agent konyol, Ari (Arie Kriting) dan Sasha (Sacha Stevenson). Dua super agent ini pun kemudian merekrut Aan (Reza Nangin), sang resepsionis kantor yang memang sudah jatuh hati pada Tiar, untuk melindungi Tiar dari jarak dekat. Dari sinilah semua komedi dan kekonyolan bermula.

Seperti karya Monty sebelumnya, Aku, Kau, & KUA (yang gue suka banget itu), Lamaran juga rame dan heboh. Pemainnya banyak, ceritanya juga cukup kompleks untuk ukuran romcom seperti ini. Walaupun demikian, Monty tetap bisa mengarahkan semua pemainnya dengan sangat baik, sehingga tidak ada satupun yang menutupi yang lain. Semuanya tampil sesuai porsinya, dan menghibur sesuai porsinya juga.

Reza Nangin surprisingly bisa nge-blend sama Acha dengan sangat baik. Chemistry awkward mereka dapet banget, dan Reza bermain sangat baik sebagai Aan, pemuda Sunda polos yang baik hati. Sementara Acha, bersinar sebagai orang Batak yang somehow agak nyeremin ketika dia teriak-teriak. Pemain pendukung lainnya, seperti Arie Kriting dan Sacha Stevenson, kompak banget bikin perut penonton terkocok-kocok. Sementara Mak Gondut dan Cok Simbara sebagai orangtua Tiar juga tampil tak kalah menghiburnya. Belum lagi Widowaty yang berperan jadi Ibu Aan, ngga kalah saing lah sama orangtua Tiar yang berisik. Belum lagi Ozzol Ramdan yang berhasil memberikan penampilan super komikal sebagai om Tiar yang over-posesif, matre, dan ngefans berat sama Tika Panggabean. Semuanya saling melengkapi dan semuanya sama-sama menghibur.

Sementara dari segi cerita, sebetulnya cerita Lamaran cukup berantakan. Ada beberapa plot yang bolong. Tapi karena paduan kehebatan Monty dan Acha, gue sampe ngga peduli sama plot hole itu karena akting Acha sebegitu bagusnya sehingga gue percaya sama semua emosi yang dia keluarkan. Keren lah Acha.

Overall, Lamaran berhasil memuaskan gue. Lamaran berhasil ngomongin topik yang berat soal perbedaan ras dengan cara yang ringan dan menghibur. Lamaran berhasil bikin ngakak, tapi juga berhasil bikin nangis. Sebuah film yang hangat dan dekat.

Btw, coba denger lagu ini deh. Ini lagu penutup Lamaran, dan bikin Lamaran jadi pesta yang benar-benar menyenangkan!

1 comments: