Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

8.6.15

, , , , ,

Review: Cabe-Cabean (Endri Pelita, 2015)

Share

Jadi ceritanya, gue sudah melihat trailer film Cabe-Cabean sejak tahun lalu. Katanya (kalo ngga salah inget), film ini mestinya tayang di bulan Mei atau Juni tahun lalu, saat cabe-cabean emang lagi hits-hitsnya. Tapi entah mengapa, film ini baru tayang Juni tahun ini, ketika cabe-cabean sudah tak lagi menunjukkan bijinya. #halah

Cabe-Cabean sendiri bercerita tentang tiga cewek cabe, Silvi (Ratu Intan), Indy (Ruby Susantyo), dan Suzan (Yuki Kato) yang sama-sama menyukai Derex (Cicio Manassero), jagoan balap bermuka datar yang katanya sih cool abitz gitu. Seperti bisa ditebak, persahabatan tiga cewek ini pun harus luluh lantak hanya karena cowok satu ini. Apalagi, Derex lebih memilih Suzan dibanding Silvi ataupun Indy.

Gue sama Indy udah siap jadi cabe. Tapi elo.. Elo engga, San! - Silvi

Ketika melihat trailer-nya tahun lalu, gue sangat bersemangat menantikan film ini (karena sebuah dialog singkat, norak, tapi sangat memorable dan membuat gue ngakak berkali-kali yang gue tuliskan di atas). Makanya, gue menunggu-nunggu jadwal tayangnya terus, dan terus bertanya, bertanya, dan bertanya.. Kapan ya film ini akan tayang? Dan kemarin ini, ketika akhirnya gue melihat jadwal tayangnya, gue girang bukan kepalang. Akhirnya tanggal yang gue tunggu-tunggu datang juga. 4 Juni 2015.

Eh tapi, ketika akhirnya gue menonton film ini di bioskop, gue kecewa banget sama Cabe-Cabean. You see, gue kangen sama film-film yang sangat absurd dan karena ke-absurd-annya itu, film tersebut bisa membuat lo tertawa terbahak-bahak dan terus membicarakan filmnya saking "hebatnya" film itu. Gue pikir, gue bisa mendapatkan itu dari Cabe-Cabean. Tapi ternyata... Cabe-Cabean dikemas dengan sangat biasa aja, layaknya film normal lainnya. Except.. Pengemasannya ngga menarik, membosankan, dan sok-sokkan dibikin rumit, bikin gue yang udah kecewa, jadi makin kzl nontonnya.

Ceritanya dibikin ala-ala multi-layer. Bukan cuma ada elemen cinta-cintaan dan persahabatan (yang bok ini aja udah ribet kan ya), pake ditambahin embel-embel balapan liar dengan motif yang ngga jelas, pencarian jati diri para cabe, hingga masalah keluarga (yang juga dikemas ala kadarnya banget). Hasil dari keruwetan ini bikin gue bingung. Ini film sebenernya mau bercerita tentang apa? Fokus ceritanya ngga kuat, disampaikannya pun scattered banget sampe gue ngga bisa menyambungkan benang merahnya. Alhasil, gue pun ngga peduli sama karakter maupun akhir dari ceritanya (yang mana sebenernya juga udah ketebak banget itu).

And don't get me on the acting side. Semua pemainnya ngga ada yang bisa akting -- kecuali Yuki Kato yang bahkan juga ngga membantu overall result-nya. Cicio Manassero datar parah, ngga terlihat meyakinkan sama sekali sebagai jagoan. Duo cabe lainnya juga cuma pasang muka jutek di sepanjang film, dengan harapan bisa jadi terlihat seksi (padahal mah meh). David John Schapps yang jadi Joe, kakaknya Suzan, walau cakep (dan ada adegan dia telanjang dada) sekalipun tetep ngga bisa mengubah muka masam gue jadi muka mesum. #eh

To summarize, gue kecewa. Sejak awal gue tau kalau film ini adalah film kacrut. Tapi tadinya, gue berharap film ini bisa jadi film kacrut yang menghibur. Namun kenyataan berkata lain.. Seandainya aja Endri Pelita dan istri membuat film ini dengan kekacrutan total, gue sangat yakin film ini bisa menjadi seperti Azrax yang diomongin banyak orang. Kacrut, tapi menghibur parah, dan memorable pastinya.

2 comments: