Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

21.5.15

, , , , , ,

Review: Tarot (Jose Purnomo, 2015)

Share

Walau telah dikecewakan oleh Rumah Gurita akhir tahun kemarin, sebagai penggemar film-film horor bikinan Hitmaker Studios, gue tetep menonton film terbaru mereka, Tarot.

Berbeda dengan film-film Hitmaker sebelumnya yang berangkat dari urban legend, Tarot sepenuhnya adalah fiktif belaka. Bercerita tentang sepasang calon pasutri, Julie (Shandy Aulia) dan Tristan (Boy William) yang tak sengaja bertemu dengan seorang pembaca tarot di sebuah taman bermain. Ternyata, pembacaan nasib mereka berjalan kurang mulus, karena mereka diramalkan akan kedatangan tamu dari masa lalu yang sudah meninggal, dan akan mencabut nyawa salah satu dari mereka. Jeng jeng. Ternyata, masa lalu yang sudah meninggal tersebut adalah Sofia (juga diperankan oleh Shandy Aulia), saudara kembar Julie yang buruk rupa dan bunuh diri karena merasa dunia tidak adil padanya. Seperti biasa, mereka mencoba untuk tidak percaya, tapi apa daya, mereka bermain dalam film horor yang mengharuskan mereka dikejar-kejar oleh hantu dong pastinya.

Adegan opening Tarot sempat menciutkan harapan gue akan sesuatu yang lebih baik dari Rumah Gurita. Dengan tone warna oren-oren bikin sakit mata seperti yang ditampilkan di Rumah Gurita, plus adegan cipokan antara Boy William dan Shandy Aulia, gue sudah nyaris berpikir bahwa Tarot akan jadi sama buruknya seperti pendahulunya. Tapi gue salah. Tarot kembali seperti film-film Hitmaker sebelumnya: simpel, cantik, minim penampakkan hantu, dan..... yang paling gue seneng adalah: tidak ada lagi suara-suara penanda kemunculan hantu yang menjadi pembeda antara Hitmaker dan PH-PH lainnya! Yes! Hitmaker Studios kembali ke formula film-film pertama mereka, dan gue senang.

Tapiiiiiiiiiiiiiii. Seperti film-film Hitmaker sebelumnya juga, Tarot tetap memiliki kekurangannya (or should I say it's their characteristics?). Jalan cerita logis, tapi tindak tanduk Shandy Aulia tidak pernah logis. Ia selalu tampil berani. Mau dikerjain setan kayak gimana seremnya, dia tetap bisa menjalani hidup seperti biasa: masak, mandi di jacuzzi, sampai tinggal di rumah sebesar itu sendiri. Luar biasa. 

Sofia (kiri) dan Julie (kanan)
Dan omong-omong soal Shandy Aulia, di sini ia bermain sebagai cewek kembar, di mana yang satu adalah Shandy Aulia yang cantik seperti biasa, dan satu lagi jadi cewek jelek yang terus jadi hantu. Surprisingly, penampilan Shandy aulia jauhhhhhhhh lebih asik saat ia memainkan perannya yang ke-2. Gue sangat menikmati Shandy Aulia berperan sebagai cewek depresi yang penuh dendam, terus pas akhirnya ia mendapatkan kebahagiannya, ia jadi norak. Shandy Aulia tampil total jadi cewek galak, posesif, obsesif, penuh dendam, dan penuntut. Dia cocok banget memerankan peran seperti itu, karena peran Shandy Aulia yang cantik dan pemberani sudah terlalu biasa, kawan.

Walau masih bereksperimen dengan hal baru di luar horor -- di Rumah Gurita kemarin ada banyak elemen romansa, sementara kali ini ada unsur aksi di dalamnya -- dan feel horornya juga jauh berkurang dibanding 308 atau Mall Klender, gue cukup puas dengan hasil akhir Tarot. Tapi, itu ngga menutup rasa penasaran gue kenapa pas sama Denny Sumargo, pegangan tangan aja jarang, tapi pas sama Boy William, mereka demen bener bikin adegan cipokan. Ada apa kah gerangan?

Jeng jeng.

2 comments: