Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

5.4.15

, , , , , ,

Review: Kampung Zombie (Billy Christian & Helfi Kardit, 2015)

Share

Gue bukan penggemar film zombie. Simply because film-film zombie selalu punya pattern yang sama: ada sedikit background story, lalu adegan berikutnya akan tentang dikejar, sembunyi, mencari bantuan, dikejar lagi, sembunyi lagi, dan begitu terus sampe tinggal satu (atau dua) orang doang yang selamat. Begitupun dengan Kampung Zombie.

Tapi ada alasan kenapa gue akhirnya memutuskan untuk menonton film ini. Satu, karena ini film Indonesia. Dua, karena ini film Indonesia pertama (yang gue tau) tentang zombie. Tiga, trailer-nya cukup menarik. Empat, gue penasaran liat El, apakah dia lebih baik dari kakaknya atau tidak.



10 menit pertama cukup menegangkan. Di luar dari dialog-dialog dan logic-nya yang masyaallah banget, tapi tegang-tegang dan feel terrorized-nya cukup berasa. Zombie-nya muncul satu per satu lalu bertambah banyak, dan itu cukup creepy buat gue. Tapi setelah opening title muncul, meh. Gue bosen. Pattern yang sama tadi terus berulang. 70 menit sisanya, gue menunggu-nunggu kapan film ini selesai. 70 menit sisanya, isi adegan dalam film ini cuma 5 sekawan ketemu zombie, mereka dikejar, mereka sembunyi, ada yang mati, mereka melawan, mereka dikejar lagi, ada yang mati lagi, mereka sembunyi lagi, dan begitu terus aja sampe akhirnya you-know-who berhasil menyelamatkan diri. Capek nontonnya. Pemain capek, penonton juga capek.

Kampung Zombie sebetulnya menawarkan sesuatu yang cukup baru dan menarik dalam dunia per-zombie-an. Di Kampung Zombie, zombie-nya bukan cuma mayat idup yang kelaparan. Di Kampung Zombie, zombie-nya bisa melakukan kegiatan rumah tangga seperti membersihkan gabah, menyapu, menuang air, dan menyeduh teh/kopi. Zombie-zombie di sini juga bisa berantem kayak petinju, bisa mencekik orang, mereka bisa melawan, sekaligus bertahan. Tapi bukan itu saja yang menakjubkan, ada satu zombie di sini -- kita sebut saja Madam Zombie -- juga memiliki nafsu birahi! HAHA! Di Kampung Zombie, zombie-nya seolah masih punya sedikit "hati", seolah-olah mereka sebetulnya masih ingin jadi manusia, tapi mereka terpaksa harus menjalani hidup sebagai zombie

Tapi sayangnya, konsep zombie yang menarik ini tidak benar-benar digarap serius. Kelakukan zombie-zombie yang tidak seperti zombie-zombie pada umumnya ini tidak diberi background story yang cukup, sehingga membuat Kampung Zombie terlihat payah dan tidak memiliki dasar cerita -- let alone script -- yang kuat. Ada zombie yang bisa mengendus bau manusia, ada yang tidak. Ada zombie yang jadi "melewati" manusia karena si manusia menahan nafas, ada yang bisa "melewatinya" begitu saja walau sang manusia tetap bernafas. Ada juga yang sekali panah langsung mati, ada yang perlu digabruk berkali-kali baru mati. Tidak konsisten.

If only.. If only Kampung Zombie bisa memberi background story yang cukup... aja, maka segala kebodohan dialog dan adegan aksi yang mereka lakukan bisa dimaafkan. Nonton jadi bisa lebih enjoy, dan bukan ngga mungkin Kampung Zombie bisa jadi pionir yang bagus untuk film-film zombie Indonesia berikutnya.

0 comments:

Posting Komentar