Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

12.4.15

, , , , , , , , , , ,

Review: Filosofi Kopi (Angga Dwimas Sasongko, 2015)

Share

Film Filosofi Kopi bercerita tentang dua sahabat, Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) yang membangun kedai kopi bersama. Kalau Ben didasari obsesi dan kecintanya akan kopi, sementara Jody ikutan karena cuan (baca: duit). Ben dan Jody memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Kalau Ben anaknya main hati banget, sementara Jody pake otak banget.

Masalah muncul ketika mereka dikejar-kejar debt collector sementara duitnya ngga ada. Jody yang mengurus keuangan menawarkan beberapa opsi kepada Ben, tapi Ben sangat sombong, tak mau berkompromi, dan menolak semua tawaran Jody. 

Secercah harapan muncul ketika ada seorang Bapak kaya yang menantang Ben untuk membuat kopi terbaik di Jakarta, dengan imbalan uang 1 Miliar rupiah. Tergoda dengan hadiah uang dan merasa harga dirinya tersakiti, Ben pun menerima tantangan itu. Hari demi hari Ben lalui dengan berbagai eksperimen, hingga akhirnya ia berhasil meracik kopi terbaik di Jakarta. Ben senang, Jody apalagi. Akan tetapi, euphoria itu terhenti ketika El (Julie Estelle), seorang pakar kopi yang bersertifikasi internasional bilang bahwa Ben's Perfecto -- kopi terbaik bikinan Ben -- bernilai "not bad" saja, dan bahwa ia pernah mencoba kopi yang jauh lebih enak bernama Kopi Tiwus. Merasa tak terima, Ben mencari "pemilik" Kopi Tiwus untuk membuktikan kebenarannya. Tanpa disadari, perjalanan ini kemudian juga menjadi perjalanan Ben kembali ke masa lalu.

Iyee.. Kita buka 24 jam. Biar kayak Starbucks. - Ben
Berhubung faktor terbesar yang menarik perhatian gue tentang film Filosofi Kopi adalah segala marketing effort mereka -- yes aktornya ganteng-ganteng, tapi bukan mereka alasan utama gue penasaran banget sama film ini -- maka gue akan terlebih dahulu membahas cara mereka berpromo.

Rasa-rasanya ya, ini film Indonesia pertama yang promonya se-massive dan se-integrated ini. Selain itu, mereka juga serius banget menggarap digital mereka, dan gue salut untuk itu. Mereka bikin mobile apps, ajak user partisipasi. Mereka juga bikin kafe benerannya, bikin mobil keliling, bikin campaign on the road, dan bahkan sampe bikin workshop dan dateng ke kampus-kampus segala. Belum lagi iklan radionya yang bujubuneng sering banget. Gue bener-bener penasaran gimana impact promo sebesar ini ke angka penonton nantinya. Will it work?

Tapi yang gue sayangkan sebetulnya adalah, bagian terpenting dari film ini, the PoS (point of sales) materials-nya malah kurang digarap dengan baik. Poster dan trailer-nya kurang menjual menurut gue. Padahal itu adalah daya tarik terbesar dan terutama untuk penonton yang dateng ke bioskop dan ngga tau mau nonton apa. Karena kan ga semua orang update dengan film Indonesia terkini ya. Sayang banget.


Sementara untuk filmnya sendiri, it's a good movie. It's well made dan gue bisa melihat passion, cinta, dan totalitas para pembuatnya. But quoting El, "It's not bad. But I've tasted better," so have I. I've seen better from Angga. But Filosofi Kopi is definitely good and worth to watch, even twice. 

Bermodalkan cerita pendek Dewi Lestari yang berjudul sama, hats off untuk penulis skripnya, Jenny Jusuf. Di tangan Jenny Jusuf dan Angga Sasongko, Filosofi Kopi menjelma menjadi novel-to-film terbaik karya Dewi Lestari. Pengembangan cerita dan karakter-karakternya solid banget. Dramanya pas dan bahkan ada selipan komedi yang bikin ngakak gila di beberapa scene. Setiap karakter juga punya background cerita yang menjawab pertanyaan "why" dari segala tindak tanduk mereka. Background ini bikin ceritanya jadi punya banyak layer

Tapi justru karena hal itu juga lah, beberapa bagian jadi terasa too much. Ada bagian -- terutama di pertengahan film -- yang menurut gue ngga perlu diekspos sepanjang itu. Ada beberapa tokoh yang ngga perlu diberi background cerita sedalam itu (misal: masa lalu El dan Tiwus). Bagian-bagian yang kepanjangan itu bikin emosi yang tadinya udah naik banget, jadi harus turun lagi karena gue jadinya malah kebosanan. 

Untungnya, karakter dan cerita yang udah susah payah dikembangin Jenny itu berhasil dimainkan dan dibikin hidup dengan sangat baik sekali oleh dua aktor utama kita, Chicco Jerikho dan Rio Dewanto. Chemistry mereka oke banget, beneran kayak bros yang udah sahabatan dari kecil. Tektokannya dapet, emosinya dapet, marah-marahnya dapet, dan penggambaran perbedaan karakter mereka kentara banget. Ben nyebelin, sementara Jody yang walaupun kerjaannya seringan marah-marah mulu, tapi tetep loveable

Selain Chicco, Rio, dan Julie (yang biasa aja btw), banyak juga pemain lain yang hanya tampil sebagai cameo di film Filosofi Kopi. Ada Tara Basro, Baim Wong, Verdi Solaiman, dan juga Joko Anwar serta Tanta Ginting yang singkat banget penampilannya, tapi bener-bener mencuri perhatian. Selain itu, Slamet Rahardjo sebagai Petani Kopi Tiwus juga meneduhkan dan ngemong banget. Jadi ngefans gue.


Buat gue, Filosofi Kopi adalah film tentang tentang ambisi dan cinta. Ini juga film tentang otak dan hati, yang kalo kata Jody, "ngga bisa bersatu". Tapi Angga Sasongko sebagai sutradara punya keduanya, sehingga dia berhasil bikin Filosofi Kopi jadi Angga's Perfecto. Tapi kalau saja beberapa scene yang ngga terlalu penting itu dipotong, film Filosofi Kopi buat gue bisa jadi kayak Kopi Tiwus buat El. Bikin hati hangat dan jadi yang paling enak di Indonesia.


Filosofi Kopi, now brewing in theaters near you.

1 comments:

  1. salam pecinta film.

    permisi, saya mau promosi blog review film juga.

    [ iza-anwar.blogspot.com ]

    mohon tambahkan dalam daftar blog Anda dan follow serta like juga blog saya.

    maaf bila review saya masih amatiran dan saya ucapkan terima kasih sebelumnya :).

    BalasHapus