Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

20.1.15

, , , , , , , , , , ,

Review: Di Balik 98 (Lukman Sardi, 2015)

Share

Entah kapan terakhir kalinya gue menonton film Indonesia di hari pertamanya, dan satu studio full house dari depan ke belakang. Hal ini terjadi ketika gue menonton Di Balik 98. Entah apa yang membuat film ini begitu diminati; isu yang diangkat kah, berita-berita yang beredar beberapa minggu sebelum filmnya tayang kah, atau sesederhana Chelsea Islan penyebabnya. Tapi hal ini membuat gue senang, karena orang-orang jadi datang ke bioskop untuk menonton film Indonesia.

Di Balik 98 bukanlah film sejarah. Di Balik 98 adalah film fiksi yang menggunakan sejarah sebagai latar belakang ceritanya; bahwa ada kisah lain di balik kejadian Mei 98, selain apa yang menjadi sorotan utama media. Kisah yang tak terlalu penting. Kisah yang lebih "manusiawi". Kisah yang lebih dekat dengan masyarakat awam.

Ada Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William), pasangan kekasih beda nenek moyang yang masih berstatus mahasiswa, tapi aktif dalam kegiatan reformasi kemahasiswaan. Ada Salma (Ririn Ekawati), pegawai istana sekaligus kakak Diana dan suami Bagus (Donny Alamsyah), seorang tentara. Ada pula seorang gelandangan, Rachmat (Teuku Rifnu Wikana - you're awesome, man), dan anaknya yang tak terlalu banyak disorot ataupun diberikan kisah sedalam yang lainnya, tapi menjadi "background" yang mencuri perhatian.

Mugkin memang betul kata orang, "expectation kills". Jangan punya ekspektasi yang terlalu tinggi pada sesuatu/seseorang, karena ketika dikecewakan, rasanya lebih sakit. Dan... Gue punya ekspektasi yang sangat tinggi pada film ini. Di Balik 98 adalah salah satu film yang paling gue tunggu-tunggu tahun ini. Trailer-nya keren banget. Chelsea pun terlihat keren sekali di situ. Gue berharap penampilan dia di sini bisa mengobati kekecewaan gue akan penampilannya di Merry Riana. Tapi.. I was killed by my own expectation. 


Pertama: Chelsea Islan. Di awal, Chelsea oke, jelas lebih baik dibanding penampilannya di Merry Riana. Lukman Sardi sebagai sutradara bisa ngarahin dan "ngejagain" akting Chelsea dengan cukup baik. Tapi di akhir-akhir, kata-kata “OMG Chelsea, OMG Chelsea” yang muncul waktu gue nonton Merry Riana kembali hadir. Chelsea Islan jadi terlalu cepat bereaksi. Ketika belum seharusnya ia sesedih itu, bibirnya sudah bergetar-getar, tubuhnya pun demikian. Hasilnya, bukannya simpati, gue malah ber-“OMG Chelsea, OMG Chelsea”an. Tapi, adegan doi marah-marahin Donny Alamsyah luar biasa. Dia bisa bikin orang ngeri sendiri, ngebayangin gimana kalo mereka lah yang jadi Donny Alamsyah. Tapi hebatnya, Donny Alamsyah ngga bergedik sedikitpun. Dia menunjukkan kelasnya. Dia malah bisa membalas amukan Chelsea dengan teriakan yang tak sebesar Chelsea, tapi aura seramnya tetap terasa.

Kedua: Fokus cerita. Menurut sinopsis, Di Balik 98 adalah cerita tentang “sebuah keluarga yang tercerai berai dan sepasang kekasih yang terpisahkan”. Tapi... "Niat" ini ngga sampe ke gue. Menurut gue, bagian ini harusnya bisa dieksplor lebih dalam lagi. Gue malah lebih nangkep cerita soal kerusuhannya sendiri; demo yang mengerikan dan gila-gilaan, ketakutan sempurna Salma waktu terjebak di tengah kerusuhan, serta adegan-adegan yang menggambarkan kebimbangan Harmoko, Soeharto, dan Habibie (Agus Kuncoro as Habibie OMG. Sedih liatnya). Tapi lagi-lagi... Bagian ini juga nanggung. Terlalu banyak yang ingin diceritakan, sampai-sampai jadi bingung mau menaruh fokus di mana. Alhasil, selesai nonton pun gue berasa kentang banget.

But nevertheless, sebagai debut penyutradaraan layar lebarnya, menurut gue Lukman Sardi luar biasa. Dia bener-bener niat bikin set sedemikian rupa supaya feel tahun 98 masih terasa. Memunculkan aktor-aktor untuk mewakili tokoh-tokoh pada masanya (padahal kebanyakkan dari mereka ngga berdialog sama sekali), mobil-mobilan jadul, munculin tanker di jalan raya, beneran shooting di istana, sampe akses masuk dan "meramaikan Gedung DPR/MPR" segala. Belum lagi adegan demo, kerusuhan, serta penjarahan yang menjadi highlight terbesar dalam film ini. Gue sampe merinding dibuatnya, membayangkan betapa takutnya gue jika saat itu gue berada di sana. Luar biasa. Dan untuk poin ini, I highly appreciate Lukman Sardi dan tim Di Balik 98. Ditunggu karya-karya berikutnya, Mas Lukman!

0 comments:

Posting Komentar