Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

25.9.14

, , , , , , , , , , ,

Maia Estianty – Berperan menjadi mertua yang kolot di Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto

Share

Biasanya, orang hebat pasti pernah melalui cobaan yang berat pula. Sama seperti Tjokroaminoto. Selain melawan para penjajah dalam upayanya memajukan bangsa, siapa yang sangka bahwa di dalam rumahnya sendiri, ia memiliki masalah internal yang menguji hubungan rumah tangganya.

Pasca menikah dengan Soeharsikin (di Film Tjokro diperankan oleh Putri Ayudya), Tjokro muda tinggal bersama mertuanya yang merupakan seorang patih wakil bupati Ponorogo, Mangoensomo (diperankan oleh Sudjiwo Tedjo) dan istrinya (diperankan oleh Maia Estianty). Apa mau dikata, ternyata Tjokroaminoto berselisih visi dengan mertuanya yang masih kolot dan cenderung elitis. Tjokroaminoto yang lebih memilih untuk meneruskan kesukaannya akan dunia tulis menulis, tidak suka dipaksa menjadi birokrat oleh mertuanya yang notabene berasal dari keluarga bupati. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk meninggalkan rumah dan istrinya yang kala itu sedang mengandung anak pertama mereka.

Dibuat kesal oleh Tjokro yang tak mau mendengarkan mereka, mertuanya tambah geram karena ternyata putri kesayangan mereka, Soeharsikin, lebih memilih untuk ikut bersama Tjokro dan meninggalkan rumah orangtuanya.

Penasaran seperti apa akting Maia menjadi mertua yang kolot? Tunggu tanggal mainnya.

***

Trivia:
Tahukah Anda, Maia Estianty merupakan cicit dari HOS Tjokroaminoto lho.. Dan kalau bukan karena permintaan keluarga besar untuk main film tentang Eyangnya, ia tidak akan mau lho.. Karena pada dasarnya, Maia tidak suka berakting!

***

Shooting update: Ambarawa
Memfilmkan sejarah berarti para pembuatnya harus sangat memperhatikan detail, terutama detail waktu atau periode yang digunakan, karena tiap masa memiliki ciri khasnya sendiri, kan?

Seperti film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, yang memakai setting tahun 1890-1920an, membutuhkan setting zaman penjajahan Belanda dahulu, zaman di mana bahkan para pembuatnya belum lahir. Tingkat kesulitannya pasti lebih tinggi lagi. Mereka harus menyediakan mobil-mobil tua, membangun set sendiri, bahkan mungkin membuat sesuatu yang sudah tidak ada menjadi ada kembali, seperti trem-trem pada masa itu. Christine Hakim, Didi Petet, Sabrang Mowo Damar Panuluh, dan Dewi Umaya sebagai produser, serta Art Director pastinya bekerja sangat keras untuk memastikan bahwa penggambaran masa tersebut bisa menyerupai aslinya. Maka dari itu, kota Ambarawa, Semarang, dan Yogyakarta dipakai sebagai lokasi shooting film Guru Bangsa: Tjokroaminoto.


Sekarang, syuting Film Tjokro di Ambarawa sudah selesai, dan para cast serta crew sudah berada di Semarang untuk melanjutkan proses syuting lagi. Seperti apa proses shooting di Ambarawa kemarin?  Yuk lihat foto-foto ini!





Jangan lupa untuk ikuti terus berita tentang Film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, hanya di www.ngobrolinfilm.com, atau di twitter Film Tjokro dan di Facebook mereka. Yuk, dukung film Indonesia!

0 comments:

Posting Komentar