Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

9.9.13

[2in1 Review] Perawan Seberang & Cinta/Mati

Share
Udah lama banget gue ga nonton film kacrut model gini, akhirnya gue memutuskan untuk menontonnya, for the sake of my idol, Julia Perez. Sebelum-sebelumnya, film horor kacrut begini biasanya masih bisa sedikit terselamatkan oleh akting Jupe yang oke punya. Tapi di sini, Jupe bahkan jadi ikutan jelek, dan ga membantu sama sekali.

Dan saking lamanya gue ga nonton film beginian, sekalinya gue nonton lagi, mental gue ga kuat. Gue ga siap nonton film seabsurd Perawan Seberang. Alhasil, belum sampai film selesai, gue keluar dari bioskop.

Editing-nya sampah banget, bikin pusing. Dari satu scene langsung lompat ke scene lain, begitu seterusnya. Ceritanya? Ga usah ngomong. Pattern cerita horror standar yang diperburuk. Aktingnya? Crot. Ga ada bagus-bagusnya.

Base line, kembalikan Rp 35.000 gua -____-



Cinta/Mati datang dari sutradara/produser (yang tanpa gue sadari adalah) sutradara/produser favorit gue, Ody C. Harahap. Gue selalu suka karya-karya Ody, terutama Kawin Kontrak 1 & 2. Buat gue, Ody selalu berhasil bikin film yang komedinya kena secara komersil.

Tapi kali ini mungkin Ody sedang ingin menunjukkan idealismenya dengan membuat sebuah film yang dari look posternya aja kita tau ga bakal laris. Gue pun awalnya ga mau nonton kalo ga orang-orang di timeline Twitter gue memuja-muja Cinta/Mati ini, because basically, there's nothing interesting or attractive. Bintang utamanya ga ada yang gue suka, trailer ga menarik sama sekali, poster? Apalagi.

Lantas gue akhirnya menyempatkan diri untuk menonton Cinta/Mati. Hasilnya? Ody banget. Kentara banget komedi-komedi khasnya yang bikin ketawa, pun ceritanya yang dekat sama kita, cuma ga banyak yang menyadarinya.

Tapi buat gue, Cinta/Mati ga sebagus kata orang-orang. Cinta/Mati bagus, but that's it. Ini ga se-memorable itu dan ga bikin gue pengen nonton berkali-kali. Tapi, despite poster dan trailer jeleknya, filmnya jelas jauh lebih bagus. Dan ending-nya, "goks banget!" kalo mengikuti bahasa Jaya (Vino) di film ini.

Dari Cinta/Mati gue belajar bahwa hidup lo belom berasa berarti, mungkin karena elo belom ketemu orang yang tepat aja. :)

0 comments:

Posting Komentar