Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

21.12.12

,

[REVIEW] HABIBIE & AINUN

Share

Ketika Ibu Hasri Ainun Habibie akhirnya berpulang pada 23 Mei 2010 yang lalu, Indonesia menyadari betapa besar cinta mantan presiden Indonesia, BJ Habibie, pada istrinya yang telah menemani perjalanan hidupnya selama 48 tahun lamanya. Kisah cinta yang tulus dan murni itu lalu dituangkan ke dalam sebuah buku yang ditulis oleh Pak Habibie sendiri, dan menjadi best seller setelah diterbitkan pada bulan November 2010. Dua tahun kemudian, cerita yang membuat haru seluruh masyarakat Indonesia ini, diangkat ke layar lebar oleh MD Pictures.

Mengajak serta aktor pria terbaik milik Indonesia saat ini, Reza Rahadian, untuk menerima kehormatan dan berperan sebagai Habibie himself, serta salah satu aktris multi talenta Indonesia, Bunga Citra Lestari, yang sudah lama tak tampak batang hidupnya di ranah layar lebar. Penampilan Reza yang selalu gemilang di tiap filmnya lantas membuat beberapa orang bertanya-tanya, "mengapa Reza dipasangkan dengan BCL?" -- yang bisa dikatakan tidak begitu memesona dalam penampilan-penampilan terdahulunya.

Reza, seperti yang telah diduga, dengan hebatnya berhasil membawakan sosok Pak Habibie yang kita kenal selama ini. Sesosok yang jenius tapi humoris, sosok yang tekun, dan begitu mencintai istri dan keluarganya. Sementara di sisi lain, Bunga Citra Lestari dengan mengejutkannya bisa membawa kita mengenal sosok Ibu Ainun yang begitu dicintai Pak Habibie ini. Sosok wanita kuat yang tak kalah pintarnya dengan sang suami, sosok wanita kuat yang masih memiliki mimpi-mimpi, sosok wanita kuat yang selalu mendukung dan menemani sang suami melalui masa suram dan gemilangnya. Bunga Citra Lestari membawa kita pada sosok Ibu Ainun yang mudah dicintai.

Namun bagaimanapun juga, film Habibie & Ainun ini tidaklah sempurna. Dengan kisah yang sudah dibangun sedemikian apiknya, sayangnya hal tersebut tidak didukung dengan departemen artistik yang memadai. Beberapa setting green screen yang tidak mulus, make up yang sangat amat tidak konsisten, serta "pesan sponsor" yang berlebihan dan sangat tidak mengenakkan untuk dilihat. 

Ada satu kata-kata Pak Habibie yang saya ingat betul. Katanya, "Masalah masyarakat Indonesia itu adalah mereka tidak percaya bahwa mereka bisa mandiri!" Dan saya setuju sekali dengan pernyataan tersebut. Tanpa disadari, masyarakat Indonesia memiliki rasa rendah diri, yang mungkin disebabkan karena adanya trauma di alam bawah sadarnya akibat dilecehkan dan dikucilkan bangsa Belanda zaman dahulu kala. Akibatnya, mereka kini kurang percaya diri. Mereka tidak yakin pada kemampuan mereka. Mereka tidak yakin bahwa mereka bisa membawa bangsa Indonesia maju. Buktinya, sebuah dialog yang juga diucapkan oleh salah seorang reporter dalam film tersebut, "Tau perang Irak-Kuwait? Itu terjadinya di Irak. Ketika pesawat Amerika lewat, mereka berseru, "tembak!" dor dor dor dor, lalu berlalu. Pikir mereka, "Itu pesawat Amerika, makanya kuat." Lantas, pesawat Indonesia melewati terbang kembali di atas mereka, dan seruan, "tembak" kembali terdengar. Tapi lantas ada suara berikutnya, "buat apa ditembak, nanti jatuh juga?" hahaha". See? Lihat betapa - bahkan - sejak zaman dahulu saja, bangsa Indonesia sudah tidak percaya pada kemampuan diri mereka sendiri. Padahal, mereka mengharap betul karya mereka diapresiasi. Buktinya lagi-lagi ditampilkan di film, ketika pesawat Gatotkoco akan melakukan penerbangan perdananya, mereka menanti-nanti kehadiran Presiden Indonesia pada saat itu, Pak Harto. Ketika mereka mendapat kepastian bahwa Pak Harto jadi datang dan menyaksikan momen bersejarah itu, ekspresi senang dan bangga tak dapat ditutup-tutupi. Lihat kan betapa tidak percaya dirinya masyarakat Indonesia? Dan hal itu ditangkap dengan pintarnya oleh penulis skenario Gina S. Noer, serta disampaikan dengan baiknya oleh Faozan Rizal yang bertindak sebagai sutradara.

Mudah-mudahan, setelah menonton film ini, penonton Indonesia pun ikut sadar dan percaya dengan karya anak bangsanya sendiri. Salah satu cara termudah adalah dengan percaya bahwa anak Indonesia bisa menghasilkan karya film yang dicintai penduduknya sendiri, dan yang membuat penduduknya mau susah-susah mengantri tiket di bioskop, duduk hingga bangku terdepan, bertahan hingga kurang lebih dua jam, dan bertepuk tangan ketika filmnya usai, seperti ketika mereka menonton film Habibie & Ainun ini. :)



0 comments:

Posting Komentar