Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

25.10.12

[REVIEW] RAYYA, CAHAYA DI ATAS CAHAYA

Share

Sudah digadang-gadang akan muncul di awal 2012, pada kenyataannya Rayya, Cahaya di Atas Cahaya baru rilis untuk umum menjelang akhir 2012, tepatnya di bulan September. Penuh dengan gambar-gambar cantik yang memanjakan mata, Rayya Cahaya di Atas Cahaya sebenarnya adalah film yang bagus........ tapi menjelang film berakhir.

Hampir di separuh film kita akan mendengar teriakan Rayya (Titi Sjuman), seorang artis multi talenta yang sok diva, dan hanya mau melakukan pemotretan bersama sang fotografer. Mau tau mengapa Rayya terus menerus berteriak memekkakan telinga hingga pertengahan film? Simpel, hanya karena ia dikhianati oleh kekasih yang amat sangat dicintainya, tapi ternyata sudah berkeluarga. Sakit hati, semua kekesalan dan kemarahannya pun dilimpahkan pada orang sekitar.

Beruntunglah kemudian datang Arya (Tio Pakusadewo), yang bukan hanya berhasil menenangkan Rayya, tapi juga berhasil meneduhkan mood film secara keseluruhan. Setelah pusing mendengar Titi Sjuman berteriak-teriak tanpa emosi, kemunculan Tio Pakusadewo pun berhasil membuat teriakan Rayya kini lebih... bernyawa. Kehadiran Arya yang tenang di sisi Rayya berhasil membuat Titi Sjuman terlihat "benar-benar bisa berakting dan tidak hanya sekadar berteriak-teriak saja".

Thanks to Tio Pakusadewo, karena kemunculannya juga lah, film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya ini menjadi lebih jelas, lebih bernyawa, lebih... manusiawi, dan tentunya lebih enak dinikmati. Mungkin ada kesalahan pemilihan cast untuk karakter Rayya yang semestinya tidak diperankan oleh Titi Sjuman, tapi secara keseluruhan, Rayya Cahaya di Atas Cahaya adalah sebuah "feel good movie" yang sebenarnya menyenangkan secara visual dan secara isi, andai saja Titi Sjuman menunjukkan emosi yang lebih nyata di awal hingga pertengahan film.

0 comments:

Posting Komentar