Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

9.3.12

[REVIEW] KEUMALA

Share


REVIEW
Secara umum bisa kita lihat bahwa Keumala adalah film ber-budget rendah, tapi ingin menampilkan hasil semaksimal mungkin dengan dana yg ada. Hasilnya, mereka mengunjungi Sabang, kota terujung di Indonesia, dengan menggunakan kapal pesiar, dengan jumlah pemain yang hanya lima orang.

Hasilnya? Perpaduan minimalis antara Titanic, Before Sunset/Sunrise, daann.. Tentunya tak melupakan ciri khas film Indonesia yg banyak mengambil sisi kesedihan di dalamnya.

Mengambil setting di kapal laut yg besar bak kapal Jake dan Rose yg sebenarnya menghemat biaya ini justru malah menjadi salah satu poin plus dari film yang jumlah penontonnya sangat disayangkan menyedihkan ini. Pemilihan jenis penyakit yg tak biasa -- bukan kanker atau tumor seperti film kebanyakkan -- pun menjadi salah satu nilai lebih film ini yang menunjukkan usahanya untuk terlihat berbeda. Pun pemilihan dialog yang mayoritas puitis dan bukan sekadar dialog-dialog umum biasa.

Tapi di balik semua poin plus itu, justru sang penulis melupakan latar yang membelakangi kisahnya. Sebagai contoh, kalau dilihat, Keumala bukanlah orang (maaf) miskin yg tidak bisa pergi ke Sabang menggunakan pesawat terbang. Kenapa ia mau menghabiskan waktu begitu lama di kapal pesiar untuk pergi ke Sabang? Pertanyaan berikutnya lantas, kenapa Sabang? Untuk menyendiri kah? Atau untuk bertemu dokter yang sempat tampak sebentar di salah satu adegan? Apa iya tidak ada tempat menyendiri yg lebih dekat dibanding Sabang? Gili Trawangan, misalnya? Atau apa iya tidak ada dokter lain selain dokter yg di Sabang itu?

Twist jadi-jadian yang dimunculkan menjelang akhir film yang ternyata bahwa Cut Yanti bukanlah ibu kandung Nadia Vega, hmm.. Was that really important?

Hal lain yang membuat film ini terlihat sangat low budget adalah musik yang sangat sangat sangat awful. Tidak sesuai dengan beberapa adegan, juga editing yg kacau, timing yang ga jelas, yg banyakan fade to black dan fade in fade out. Plus ditambah sinematografi yang kurang bisa mengeksplor keindahan Sabang yg tampak di depan mata, tapi jadi terlihat biasa saja. Jadi, kembali lagi, kalau begitu, kenapa Sabang? Kenapa ngga tempat yg lebih dekat saja? Supaya bisa ada adegan di kapal itu kah?

Tapi, di balik semua cercaan di atas barusan, sebenarnya yang salah dari film ini adalah.. The interesting part came too late. Penonton sudah terlebih dahulu dibuat bosan oleh bagian depan yang ga penting, akting Nadia Vega yang...... jelek, akting Abimana yang tak beda dari film-film sebelumnya, ataupun berentet editing fade in fade out tadi yang tidak enak untuk dilihat.

Bagus kalau ada penonton yang bertahan hingga akhir dan melihat bagian di mana chemistry Nadia Vega dan Abimana menyatu dalam kebutaan Keumala dan kebisuan Arthur, serta bagaimana cinta itu tumbuh perlahan lewat pengakuan kerapuhan Keumala, serta sentuhan penuh kepedulian, perhatian, cinta, dan kasih sayang dari Arthur hingga akhirnya ia membuka penyamarannya dan menjadi dirinya sendiri, Langit.

Pemilihan Nadia Vega sendiri sebagai bintang utama sebetulnya patut dipertanyakan; satu: karena aktingnya yang memang dari dulu tidak bagus karena tidak natural, dua: dari sisi komersil pun ia tidak memiliki fanbase. Lantas, apa yang dijual? Tapi ketika film memasuki bagian yang terlambat hadir itu tadi, kita yang meremehkan Nadia Vega pun jadi bertanya-tanya, kalau memang ia tidak cocok, lantas siapa yang cocok? Karena she did very well when she got in touch with Arthur. Begitu pula dengan Abimana yang bertransformasi menjadi karakter yang berbeda dari film-film sebelumnya ketika ia menamakam dirinya Arthur itu -- yang menjadikannya pria idaman semua wanita karena perhatiannya yang tulus, serta kesabarannya menghadapi wanita muda keras kepala di hadapannya itu.

Akhir kata, sedih melihat satu bioskop hanya berisikan 2 penonton saja. Berilah Keumala kesempatan, seperti ia yang akhirnya memberi dirinya kesempatan untuk percaya pada hidup.

2 comments:

  1. parah cuma dua penonton... di bioskop bandung juga cuma bertahan satu tiga hari

    BalasHapus
  2. tidak ada kapal laut langsung jkt - sabang.
    yang ada kapal ke belawan medan (KM Kelud), setelah itu lanjut jalan darat ke banda aceh
    baru dari banda aceh naik kapal feri ke sabang.

    si keumala balik ke sabang karena memang itu rumah (ibu)nya bukan?
    keumala/ geumala sendiri dari bahasa aceh, artinya batu yang indah/ bercahaya
    di film terlihat kalo nama lengkapnya keumala hayati, itu nama salah satu laksamana perang perempuan aceh yang terkenal

    dan iya, gw juga suka pas bagian arthur :)

    -nonton bersama 5 orang di satu studio (termasuk mbak2 ticketing 21 dan mas2 cleaning service dan projeksionisnya :D-

    BalasHapus