Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

3.2.12

[REVIEW] MY LAST LOVE

Share

REVIEW
Tahun 2012 sepertinya merupakan tahun romantis-sedih-sedih untuk film Indonesia. Di awal tahun ini saja sudah ada My Last Love, Bila, dan Malaikat Tanpa Sayap yang memiliki plot cerita dan tone-tone emosi yang mirip sekali.

My Last Love disutradarai oleh salah satu sutradara terproduktif yang dimiliki Indonesia, Nayato Fio Nuala. Dua tahun belakangan, Nayato lebih sering memproduksi film bergenre drama yang cukup sering mengeksploitasi tubuh pemainnya, ataupun horor sok seram ala kadarnya. Dari sekian banyak film yang dibuatnya, sedikit sekali yang memuji karyanya ini. Jika ada satu karyanya yang cukup baik, itupun sudah lama sekali (Ekskul, Cinta Pertama, Butterfly). Setelah Butterfly nampaknya Nayato mengalami pernurunan yang cukup signifikan dari segi kualitas.

Tahun-tahun sebelumnya juga, gue hampir ga pernah mau kalo disuruh nonton filmnya Nayato. Kenapa? Karena setiap filmnya pasti sama, angle nya, drama-dramanya, ending nya, yang akhirnya gue merasa ga ada lagi alasan untuk menonton filmnya Nayato. Tahun ini, entah mengapa secara tiba-tiba gue tertarik untuk menonton filmnya ketika melihat trailer My Last Love ini. Aneh kan?

Bukan, bukan karena faktor penyutradaraan Nayato maupun akting sakit Donita yang walau koma masih tetap bisa dandan dan terlihat cantik seperti mau pergi ke mall. Bukan pula karena faktor sinematografi yang cukup enak dipandang mata tapi membosankan ala Nayato seperti biasa. Tapi karena faktor akting Evan Sanders yang sudah cukup lama vakum dari dunia perfilman, kemudian muncul kejang-kejang sakit di sepanjang trailer My Last Love ini. Gue merasa dapet banget emosinya dan merasa akting Evan Sanders keren banget di trailernya sebagai seorang penyakitan di My Last Love. Gue tonton lah akhirnya film ini minggu lalu.

Jujur, satu jam pertama My Last Love sangatlah membosankan. Melihat emosi labil para pemainnya yang "disentil" dikit marah, tapi sedetik kemudian baik kembali, bagaikan menonton sinetron yang lebih parah dari sinetron. At least di sinetron kalo udah marah, ya marah terus, baik ya baik terus. Nah ini? 5 detik marah, 5 detik kemudian udah minta maaf lagi. Dan itu terjadi sepanjang 60 menit pertama My Last Love berlangsung.

Untungnyaaaa... 30 menit terakhir gue mendapatkan apa yang gue mau dari awal. Alasan gue sampe mau menonton filmnya Nayato Fio Nuala, My Last Love ini. Evan Sanders kejang-kejang karena sakit. Haha. Aktingnya bagus, saudara-saudara. Walau ngga tau gimana seharusnya orang sakit kanker otak menunjukkan rasa sakitnya, dan walau gue tau proses menuju "sakit-vonis-masuk rumah sakit-koma-kejang-kejang-mati" ga secepet itu, tapi akting kejang-kejang Evan Sanders itu cukup untuk membuat gue menangis tersedu-sedu menjelang film berakhir.

Yah, ketika kita disodorkan cerita super standar yang juga (lagi-lagi) sering sekali ditemui di film-film sedih-sedih yang lebay semacam ini, kita dihadapkan pada pertanyaan.. Apakah Anda berhasil tersentuh dengan ceritanya? Kalau iya, berarti tujuan si pembuat film berhasil.. Kalau tidak, maka mungkin level sedih saya saja yang berlebihan.. :)))

0 comments:

Posting Komentar