Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

15.1.12

[REVIEW] PULAU HANTU 3

Share

Setelah menonton....
Film Indonesia bergenre horor (setan, pocong, kunti, jenglot, sundel bolong, suster ngesot, dlsb) dengan setting pantai dan dibumbui cewek-cewek atau cowok-cowok (seringan cewek tapinya) seksi berbikini sudah entah berapa banyak jumlahnya, dan semuanya ga ada yang seram. Termasuk Pulau Hantu 3 ini, atau dua seri Pulau Hantu sebelumnya yang juga disutradarai oleh Jose Purnomo. Yang ada hanyalah parade cewek berpakaian serba minim yang teriak-teriak dikejar setan mangap, dan ternyata menghasilkan banyak uang, hingga akhirnya Pulau Madara terus menerus dibuka kembali, walau sudah menelan korban entah berapa banyak jumlahnya -- menurut cerita.

Namun dari sebegitu banyaknya film horor seksi yang tayang di bioskop-bioskop tanah air itu, baru kali ini lagi gue merasa terhibur dan bukannya annoyed waktu menontonnya. Walau tidak menyeramkan, tapi Pulau Hantu 3 tak bisa dipungkiri menyajikan beberapa adegan yang memang saking gobloknya hingga memancing tawa. Salah satu yang ter-epic adalah adegan hantu mangap merah vs hantu mangap putih, sodara-sodara! Lol. :)) Dan gue beneran ngakak di dalem bioskop waktu melihat adegan ini, huahahahaha :)) Bagaikan melihat adegan Jaka Tarub terbang vs Jaka Tingting di Indosiar, tapi ini versi hantunya.. :)) Selebihnya? Hanya rentetan adegan penuh nafsu suami yang sok setia sama istri yang udah mati dan pingin bangunin istrinya lagi dengan melakukan ritual sesat, tapi syaratnya adalah nidurin (banyak) perempuan lain. Pelisss --"

Memang, Pulau Hantu 3 tidak masuk dalam kategori horor yang bagus dan menakutkan, tapi kadang, ketika film horor tak berhasil menakut-nakuti kita, kita butuh sedikit alasan untuk membuat kita tetap bertahan di kursi bioskop dan tak merasa benar-benar menyesal telah mengeluarkan 30rb rupiah dan 80 sekian menit, seperti misalnya rangkaian kegoblokan yang saking gobloknya malah membuat kita tertawa dan at least, sedikit terhibur.

0 comments:

Posting Komentar