Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

22.12.11

,

[REVIEW] GARUDA DI DADAKU 2

Share

Buat gue, film anak-anak haruslah menampilkan keceriaan dan semangat juang anak-anak, dan bukannya malah menjual sisi sedih dan gelap dari sosok imut-imut ini. Sebutlah gue naif dan tak bisa berkaca pada kenyataan pahit dunia yang juga sering dijadikan tema dalam film-film. Itulah mengapa, mungkin sejak era Petualangan Sherina, hanya Garuda di Dadaku lah yang berhasil merebut hatiku. Tidak Denias, bukan King, atau bahkan Laskar Pelangi yang dielu-elukan banyak orang itu.

Dua tahun setelahnya, sekuelnya muncul di tangan sutradara yang berbeda. Rudi Sudjarwo, sutradara pemenang Piala Citra untuk film Ada Apa Dengan Cinta di tahun 2002. Entah mengapa, tapi pada awalnya gue agak ragu sama Rudi untuk meneruskan film pertamanya yang dibawakan dengan sangat menyenangkan oleh Ifa Isfansyah - walau, dua film Rudi tahun ini (5 Elang, Batas) juga masuk dalam list film favorit gue di 2011 ini.

Jauh sebelum Garuda di Dadaku 2 tayang reguler, review positif sudah berdatangan, dan bahkan cukup banyak juga yang mengatakan bahwa seri keduanya bahkan melebihi film pertamanya dari segi kualitas. Banyak pula yang memuji penampilan Rio Dewanto yang sebelumnya juga memukau di Arisan!2. Penasaran, sampailah hari di mana gue akhirnya bisa menyaksikan film ini dengan mata kepala gue sendiri.

Alasan gue menonton film ini sebetulnya sangat simpel. Pertama ya karena gue suka film pertamanya, dan kedua adalah karena Rio Dewanto nya ganteng bener di sini, :))). Tapi tenang, dua hal itu (terutama yang nomor dua), tak akan mempengaruhi cara gue menonton, menikmati, maupun menilai film ini kok.

Garuda di Dadaku 2 adalah film yang cukup menyenangkan, walaupun tak semenyenangkan yang pertama. Rupanya, adegan Rio Dewanto buka baju pun tak cukup untuk membuat gue sebegitu sukanya sama film ini secara keseluruhan. Film ini bagus, tapi ada yang mengganjal, seolah-olah beragam ekspresi yang dikeluarkan para aktornya (senang, sedih, marah, iri, cemburu), tidak keluar dari hatinya, sehingga gue jadi kurang merasakan emosi yang ditampikan para tokoh, seperti ikut menangis, tertawa, dan berteriak semangat saat pertandingan sepakbola.

Akting yang ditampilkan Rio Dewanto pun membawa gue teringat kembali masa-masa ia masih sering tampil di televisi. Bukan artinya aktingnya jelek, tapi setelah apa yang ia tampilkan di Arisan!2, penampilannya di Garuda di Dadaku 2 ini jelas mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ia kerap berteriak-teriak tanpa emosi untuk menunjukkan sikap tegasnya, yang malah karena terlalu sering dilakukan membuat gue jadi kesel sendiri liat dan dengernya. Belum lagi gaya "kesel"nya, pasti deh megang-megang kepala mulu. -___- Bosen tauk, aa. Hanya mungkin yang patut dicermati dari Rio adalah kemampuannya (yang juga sudah gue sadari sejak di Arisan!2) dalam berkekspresi lewat mata. Perasaan caring kepada anak-anak didiknya sangat teduh dan kebapakkan.

Sama seperti film pendahulunya, yang menyenangkan dari melihat Garuda di Dadaku 2 adalah visualnya yang cantik. Di tangan Rudi, gambarnya jadi jauh lebih cantik dan memanjakan mata. Adegan-adegan bermain bolanya walau tak semenegangkan yang pertama (yang di sini lebih berpola), tapi tetap sangat menarik untuk disaksikan. Ditambah lokasi latihan fisik para Garuda muda yang entah di mana tapi keren banget itu, mata kita benar-benar diajak untuk berkelana menyaksikan keindahan.

0 comments:

Posting Komentar