Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

16.11.11

[REVIEW] THE PERFECT HOUSE

Share


REVIEW
Dengan poster yang menarik dan fakta bahwa film ini masuk ke deretan film yang ditayangkan di PiFAN 2011 sudah sepantasnya lah film ini mendapat perhatian dan ekspektasi ekstra. Belum lagi sutradaranya, Affandi Abdul Rahman, yang adalah salah satu sutradra Indonesia favorit gue setelah dua karya pertamanya, Pencarian Terakhir dan Heartbreak.com berhasil membekas di hati gue - walau karya ketiganya, Aku atau Dia tidak sebagus dua judul pertama.

Agak kesulitan sesungguhnya dalam menuliskan kata-kata untuk menggambarkan film ini. Pendek kata, gue agak kecewa sih sama film ini. Karena keliatan banget sangat terinspirasi dari Rumah Dara, mulai dari judul (house=rumah), setting lokasi, garis besar cerita, bahkan sampai ke penokohan karakter antagonisnya. Dan sedihnya, The Perfect House bahkan ga bisa menyamai thrill yang diberikan Rumah Dara. Semuanya KW2. L

Oke, jadi saya akan mohon maaf dulu sebelumnya jika review saya di bawah ini akan sedikit banyak membandingkan The Perfect House dengan Rumah Dara atau bahkan film Indonesia lainnya yang menginspirasi The Perfect House -- seperti saya menemukan kemiripan dalam beberapa adegan seperti Pintu Terlarang nya Joko Anwar.

Dari segi akting, Bella Esperance memang memukau. Dengan nada bicara dan aksen bicaranya yang sangat klasik dan menyebalkan, ia sangat berhasil memerankan tokoh villain dalam film ini. Tapi, jika dibandingkan dengan performa Ibu Dara, maka Bella Esperance masih kurang menyeramkan. Cathy, di lain sisi, agak kurang greget dari segi ekspresi, kalah jauh dibanding adiknya, Julie. Lalu karakter dan ekspresi Janwar sangat mengingatkan saya pada karakter Isabelle Furhman di Orphan. Saya bahkan mengira endingnya akan seperti Orphan, tapi rupanya saya salah terka, hahaha! Akting Janwar pun sebenarnya sudah sangat bagus, dengan ekspresi dan tatapan mata yang dingin dan tajam, salut untuk anak seumuran dia yg sudah bisa mengontrol emosinya dengan baik dan menerima pengarahan sutradara dengan baik pula. Penampilan paling baik di film ini jatuh kepada Mike Lucock yang walaupun kemunculannya sedikit, tapi ia berhasil mencuri perhatian lewat gesturnya, khususnya menjelang film berakhir.


The Perfect House bukan film jelek. Film ini tetap layak tonton, tapi ini bukan film yang akan membuat lu terpesona.

Akhir kata, saya mohon maaf kalau sedari tadi pembicaraan saya melulu membandingkan The Perfect House dengan Rumah Dara. Agak susah memang jika kita membuat film dengan genre yang jarang dibuat, tapi sekalinya ada yg membuat, ia sudah men-set standar yang tinggi di awal. Semua yang mengikuti setelahnya pasti akan dibanding-bandingkan dengan sang pionir.

1 comments:

  1. Mau comment sedikit.. IMHO, film ini sangat berbeda dengan Rumah Dara. Kemiripannya cuma 2. Judul film dan karakter Bella Esperance yang serupa dengan Shareefa Danish. Tapi diluar itu, menurut saya sangat berbeda. Rumah Dara slasher movie dan The Perfect House hanya thriller. Jalan cerita dan twist yang disajikan juga sangat berbeda. Jadi menurut saya tidak bisa dibandingkan. At the end walaupun twist film ini mudah tertebak bahkan di 10 menit pertama film mulai, but it's worth to watch anyway :)

    BalasHapus