Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

16.11.11

[REVIEW] FISFIC 6 vol.1

Share

Oke, so.. Dilatarbelakangi keinginan untuk menunjukkan pada masyarakat Indonesia bahwa horror movie can be good – if it’s made in the right way, 7 sekawan came up with an idea to create a short film competition on the genre of horror, thriller, sci-fi and fantasy to be included in the Indonesia International Fantastic Film Festival 2011 or also known as INAFFF.

Sheila Timothy, together with Joko Anwar, The Mo Brothers, Gareth Evans, Ekky Imanjaya and Rusli Eddy called the competition as FISFIC (Fantastic Indonesian Short Film Competition), chose 25 teams, selected 6 finalists with the best synopsis and gave them 10 mil IDR to produce their short film. In the end, one winner will be announced and they will produce another short film for an omnibus with Joko Anwar, Mo Brothers, and Gareth Evans.

Now, let’s take a look at each movie... in order of appearance


1.       Meal Time by Ian Salim and Elvira Kusno (dir/writer)
Agak mengecawakan jika dibandingkan dengan film pendek pertama mereka, Yours Truly yg twist-nya pintar dan disertai dengan gambar indah. Di Meal Time, hal yg paling menganggu gw sebenarnya adalah gambar yg goyang-goyang bikin pusing dan beberapa editing yg agak kasar, plus endingnya yang bikin orang berkata, “loh? Loh loh loh? Udah? Gitu aja?”












2.       Rengasdengklok by Dion Widhi Putra (dir) and Yonathan Lim (writer)
Ini film paling ngga banget di antara semuanya. Padahal bumper animasi awalnya bikin gw mikir, “wow, this looks promising.” Tp setelah selesai introduction, meh. Wtf. Setting sih boleh 1945, tapi ga perlu juga kali ya sengaja dibikin efek old ala kadarnya yg malah bikin mata pusing. Mana kostum dan akting pemerannya juga meh banget lagi. Yg ada jadinya malah kocak.. The untold story of Rengasdengklok yg (katanya) tidak pernah diketahui sampai sekarang.. Trus lo tau dari mane??








3.       Recknoning by Zavero G Idris (dir/writer) and Katharina Vassar (writer)
Dari pembukaan, gw udah suka sama film ini. Akting pemeran utama prianya bagus. Dan ceritanya pun oke juga.. Setting yg simpel, tapi ga membosankan. Yg menjadi pertanyaan gw cuma satu: itu pistol dapet dari mane yes? Lol. Pingin punya satu deh :))
















4.       Rumah Babi by Alim Sudio (dir) and Harry Setiawan (writer)
Film ini paling banyak dapet review bagus dan pujian dari orang-orang ketika premiere tgl 14 November kemarin di INAFFF juga. Penasaran dong gue.. Dan iya lho.. Keren men! Feel seremnya dapet banget; dari cerita, setting, angle, musik, akting! Pas semuanya. One of the best dari 6 film FISFIC ini.

Trivia: Alim Sudio adalah penulis langganan Maxima, dan film-filmnya dia biasanya kancut-kancut, beberapa di antaranya (menurut IMDB): Setan Budeg, Air Terjun Pengantin, Taring, Lihat Boleh Pegang Jangan, dan Jenglot Pantai Selatan.

Mungkin bakatnya sebenernya di directing kali ya, buktinya film pendeknya cakep punya nih.. Ga kebayang kalo dia adalah orang yg sama yg bikin film-film horor bokep kancut itu..

1.    5. Effect by Adriano Rudiman (dir/writer) and Leila Safira (writer)
Pertama-tama, film ini ganggu banget dengan suaranya yg super bising kayak ga pake filter untuk reduce noise. Tapi begitu ni film jalan, dan tau mau dibawa ke mana film ini, gue bilang, “ini film pinter”. Ga banyak darah, tapi pake otak. Smart. 








6. Taksi by Arianjie AZ & Nadia Yuliani (dir/writer) 

Film lainnya yg mendapat pujian dari banyak orang. And they deserved it. Gambarnya tjakep. Aktingnya cakep, dari si sopir, si penjahat, sampe Shareefa Daanish (ya kale Bu Dara jelek aktingnya). Dan waktu Shareefa Daanish berubah (berubah jadi apa rahasia dong, ga mau spoiler :p), I cheered! :)) Definitely one of the best.

***



Kalau disuruh milih pemenang, jujur gua agak bingung antara Rumah Babi atau TAKSI. Tapi kalau mengingat bahwa Rumah Babi di-direct oleh orang yg sudah familiar dengan dunia film-making, maka ga heran hasilnya akan bagus. So, kalau mau dilihat dari kacamata amatir, TAKSI deserved to win this competition.

Keberadaan FISFIC jujur aja membangkitkan kembali hasrat gua bikin film yg udah pudar karena ga sabaran nunggu orang ngeset kamera dkk padahal take cuma berapa menit. Haha. *mulai mikirin ide untuk FISFIC vol. 2* Salut untuk semua finalis, salut juga untuk para pencetus ide, lanjutkan terus tahun depan dan tahun-tahun berikutnya ya Bu Lala, Bang Joko, Mo Bros, Gareth, Mas Ekky, dan Sly! We (I) look forward to it! J

0 comments:

Posting Komentar