Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

30.8.11

,

[REVIEW] 5 Elang + Tendangan Dari Langit

Share

Libur lebaran dan libur kenaikan sekolah tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ketika biasanya di bulan Juni-Juli kita disajikan beragam pilihan film anak, sekarang jatah itu berpindah ke bulan September, dan menjadikan dua film anak, 5 Elang dan Tendangan Dari Langit, sebagai Summer Blockbuster atau Box Office Indonesia atau film Lebaran tahun ini.

Yang membedakan kedua film ini dari film anak-anak yang pernah ada sebelumnya (kebanyakkan) adalah, mereka mengambil angle yang berbeda, angle yang lebih ceria, angle yang lebih mengedepankan cita-cita, dan bukan angle yang lebih kelam, angle yang menjual kesulitan-kesulitan dalam meraih cita-cita, seperti yang sudah-sudah.

5 Elang datang dari seorang Rudi Soedjarwo yang membawakan kita film-film yang hampir sebagian besar menjadi favorit di masyarakat, seperti Ada Apa Dengan Cinta, Mengejar Matahari, 9 Naga, Mendadak Dangdut, dan lain sebagainya. Setelah agak kurang menggigit di beberapa film terakhir, Rudi Soedjarwo kini kembali menunjukkan keahliannya dalam bercerita lewat sebuah film yang membawa kita kembali ke masa kanak-kanak kita, dan bukan masa anak-anak sekarang yang penuh dengan intrik layaknya orang dewasa, seperti yang biasa ditampilkan di sinetron-sinetron di televisi.

Sementara Tendangan Dari Langit datang dari tangan seorang Hanung Bramantyo, sutradara yang belakangan lebih sering hadir dengan film-film yang cukup berani mengangkat tema reliji, di antaranya Ayat-Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah, dan Tanda Tanya. Cukup mengejutkan memang melihat Hanung tiba-tiba mengarahkan sebuah film tentang olahraga, dan anak-anak pula yang menjadi bintangnya.

Kedua film ini memiliki kesamaan, yaitu jalan cerita yang walaupun klise dan mudah ditebak, tapi kedua penulis, Fajar Nugros (Tendangan Dari Langit) dan Salman Aristo (5 Elang) sama-sama mampu memunculkan semangat dan keseruan yang sangat mengasyikkan untuk ditonton, karena membawa aroma keceriaan yang sangat khas anak-anak. Kesamaan lain adalah, kedua film ini menjadi lebih hidup berkat musik yang menghentak jiwa lewat trio Aghi Narottama - Bembi Gusti - Ramondo Gascaro (5 Elang), dan Tya Subiakto (Tendangan Dari Langit).

Namun, mereka juga memiliki perbedaan, karena 5 Elang murni mengandalkan anak-anak yang tidak terkenal, sementara Tendangan Dari Langit memiliki amunisi yang mampu menjadikan film ini sangat komersil, yaitu Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, dua pemain sepakbola yang sedang naik daun di Indonesia. Keberadaan Irfan dan Kim ini pulalah yang menjadikan Tendangan Dari Langit tampak memiliki "modal" yang lebih dibanding 5 Elang, sehingga nampak jelas dari pengambilan gambar yang lebih wah, dan didukung dengan pemandangan Bromo yang cantik dan shot-shot adegan permainan bola yang diambil membuat kita seolah-olah sedang menyaksikan pertandingan bola sungguhan. Sementara 5 Elang jauh lebih sederhana dan apa adanya dari sisi sinematografi.

Dari segi akting, semua anak, baik di 5 Elang maupun Tendangan Dari Langit, mampu berakting natural dan menawan. Begitu pula para pemain pendukungnya. Tendangan Dari Langit memiliki Agus Kuncoro yang lagi-lagi bermain dengan penuh karakter setelah sebelumnya juga bermain apik dengan Hanung di film Tanda Tanya, Sujiwo Tedjo yang sangat "bajingan" (if you've watched the movie, you'll know what I mean :D) menjadi sang Ayah, juga Toro Margens, si bos Kalangsari FC yang karismatik-perlente, dan duo penghibur teman Wahyu, Joshua Suherman dan Jordi Onsu yang sungguh... sungguh... sungguh....... (ditonton filmnya, dan kau akan mengerti :p)

Pada akhirnya, sulit mentukan mana yang lebih bagus di antara keduanya, karena keduanya memiliki keasyikannya masing-masing, dan keduanya jelas film wajib tonton tahun ini. :)

1 comments:

  1. tapi tendangan dari langit menurut gue kurang bagus. sebagai film bertemakan olahraga dan mengejar mimpi, tendangan dari langit, pertama, tidak bisa memompa adrenalin. kedua, tidak menginspirasi. logika cerita juga berantakan di akhir cerita. terkesan ingin cepet-cepet diselesaikan. Persema itu klub profesional, sekalipun bukan tim papan atas, tapi seorang pemain tarkam bisa dengan mudah masuk tanpa ada proses latihan bersama? proses perekrutannya terlalu prematur.

    BalasHapus