Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

27.5.11

[REVIEW] Film Band? Purple Love + Baik Baik Sayang

Share

REVIEW
Kemarin, gue menonton dua film yang menjadikan sebuah band Indonesia menjadi bintang utamanya. Baik-Baik Sayang nya Wali, dan Purple Love nya Ungu. Keduanya adalah film tahun 2011, tapi bedanya, Baik-Baik Sayang hadir lebih dahulu di awal tahun, sementara Purple Love baru dirilis bulan Mei ini. Keduanya memiliki tema yang sejenis, komedi romantis. Keduanya juga menonjolkan lagu-lagu hits dari masing-masing band. Keduanya menghibur, dan keduanya memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.

Dari divisi akting, Wali Band boleh berbangga, karena mereka lebih berhasil menampilkan akting yang natural. Kredit lebih gue kasih ke Apoy Wali, karena ia berhasil memberikan mimik-mimik lucu plus tindak tanduk yang bisa memancing tawa. Sementara anggota band Ungu terlihat lebih kaku ketika berakting. Mungkin, hanya Pasha yang lebih santai dan bisa menikmati perannya.Chemistry yang terbangun antara Pasha dan Nirina cukup baik dan terasa natural, tapi lebih mengasyikkan melihat duet Oncy-Kirana Larasati yang lebih lucu, walau kadang annoying.

Dari segi teknis, sinematografi, art directing, dan editing, Purple Love berhasil tampil lebih cantik dan komersil dibanding Baik-Baik Sayang.. Angle-angle yang dipilih enak dipandang mata dan berwarna menarik, walau gue cukup terganggu dengan product placement sponsor yang sangat eksplisit di hampir sepanjang film. Mulai dari 7 Eleven, Class Mild, Harley Davidson, Minyak Angin Caplang, sampai mobil terbaru keluaran Mercedez, Smart!  Sementara Baik-Baik Sayang, menyesuaikan dengan nuansa ceritanya yang lebih hangat, setting yang diambil pun sangat down to earth dan kedaerahan.

Sementara dari segi cerita dan feel film secara keseluruhan, keduanya memiliki cerita yang cukup klise dan sangat tertebak. Format-format kisah lama "dijodohkan tapi justru tertarik sama yang menjodohkan, tapi ternyata yang menjodohkan umurnya tinggal sebentar lagi" yang dipakai Purple Love sangatlah mirip kisah-kisah serial Korea zaman dulu. Begitupun kisah "orangtua yang tak setuju anaknya pacaran dengan orang miskin dan menjodohkannya dengan yang lebih kaya" nya Baik Baik Sayang sudah sangat bisa ditebak endingnya seperti apa. Karenanya, maka yang lebih berpengaruh adalah feeling yang ditimbulkan setelah dan selama menonton kedua film tersebut, mana yang lebih unggul. Dan buat gue, Baik Baik Sayang keluar sebagai pemenang dalam urusan ini, karena dengan kesederhanaan yang ditampilkan, Baik Baik Sayang justru berhasil mengembalikan aura kisah cinta yang masih sangat murni. *caileh* :p

1 comments:

  1. Gw ga nyangka ternyata Baik-Baik Sayang lumayan juga lho, enak ditonton. Padahal awalnya sempet pesimis waktu denger Wali maen film.
    Pokoknya gw & temen2 sangat menikmati film ini...
    Good Job...

    BalasHapus