Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

10.4.11

[REVIEW] TEBUS

Share

Review
Tim marketing Skylar Pictures nampaknya mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempromosikan film terbarunya, Tebus. Mungkin belajar dari kegagalan Jinx (yang juga disutradarai M.Yusuf), mereka kini menggunakan berbagai trik untuk memancing penonton masuk ke gedung bioskop dan menonton pertunjukkan mereka. Dimulai dari lomba menulis review berhadiah iPad dan tiket PP ke Bali, judul iklan yang didramatisir, hingga seminggu setelah filmnya tayang, diadakan lagi sayembara 'terheboh' tahun ini. Uang sejumlah Rp 100 juta akan diberikan kepada siapapun yang berhasil membuktikan bahwa Tebus adalah sebuah film yang jelek! Hah! Alangkah berani, bukan? Atau malah ini adalah sebuah perbuatan yang sangat desperate?

Filmnya sendiri, memang, jujur saja, tidak dapat dikatakan jelek -- jika dibandingkan dengan film-film karya KK Dheeraj -- karena, tentunya masih banyak film lain yang memiliki kualitas di bawah Tebus. Tapi, kalau dibandingkan dengan film yang saya tonton setelahnya, ? (Tanda Tanya), maka Tebus bisa dikatakan jelek.

Mungkin ini retoris, tapi, bagaimana kita mau maju kalau kita selalu melihat ke bawah, dan bukannya ke atas? Membandingkan dengan yang lebih jelek, bukan yang lebih bagus?

Mari kita bahas satu per satu per divisi

1. Akting:
Tio Pakusadewo adalah aktor jempolan yang sudah tak perlu diragukan lagi kemampuannya. Chintami Atmanegara pun memainkan perannya dengan sangat pas. Sheila Marcia dan adiknya juga.. Okelah.. Revaldo? Master! Aktingnya sebagai pecandu narkoba benar-benar terlihat meyakinkan. Aneke Jodi, Jajang C. Noer, serta si Joko dan adiknya juga pas sekali membawakan karakternya masing-masing.

2. Sinematografi:
Bagi saya, pemilihan angle-angle dalam film ini (kebanyakkan) sangatlah standar (jika tak mau dibilang di bawah standar -- apalagi jika (lagi-lagi) dibandingkan dengan sinematografi ? (Tanda Tanya)). Sudut-sudut dan komposisi film ini tak jauh berbeda dengan film pendek amatir yang saya buat --  yang jujur saja, saya pun tak senang dengan pengambilan gambarnya.

3. Cerita:
Untuk ukuran film Indonesia, Tebus memiliki cerita yang agak berbeda dari film Indonesia kebanyakkan. Tapi dari segi kebaruan cerita dan efek kejutan yang mungkin muncul, cerita semacam ini sudah sering ditemui. Selain itu, film ini pun sangat mudah diikuti (tidak mengandung twist) dan ditebak.

4. Penyutradaraan:
Di sinilah letak terpenting sebuah film. Cerita standar/jelek tapi bisa dibawakan dengan baik, maka akan jadi sebuah film yang baik pula. Namun sebaliknya, cerita bagus tapi dibawakan dengan buruk, maka yang terjadi adalah sebuah film yang buruk pula. M.Yusuf tampaknya belajar banyak dari film pertamanya yang terbilang sangat aneh bin ajaib, Jinx. Ia bisa mengeksplor cerita dan memilih untuk menyajikan cerita ini dengan teknis past-present untuk membangun intensitas ketegangan dari film yang bergenre thriller ini, dan hal ini cukup berhasil mencapai tujuannya.

5. Musik/Suara:
Musik scoring adalah salah satu elemen terpenting dalam sebuah film untuk semakin memperkuat cerita, gambar, dan akting. Dan untuk itu, saya berani berikan jempol untuk pengisi musik latar Tebus yang telah berhasil membangun feel thriller sepanjang film berlangsung.

Beberapa hal yang saya SUKA dari film ini:
***MAY CONTAIN SPOILER***
  1. Opening scene nya berhasil menawarkan aura yang berbeda, seolah-olah ini bukanlah film Indonesia
  2. Scene flashback proses rencana pembunuhan keluarga Danuatmaja oleh adik terkecil Joko: SUPERB!
  3. Lontaran Sheila Marcia saat ditembak: MAGNIFICENT!

Beberapa hal yang saya TIDAK SUKA dari film ini
***MAY CONTAIN SPOILER***
  1. Komposisi dan angle-angle gambar yang sangat standar
  2.  Editing yang (lagi-lagi) masih sangat sederhana, standar -- kalau tidak mau dibilang cupu -- di beberapa scene, juga pemotongan yang kurang rapih
  3. Efek yang saya curigai sebagai CGI di adegan air terjun -- sangat palsu dan buruk
  4. Ada beberapa adegan yang tak penting, tidak berarti, tapi dimasukkan dan dilama-lamakan: MEMBOSANKAN, seperti adegan saat Sheila Marcia sedang chatting dan menasehati adiknya soal bahaya menaruh data pribadi di internet -- what's the point with this?
  5. Roni Danuatmaja yang semestinya mati di akhir film, tapi tidak kunjung mati juga: MENYEBALKAN!

Setelah menganalisa secara mendalam, maka saya bisa menyatakan bahwa film ini tidaklah jelek jika dinilai secara keseluruhan, karena masih banyak film yang lebih jelek dari ini. Tapi jika dilihat dari cara berpromosinya, terutama sayembara Rp 100 juta itu, bisa saya katakan bahwa film ini sangat jelek, karena tidak bisa menemukan strategi yang lebih cerdas dan kreatif untuk menarik orang untuk menonton filmnya, yang bisa menimbulkan dua reaksi; orang menjadi penasaran dan kemudian menontonnya ATAU orang menjadi skeptis terlebih dahulu dan malah mengurungkan niat untuk menontonnya.

Jelek/bagus itu kan tidak ada ukuran pastinya. Apa yang dibilang jelek dan bagus oleh setiap orang berbeda-beda. Maka dari itu harus ada tolak ukur dan pembanding yang pasti. Sekarang, pembanding dan tolak ukurnya apa? Dan yang lebih menodai rasa keadilan, yang menilai bagus/jeleknya film ini -- dengan diadakannya sayembara murahan itu – adalah (seperti roda berputar), kembali lagi pada para pembuatnya -- yang tampaknya tidak mau dibilang bahwa filmnya jelek, terbukti dari pernyataan mereka dan "keberanian" mereka mengadakan sayembara yang entah mengapa masih meragukan ini.

0 comments:

Posting Komentar