Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

4.1.11

[REVIEW] Khalifah - 6 Januari 2011

Share


REVIEW

Masih ingat dengan 3 Doa 3 Cinta yang meraih penghargaan Grand Prize of the International Jury pada International Festival of Asian Cinema Vesoul, Perancis? Atau The Photograph yang memenangkan Special Jury Prize dan The Ecumenical Jury prize di Karlovy Vary iff 2008Saya rasa sebagian besar dari kita tentunya masih mengingat kedua film nasional yang membanggakan itu bukan?

Sekarang, tokoh esensial di balik dua film tersebut berkolaborasi lagi. Nan T Achnas dan Nurman Hakim yang sebelumnya bersama-sama membesut film religi 3 Doa 3 Cinta kini kembali menelurkan sebuah film religi untuk menyambut tahun 2011. Tapi kali ini mereka tidak mengajak dua bintang idola remaja Dian Sastro dan Nicholas Saputra lagi, melainkan bintang FTV Ben Joshua yang berdiri di bawah naungan rumah produksi mereka, Frame Ritz, dan juga presenter Indra Herlambang, dan aktris cantik Marsha Timothy sebagai bintang utamanya.

Bagaimana hasilnya?

Jujur saja, saya kurang begitu suka dengan 3 Doa 3 Cinta karena merasa sedikit tertipu dengan posternya, judulnya, dan tentunya, dua pemain utamanya. Mengharapkan reuni penuh cinta Dian Sastro dan Nicholas Saputra, saya malah diberikan sebuah kisah religi tentang tiga doa (harapan) dari tiga orang pemuda pesantren. 

Tapi lupakanlah 3 Doa 3 Cinta. Kini, lagi-lagi dengan kisah religi, duet NN (Nurman Hakim, Nan T Achnas) lagi-lagi pula tak mampu memuaskan hati saya yang sebetulnya cukup tertarik dengan kisah ini, dan dalam kondisi tak merasa dibohongi karena dari judul, poster, hingga trailer nya, semua memang mengarah ke film religi. Tapi yang tak saya sangka-sangka adalah bahwa film ini bahkan lebih membosankan dari 3 Doa 3 Cinta. Sepanjang film diputar saya duduk sambil terus berpindah-pindah posisi karena bosan dengan kisahnya yang..... sangat tertebak, bahkan sejak awal film dimulai. Belum lagi setting lokasi yang di situ-situ melulu, diambil dengan angle yang itu-itu juga.

Dari divisi akting sendiri sama sekali tak membantu. Marsha yang tampil sangat ciamik di Pintu Terlarang entah mengapa seperti kehilangan jiwa dan tak mampu berbicara melalui satu-satunya bagian tubuhnya yang terlihat, mata nya, padahal ia adalah roh dari film ini. Ben Joshua berakting cukup baik, tapi tak kebagian banyak jatah untuk menunjukkan kemampuannya. Sementara Indra Herlambang ternyata cukup mampu tampil sebagai Muslim fanatik. Aktris pendukung lainnya seperti Titi Sjuman dan Jajang C. Noer pun tak banyak membantu, dan terkesan malah agak sedikit menganggu bagi saya.

Selain itu, ada pula beberapa adegan yang biasanya saya sebut #vividism. Adegan yang konyol dan tak masuk akal, dan tentunya diberi porsi berlebih (baca: lebay). Mengapa sih mereka menyempilkan suatu adegan yang diniatkan untuk menjadi lucu jika memang cerita keseluruhan dibuat untuk menjadi serius?

Sebagai pembuka di awal tahun, Khalifah gagal untuk membangkitkan hasrat para pecinta film Indonesia untuk terus optimis akan bangkitnya industri perfilman tanah air. Cerita yang kurang mendalam, akting yang kurang nyess, dan eksekusi keseluruhan yang kurang apik adalah sebabnya.

3 comments:

  1. gw baca di suara merdeka kok review-nya beda ama lu ya? suara merdeka bilang film Khalifah berwibawa. kalo menurut gw sih kita harus memberi apresiasi yang tinggi sama pembuatnya yang berani bikin cerita2 kayak gini. gak kayak film2 horor komedi murahan. gw sih belum nonton Khalifah tapi gw nonton 3 doa 3 cinta, gw sukan banget. sori ye gw beda ama elu brrooooo

    BalasHapus
  2. @Toni. A
    haha, no problem.. selera orang kan memang beda2.. gw bukannya ga mengapresiasi, gw mengapresiasi kok.. tp kenapa gw sampe bikin review yg cukup blak2an spt ini adalah krn sebenarnya gw cukup menaruh harapan pada film ini, terutama krn gw biasanya suka sama karya2nya Nan Achnas.. dan gw cukup kecewa aja krn film ini ternyata memiliki dialog2 dan adegan2 yg kok kayaknya dipaksakan.. mereka terlihat berusaha untuk memuaskan pasar komersil, padahal film ini kalo bener2 diseriusin pasti akan lebih baik.. itu aja kok :)

    BalasHapus
  3. setuju sama lo hahaha

    baca review gue disini

    http://film-nggak-jelas.blogspot.com/2011/01/khalifah-2011.html

    sedikit spoiler nih, si rasyid matinya ketembak ato kecelakaan sih? wkwk

    BalasHapus