Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

2.1.11

[4 in 1 REVIEW] Selimut Berdarah, Istri Boongan, D'Love, Sweetheart

Share



Selimut Berdarah
KKD memang kebanyakkan duit sampe-sampe dia rela buang-buang reel film hanya untuk adegan yang seandainya dipotong pun tidak memberi pengaruh apa-apa kepada keseluruhan cerita. Tapi mungkin pikirnya, apalah arti beberapa menit reel film jika bisa menghasilkan uang lebih banyak.

Kira-kira begitulah kesan dari film yang ga jelas ini. Sebagian besar adegannya adalah adegan bisu seperti di video-video klip, tapi bedanya, film ini tidak dapat ditemukan suara orang bernyanyi.

Belum lagi ceritanya yang super duper konyol bin ajaib. Film yang hanya bermodalkan post-it stamp, kertas, selotip, dan spidol. Semakin memperkecil modal supaya ga usah ngecat ulang tembok, dinding yang berisikan tulisan-tulisan aneh itupun ditempeli kertas-kertas dulu, supaya begitu selesai syuting, kertas-kertas itu bisa langsung dicabut. WTF. Bener-bener ga ada totalitas.

The rest of the movie? I skip and forward it till the end. Goodbye.



Fahrani dan Dwi Sasono sebenarnya bukanlah nama kacangan dalam industri film. Tapi apa daya, namanya hidup perlu duit, sehingga film apa aja hayuk selama menghasilkan uang. Sepertinya begitulah prinsip yang dipakai kedua bintang film ini. Sementara Jupe, yang pada dasarnya memang dipandang sebelah mata (atau mungkin dengan mata tertutup oleh banyak orang), tampil tanpa diheran-herankan orang banyak.

Jupe sendiri sebenarnya mendapat poin plus plus banget dari gue tahun ini, kenapa? Karena gue awalnya memang seperti kebanyakkan orang yang menganggap ia tak lebih dari sekedar pamer bodi semata. Tapi penampilannya yang memukau di Jadikan Aku Simpanan dan Terekam membuat gue melihat Jupe dengan sangat objektif. Namun ternyata, malah aktingnya di Istri Boongan lah yang membuat gue terheran-heran. Ia tampil -maaf- murahan dan tampak sekali tidak ada usaha dalam berakting.

Overall ceritanya sendiri pun sangat amat bodoh. Pria mana yang dengan tega menawarkan kepada calon istrinya supaya posisinya digantikan, dengan alasan orangtuanya tak suka dengan sosok urakan, dan malah mencari wanita lain yang urakan supaya kemudian orangtuanya suka dengan penampilan calon istrinya yang kalem juga engga -- dan bukan malah memperbaiki penampilan calon istrinya menjadi lebih ndeso? Dan wanita bodoh mana yang mau saja dikibuli seperti itu sama calon suaminya? Rasa-rasanya dari awal mereka berdua memang tidak berniat untuk menikah.



D'Love
Helfi Kardit bukanlah sutradara yang dicintai pecinta film tanah air. Film-filmnya sendiri tidak pernah ada yang mendapat pujian bertubi-tubi dari kritikus maupun penonton. Belum lagi track record nya tahun ini yang tak menjanjikan, seperti Arisan Brondong, The Sexy City, dan Setan Facebook. Tapi ketika ia membuat D'Love dan gue melihat trailernya, jujur saja gue merasa bahwa ini merupakan suatu pertanda bagus untuk Helfi Kardit.

Aurelie Moeremans dan Rebecca Reijman yang sebelumnya sama-sama terlibat dalam Jinx jelas tampil lebih baik daripada saat mereka beradu akting di film sangat konyol di awal tahun tersebut, khususnya Aurelie. Sementara Agung Saga sebagai pendatang baru sekaligus tokoh utama pria di film ini, tampil sangat amat datar hingga terkesan tidak berakting sama sekali.

Peran lemah justru malah ditampilakn bintang rock senior, Achmad Albar yang berperan sebagai gay. Ia tidak 100% dalam berakting, hingga gayness nya tidak terlalu nampak, dan malah raut sedih yang seringkali muncul dari wajahnya.


Kalau di D'Love Aurelie dan Rebecca tampil cukup baik, maka di Sweetheart mereka tampil sangat baik! Cukup mengejutkan memang. Apalagi ditambah cerita yang pada dasarnya sangat klise. Tapi di luar dugaan mereka berhasil memerankan penderitaan dan sisi psikopat dengan sangat baik. Cerita klise tentang perjuangan remaja putri untuk jadi 'gaul' di SMA yang biasa diangkat Nayato rupanya bisa dibuat dengan baik dan tidak membosankan.. Ternyata, poster yang tampak sangat kacrut itu tak lantas membuat isinya juga sama buruknya dengan apa yang terlihat di luar ya :)

1 comments:

  1. Gue stuju, 100 % sama review lo.
    Dan trutama di D'Love. Mnurut gue ini film lumyan bagus dari Helfi dibandingkn film2 sblumnya. Tp syang sikap arogan dari Helfi, makanya film ini kurang diangkat oleh media.

    BalasHapus