[SEGERA] Dawai 2 Asmara - 8 September 2010

 8
Pemain: Ridho Rhoma, Rhoma Irama, Cathy Sharon, Delon, Pepeng Naif
Sutradara: Endri Pelita & Asep Kusnidar
Penulis: Asep Kusnidar
Genre: Drama Musikal
Produksi: RK23 & Falcon Pictures




Sinopsis
Ridho , yang sedang menuntut ilmu di negeri seberang , dipanggil pulang oleh ayahnya, Rhoma Irama untuk melanjutkan perjuangannya : memberi “nuansa baru” pada musik asli Indonesia yaitu dangdut. Di sisi lain kehidupannya, Ridho dihadapkan pada sebuah pilihan untuk kembali pada Thufa , cinta semasa SMP atau ia akan menyemai cinta baru pada Haura Sydney , mahasiswi Australia yang sedang meriset dangdut.  Sementara Thufa sendiri dihadapkan pada Delon , seorang penyanyi muda berbakat - yang mengejarnya untuk bertunangan. Kisah Ridho , Thufa , Delon dan Haura semakin rumit dengan kehadiran Bruto , seorang fans berat yang terobsesi pada  Rhoma Irama , Raja dangdut Indonesia




Trailer





Komentar
Pertama-tama... Posternya kelihatan seperti film horor...
Kedua... Trailernya.... Errr... Warnanya bagus, tapi gue mencium bau-bau #vividism di sini... Entah mengapa..
Ketiga.... Sutradaranya tak tampak trek rekod nya, kecuali mereka berdua adalah sama-sama lulusan IKJ tahun 97
Keempat.... Ini film pertamanya Ridho Rhoma, dan come back nya Rhoma Irama setelah sekian puluh tahun...
Kelima.... Gue ga tau apakah gue akan menonton film ini atau tidak... Ugh.... Tough one.. Tapi joged india rame-ramenya itu menggoda iman untuk dilihat.. hahahaha :))

1 comments:

[REVIEW] Ratu Kostmopolitan


REVIEW

Tak terasa, sudah hampir tiga bulan sejak film ini dirilis di tanah air. Dan jika ada yang ingat, film ini secara tak sengaja dirilis hampir bersamaan dengan perilisan (mengutip teman) film pribadi Luna Maya. Tapi di sini tentunya saya tidak ingin membicarakan mengenai hal ini.. :p

Tanpa disadari, saya telah menonton semua film Ody C. Harahap. Dari mulai Alexandria, Selamanya, Kawin Kontrak, Kawin Kontrak Lagi, Punk In Love, dan yang terbaru: Ratu Kostmopolitan. Dan ajaibnya, lima film Ody sebelumnya selalu gue suka, kecuali Punk In Love mungkin, karena film itu belum selesai ditonton. Sehingga ekspektasi gue terhadap film ini cukup baik, mengingat Ody juga bisa dikatakan spesialis film-film komedi rakyat seperti ini.

Kalau diperhatikan, ciri khas Ody kembali tampak di film ini. Selain gaya komedinya yang lebay seperti di Kawin Kontrak dan Kawin Kontrak Lagi (dan gue suka itu), Ody juga tampaknya senang merambah daerah perkampungan yang ramai penduduk, di mana terdapat kehangatan dan kebersamaan di dalamnya, selain ada pula keributan antar para tetangga. Selain itu, di sini juga gue memperhatikan bahwa Ody selalu membawa misi yang sama dalam setiap film yang disutradari dan ditulisnya sendiri (KK, KKL, PIL, RK): bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh – jika boleh gue ungkapkan demikian.

Cerita Ratu Kostmopolitan sendiri sebenarnya tidak bisa dibilang terlalu istimewa, tapi itulah ciri khas Ody seperti yang gue bilang tadi. Dia selalu mengangkat kisah-kisah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dengan segala konflik yang mungkin terjadi di dalamnya. Uniknya, di film ini, seperti di Punk in Love, Ody menggunakan bahasa daerah dalam percakapannya, sehingga mungkin agak mempersulit penonton yang tidak begitu mengerti bahasa-bahasa tersebut. Apalagi di Ratu Kostmopolitan ini, Luna Maya, Imey Liem, Tyas Mirasih, dan Bu Lax menggunakan bahasa daerah masing-masing yang entah bagaimana, rupanya mereka sudah saling mengerti satu sama lain.

Soal akting, yang paling menonjol buat gue adalah tokoh Pak RT. Pemain lama dan tetap berkualitas. Konsep penceritaan gambar yang kadang ditempeli frame juga lucu, seperti komik, walau gue ga ngerti tujuannya apa. Komedinya sendiri cukup lucu dan lebay, walau nggak semua humor yang ditampilkan berhasil membuat gue tertawa. Ditambah dengan tone warna yang asik dan Ody banget, serta iringan lagu yang cukup asik, Ratu Kostmopolitan bolehlah menjadi pilihan tontonan yang ringan dan menyenangkan. J

0 comments:

[REVIEW] The Sexy City

"Hidup di Jakarta tuh sulit.. Lu jangan sok suci atau sok moralis gini lah.. Nikmatin aja apa yang ada.." ~ Stella


Kisah sebelum, sewaktu, dan sesudah menonton film ini........
Seakan belum cukup kita diajari tentang “safe sex and no drugs” sejak jaman kanak-kanak, sineas-sineas juga seakan-akan terus menerus merasa bahwa masyarakat masih perlu dididik dengan cara ditunjukkan secara langsung melalui adegan reka ulang dalam layar. Helfi Kardit kini meneruskan jejak pakar film genre ini, Nayato Fio Nuala, untuk membuat film tentang kehidupan pinggiran kota Jakarta yang kayaknya selalu ga jauh-jauh dari seks bebas, narkoba, perjudian, dan banci.

Sebelum mulai cerita, FYI aja, gue nulis ini sambil nonton, saking bosennya gw "diajarin" hal-hal yang selalu dan melulu sama sejak gw SD. Ditambah gue kesel banget dengerin suara Ardina Rasti yang sangat amat menjengkelkan bin sok imut ini.

Katanya, Poppy (Ardina Rasti) adalah seorang gadis yang baru lulus SMA (gw asumsikan dari desa, karena di dialog berikutnya dia berkata bahwa keberadaannya di Jakarta adalah dengan harapan agar bisa kuliah). Tapi yang terjadi kemudian adalah, Poppy, seperti gadis-gadis (sok) polos lainnya, menemukan fakta bahwa Jakarta adalah kota yang keras dan sulit, sehingga jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang adalah dengan menjual diri, dan selalu kebetulan, tubuh para gadis ‘polos’ ini pastilah ‘bisa dijual’.

Hal aneh kemudian terjadi. Datanglah cowok idaman Poppy sejak SMA, Bona. Bona secara tak sengaja melihat Poppy yang kebetulan baru ingin masuk ke klab malam tsb dengan pakaian layaknya (maaf) PSK. Bagaimana reaksi Bona melihat kejadian tersebut?
A. "Poppy?! Ngapain kamu di sini?!" (Kaget)
B. "Poppy?" (Senang dan tidak kaget)
C. "Poppy? Kamu... Kerja di sini?? (Kaget dan jijik)
Kalau jawaban Anda A atau C, maka Anda salah. Jawaban yang paling tepat adalah B!
Jadi rupanya, dugaan awal gue salah. Poppy ternyata bukan dari desa.. Hmmm.. Dan Bona juga tampaknya.... Bukan dari desa... Hmm.. Ada yang aneh kan di sini?

Baiklah, lanjut ke cerita berikutnya. Tak cukup dengan kisah Bona-Poppy, muncul juga kisah lain yang tak kalah "sedih". Kisah pasangan pemakai narkoba yang dengan mudahnya menjual pacarnya ke om-om mata keranjang, dan di saat bersamaan dia malah main dengan cewek lain, ia adalah Fauzi Baadila (gue lupa nama karakternya siapa), dan ceweknya bernama Manda, yang ternyata juga kenal sama Poppy sejak SMP! Ckckckckck. Dunia memang sempit.

Dalam kisah-kisah seperti ini, pasti selalu ada satu sosok yang lebih berpengalaman. Peran itu jatuh kepada tokoh Stella di sini. Cewek yang sudah lebih "mapan" dalam kehidupan keras Jakarta ini berbaik hati memberikan atap pada Poppy dan Manda. Ternyata, Stella adalah gadis broken home yang ibundanya terlilit hutang, dan kejamnya bahkan menjual keperawanan anaknya sendiri demi membayar hutang-hutang judinya. Wah, lengkap sudah kisah penuh derita tiga gadis "rusak" ini. Kisah judinya rupanya belum berhenti di masa lalu. Kini, ibunya kembali terlibat hutang judi, dan menculik Stella serta meminta tebusan sebesar 50jt kepada teman-teman Stella yang sama-sama tidak punya apa-apa.

Apa mau dikata, Bona, mantan pacar Poppy (yang ternyata adalah gigolo), merasa sakit hati karena dicampakkan Poppy ketika tertangkap basah sedang bermain dengan Manda, malah menawarkan Poppy ke om-om kaya yg rela bayar 50jt demi keperawanannya Poppy. Poppy pun akhirnya dengan terpaksa menjilat ludahnya sendiri dan merelakan keperawanannya  kesekian kalinya kepada om-om itu (ingat, ia juga pernah merelakan keperawanannya di film Virgin). Tapi sia-sialah pengorbanan Poppy, karena Stella akhirnya mati terbunuh karena si penculik merasa dibohongi Poppy, dan Manda si pemakai narkoba pun mati OD. Hmmm... Merana lah hidup Poppy sendirian di kota yang sangat kejam ini..

Dan kisahpun berakhir, dengan gue yang terus menggeleng-geleng kepala...

0 comments:

[SEGERA] Lihat Boleh, Pegang Jangan - 8 September 2010


Pemain: Dewi Persik, Dimas Seto, Steve Immanuel, Mahadewi, Shinta Bachir
Sutradara: Findo Purnomo HW
Produser: Ody Mulya Hidayat
Produksi: Maxima Pictures

Sinopsis:
Warung Bakso Goyang Lidah milik Bang Kimbul, sudah lama bersaing sengit dengan warung bakso di depannya, Joget Lidah, milik Ibu Umi. Keduanya tidak mau mengalah, saling beradu, siapa yang lebih ramai pengunjungnya. Adalah Udjo anak bang Kimbul, yang diam-diam mencintai Salma, putri ibu Umi. Namun sayangnya, salma sedang mabuk asmara pada Jay, seorang pria mentereng, lulusan luar negeri yang jago bahasa Inggris, yang nampaknya sangat tertarik pada bisnis Bakso milik Bu Umi 

Di saat persaingan makin tajam hingga saling menjatuhkan dan mensabotase dengan berbagai cara. Tiba-tiba muncul warung bakso baru, SUPER DELICIOUS, yang mentereng interiornya, dengan fasilitas yang modern. Pemiliknya ternyata  adalah Jay, yang diam-diam, selain mencuri ilmu, juga membajak Neneng, salah satu pegawai kepercayaan Ibu Umi yang jago membuat bakso

Warung mereka tentu kalah bersaing. Dalam sekejap, semua pelanggan sudah beralih pada restoran Jay tersebut. Salma yang marah dan kecewa karena dikhianati, mengamuk, hingga akhirnya dimasukkan dalam penjara

Ketika Udjo berhasil membebaskan Salma, mereka diminta oleh Ibu Umi dan Pak Kimbul untuk bersatu mengalahkan restoran Jay. Ternyata sejak kecil Udjo dan Salma adalah soulmate dalam membuat bakso. Sekarang keahlian masa kecil mereka menjadi senjata satu-satunya untuk merebut kembali langganan mereka. Dengan jogetnya yang asyik - yang hanya boleh dilihat, tapi jangan dipegang - Salma memang mampu berhasil membuat bakso yang lezatnya bukan main, namun bagaimana caranya merebut pelanggan lama mereka yang sekarang telah beralih pada bakso lain? Bukan pekerjaan gampang tentunya, bahkan harus bersiap mengorbankan semua usaha yang telah mereka rintis selama ini




Trailer:





Komentar:
NGAKAK TO THE MAX!
INI ADALAH TRAILER TER-JENIUS YANG PERNAH DIBUAT MAXIMA!!!
Demi apapun, GUE PASTI NONTON DI HARI PERTAMA RILIS! (kalo bisa jam pertama), hahahaha
KALIAN SEMUA JUGA HARUS LIAT VIDEO NYA!
Kalo perlu download! HAHAHAHAHA :))
Jangan lupa, 8 September!


"Lihat, boleh... Pegang, jangan..."

2 comments:

[REVIEW] Bebek Belur (2010)





HASIL NONTON
Dengan berbagai macam poster yang dibuat seolah-olah ingin melucu, tentu wajar bagi gue untuk meng-under-estimate-kan film ini pada awal kemunculannya. Begitupun setelah film ini muncul dan mendapat sambutan cukup baik dari beberapa movie blogger yang sudah menonton film ini. Tapi dasar gue membal, sampe tadi akhirnya nonton dari hasil rental di tempat peminjaman juga, gue masih nggak yakin sama 'lucu' nya film ini. Bahkan, adegan pembukaannya yang sok-sokan film-film Holiwut juga bukannya membuat gue tertawa malah membuat kening gue berkerut.

Namun, adegan pembukaan kejar-kejaran bebek itu cukup berhasil membangunkan mood gue untuk menonton film ini dengan serius. Hasilnya? Cukup baik dan meninggalkan kesan.. Memang sih, buat gue,  film ini lucu, tapi tidak selucu seperti yang orang lain katakan -- tapi ya, namanya selera humor orang berbeda-beda. 

Tapi gue mendapatkan sesuatu yang lain dari film ini.. Perasaan "ikut masuk ke dalam film", karena semuanya begitu riil.. Perasaan bahagia, senang, kesal, dan tentunya adegan kejar-kejaran yang menjadi adegan pamungkas dalam film ini, semuanya menimbulkan perasaan seakan-akan gue ada dan ikut bersama kehebohan itu.. ;)

Bebek Belur persembahan Yamaha ini betul-betul mengandung keseluruhan unsur yang terpampang dalam varian posternya, action, romance, drama, horor (meski gue ga horor-horor banget), dan tentunya komedi. Semuanya ditampilkan cukup pas dan tidak berlebihan (menurut gue), dan pastinya berhasil merubah pandangan awal gue tentang film yang gue kira bakal jayus ini. 

Cara berpromosi seperti ini tampaknya patut terus diperhatikan perkembangannya (dan tingkat keberhasilannya tentu saja), karena cara seperti ini jelas lebih kreatif, lebih menghibur, dan berhasil mendatangkan sensasi yang berbeda daripada hanya sekedar melihat iklan-iklan biasa di TV.. Nice job, Yamaha! ;)

0 comments:

[SEGRA] Laskar Pemimpi - 30 September 2010

Pemain: Project Pop (Tika Panggabean, Udjo, Yosi, Oon, Gugum, Odie), Dwi Sasono, Shanty, Masayu Anastasia, Gading Marten, T Rifnu Wikana, Marcell Siahaan, Candil, Dimas Projosujadi, Marwoto
Sutradara: Monty Tiwa
Penulis: Monty & Eric Tiwa
Produksi: Starvision Plus
Genre: Komedi- Perang- Musikal




Sinopsis:

Setelah Agresi Belanda ke 2 di bulan Desember 1948, banyak pemuda yang ingin membantu perjuangan bersenjata berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk dilatih bertempur. Di antara mereka terdapat Gugum, Oon, Tika, Udjo, Odi dan Yosi (Project Pop)







Pada tahap seleksi keenam pemuda dari latar belakang yang berbeda ini menjadi menonjol karena ketidak kompetenan mereka. Hanya kesungguhan dan ketulusan niat untuk berjuang saja yang membuat komandan perekrutan, Kapten Hadi tidak sampai hati menolak mereka. Walau mendapat protes keras dari Letnan Bowo (Gading Marten) wakilnya, sang kapten membentuk suatu unit non tempur untuk menampung keenam pemuda tersebut. 

Tujuan utama pembentukan unit yang diberi nama Laksar Pemimpi ini adalah untuk menghibur pasukan. Karena itu mereka pun mendapat latihan yang berbeda dari para kader lain. Sebagai pelatihnya Kapten Hadi menunjuk Kopral Jono (Dwi Sasono). Ternyata si kopral bengal tidak terima disuruh memimpin unit Laskar Pemimpi dan melampiaskan kekecewaannya pada anak buahnya itu. Sejak hari pertama ia selalu menekan anggota unit Laskar Pemimpi dengan latihan-latihan yang berat. Situasi ini ternyata malah menumbuhkan kedekatan di antara anggota unit Laskar Pemimpi. 

Kesempatan itu datang saat unit Laskar Pemimpi diberi peran kecil dalam sebuah penyergapan. Rencana penyergapan gagal total karena ulah unit Laskar Pemimpi. Untunglah Kopral Jono sendiri berhasil selamat dari kejaran Belanda berkat bantuan anak buahnya. 

Sementara itu, Kapten Hadi menerima seorang utusan dari Yogyakarta datang menghadap membawa surat penting dari komandan Brigade X yang mengabarkan tanggal penyerbuan besar-besaran ke Yogyakarta.

Mereka bersiap untuk menjalankan tugas mencegat pasukan Belanda yang datang dari arah Semarang. Apa boleh buat, karena peristiwa Kedu, Unit Bagong menjadi tertinggal dalam tugas, tetapi akhirnya mereka sepakat untuk berangkat menyusul pasukan Kapten Hadi yang bertugas menghambat laju pasukan bantuan Belanda ke Yogyakarta. 

Ternyata, pasukan Kapten Hadi terhambat dalam perjalanannya ke posisi yang ditentukan. Hambatan itu bisa membuat pasukan bantuan Belanda dari Semarang bisa dengan mudah mencapai Yogyakarta sebelum serangan umum, Sementara itu unit Bagong yang bergerak di belakang mereka berhasil menyusul. Maka, demi keberhasilan misi yang diemban Kapten Hadi tidak punya pilihan lain selain minta Kopral Jono dan anak buahnya masuk ke Semarang demi menghambat laju pasukan pendukung Belanda. 

Kesempatan untuk membuktikan diri pun, akhirnya datang bagi unit Laskar Pemimpi dan Kopral Jono. 


Trailer:


Komentar:
Komedi-Perang-Musikal, eh? Seperti yg telah gue singgung di post sebelumnya. Tampaknya era film kolosal sudah mulai bangkit di Indonesia. Terhitung sudah tiga (termasuk ini) yang diproduksi dan akan tayang pada tahun ini. Permasalahannya adalah tinggal bagaimana penggarapannya, apakah memuaskan penonton atau tidak.

Monty Tiwa mungkin terinspirasi Inglorious Basterds, jika dilihat dari font tulisannya, juga genre nya (kecuali musikal nya tentunya). Jejeran pemainnya pun bisa dikatakan bukan nama baru dalam industri hiburan tanah air. Yossi yang sebelumnya pernah bermain dalam film Medley bisa dikatakan cukup baik. Begitu juga beberapa pemain lain yang sudah cukup senior dalam dunia akting, seperti Dwi Sasono, Shanty, dan Masayu Anastasia. Teuku Rifnu Wikana juga tampaknya mulai 'keranjingan' main film kolosal, mengingat di bulan September seri ke-2 Merah Putih: Darah Garuda juga akan tayang.

Harapan gue yah cuma satu.. Mudah-mudahan bagus.. Itu aja :)

0 comments:

[SEGERA] Rindu Purnama - 10 Februari 2011


Sutradara: Mathias Muchus
Pemain: Teuku Firmansyah, Titi Sjuman, Ririn, & Salma
Penulis: Ifa Isfansyah
Produksi: Mizan Production


Sinopsis: 
Menyusul

Sekilas film:
Sebuah film inspiratif untuk keluarga yang menunjukkan betapa cinta bisa mengubah semua orang, bahwa pada akhirnya kebaikan akan berjaya, dan bahwa beragama bukan hanya persoalan kesalehan individual, melainkan juga persoalan kesalehan sosial.
Berkisah tentang bagaimana seorang anak jalanan mengubah hidup tiga orang dewasa untuk menjadi lebih baik.


Trailer: 

Foto-foto:






























Komentar:
Biasanya gue kurang suka film anak-anak.. Apalagi begitu melihat font yang dipakai di poster film ini adalah font yang sama yang dipakai Laskar Pelangi / Sang Pemimpi -- yang mana gue ga suka. Tapi setelah melihat photo stills film ini, warnanya cerah.. Gue suka.. :D Juga karena penasaran pingin liat akting Titi Sjuman yang makin hari makin apik aja.. Dan karena faktor penulisnya, Ifa, di mana gue suka Garuda di Dadaku. Mudah-mudahan gue suka.. Karena film ini di atas kertas semestinya bagus.. Masalahnya tinggal gue suka atau nggak aja.. Hehehe

2 comments:

Blogger Template by Clairvo