[REVIEW] TE(REKAM)
Review:
Sempat meng-underestimate film yang dari judulnya saja sudah nyata-nyata meniru konsep handheld REC/Quarantine, serta curiosity para pemain Paranormal Activity terhadap "dunia lain", ternyata Te(rekam) yang juga hadir dari nama yang cukup meragukan ini, membawa hasil yang cukup di luar perkiraan.
Film ini sih bilangnya nggak ada skrip, nggak ada crew, dan nggak ada sutradara.. Masuk akal.. Mengingat konsep ceritanya adalah sekumpulan artis iseng yang juga kepingin ngerasain sendiri dunia mistis. Sepanjang film berlangsung, kamera dipegang bergantian, antara Olga-Monique-Jupe, atau dari kamera CCTV yang dipasang di sekita rumah percobaan mereka.
Hanya saja, entah mengapa, gue merasa cukup yakin kalau film ini tetap ada 'dalang'nya, walau dikata ga ada sutradara dll. Entah si Koya yang ngaku-ngaku cuma jadi editor, si Olga yang emang katanya punya ide cerita ini (mungkin dia terinspirasi karena abis nonton REC kali ya, DVD nya tergeletak dengan nyamannya soalnya deket meja kerjanya :p), atau Olga-Monique, atau mungkin ketiganya..
Tapi gua agak ragu sih sama opsi ketiga.. Scripted or no-scripted, Jupe ber'akting' dengan sangat meyakinkan dan menonjol (dalam arti sebenarnya yaa.. Jangan berpikiran macem2 :p). Beda dengan Olga, apalagi Monique yang kelihatan sangat tidak natural. Gua jadi tiba-tiba punya pemikiran.. Jangan-jangan si Jupe lagi dikerjain sama Olga-Monique-Koya lagi.. ;))
Well, despite all the good things yang cukup 'mengejutkan', sayangnyaaaa ada juga beberapa minus, yang membuat gua malah jadi semakin yakin kalo film ini memang 'sengaja' dibuat untuk dipublikasikan.. Bukan 'tidak sengaja' seperti yang dijual posternya..
Pertama: semestinya film ini tidak perlu menggunakan tambahan sound effect (apalagi secara berlebihan) -- seperti yang dilakukan Keramat -- sehingga hasilnya akan jauh lebih mendekati realita.
Kedua: wujud hantu nya sama seperti kebanyakan film-film horor lainnya. Ennnn... Hantunya narsis, boo!! Sering banget nongol di kamera..
Ketiga: penempatan adegan-adegan intens yang menumpuk di belakang membuat film ini jadi cenderung membosankan dan membuatnya tidak lagi mengagetkan (sebagaimana mestinya). Andai saja adegan di akhir-akhir film tidak 'dihadiri' oleh banyaknya pemunculan hantu narsis, mungkin penonton akan lebih terbawa suasana takut seperti di awal-awal film kali ya..
Sebagai penutup, te(rekam) memang bukan ide yang orisinil. Te(rekam) mungkin juga menipu penonton. Tapi te(rekam) cukup mengejutkan dengan paket akhir yang dibawanya ke distributor. Bisa dikatakan, ini merupakan salah satu karya terbaik seorang sutradara multi-kepribadian, multi-nama, dan multi-talenta -- the one and only Koya Pagayo a.k.a Nayato Fio Nuala.
Oh ya.. Dan gua jelas lebih memilih ini ketimbang Keramat yang mengusung gaya serupa. :D
Film ini sih bilangnya nggak ada skrip, nggak ada crew, dan nggak ada sutradara.. Masuk akal.. Mengingat konsep ceritanya adalah sekumpulan artis iseng yang juga kepingin ngerasain sendiri dunia mistis. Sepanjang film berlangsung, kamera dipegang bergantian, antara Olga-Monique-Jupe, atau dari kamera CCTV yang dipasang di sekita rumah percobaan mereka.
Hanya saja, entah mengapa, gue merasa cukup yakin kalau film ini tetap ada 'dalang'nya, walau dikata ga ada sutradara dll. Entah si Koya yang ngaku-ngaku cuma jadi editor, si Olga yang emang katanya punya ide cerita ini (mungkin dia terinspirasi karena abis nonton REC kali ya, DVD nya tergeletak dengan nyamannya soalnya deket meja kerjanya :p), atau Olga-Monique, atau mungkin ketiganya..
Tapi gua agak ragu sih sama opsi ketiga.. Scripted or no-scripted, Jupe ber'akting' dengan sangat meyakinkan dan menonjol (dalam arti sebenarnya yaa.. Jangan berpikiran macem2 :p). Beda dengan Olga, apalagi Monique yang kelihatan sangat tidak natural. Gua jadi tiba-tiba punya pemikiran.. Jangan-jangan si Jupe lagi dikerjain sama Olga-Monique-Koya lagi.. ;))
Well, despite all the good things yang cukup 'mengejutkan', sayangnyaaaa ada juga beberapa minus, yang membuat gua malah jadi semakin yakin kalo film ini memang 'sengaja' dibuat untuk dipublikasikan.. Bukan 'tidak sengaja' seperti yang dijual posternya..
Pertama: semestinya film ini tidak perlu menggunakan tambahan sound effect (apalagi secara berlebihan) -- seperti yang dilakukan Keramat -- sehingga hasilnya akan jauh lebih mendekati realita.
Kedua: wujud hantu nya sama seperti kebanyakan film-film horor lainnya. Ennnn... Hantunya narsis, boo!! Sering banget nongol di kamera..
Ketiga: penempatan adegan-adegan intens yang menumpuk di belakang membuat film ini jadi cenderung membosankan dan membuatnya tidak lagi mengagetkan (sebagaimana mestinya). Andai saja adegan di akhir-akhir film tidak 'dihadiri' oleh banyaknya pemunculan hantu narsis, mungkin penonton akan lebih terbawa suasana takut seperti di awal-awal film kali ya..
Sebagai penutup, te(rekam) memang bukan ide yang orisinil. Te(rekam) mungkin juga menipu penonton. Tapi te(rekam) cukup mengejutkan dengan paket akhir yang dibawanya ke distributor. Bisa dikatakan, ini merupakan salah satu karya terbaik seorang sutradara multi-kepribadian, multi-nama, dan multi-talenta -- the one and only Koya Pagayo a.k.a Nayato Fio Nuala.
Oh ya.. Dan gua jelas lebih memilih ini ketimbang Keramat yang mengusung gaya serupa. :D







7 comments: