Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

17.11.10

8 Ulasan Pendek! :D

Share
Udah lama ga ngepost review karena belakangan males banget nulis review.. Hehehe.. Jadi sekarang pengen ngepost beberapa short review dari film-film yang udah gw tonton tapi belom dibuat review panjangnya.. Review ini juga sengaja di-post sebagai dokumentasi akan film Indonesia apa saja yang sudah gw tonton di tahun 2010 ini :)








Nazar (2009)
Sebenernya gw nonton film ini sudah lamaaaa sekali.. Awalnya sempat mengira bahwa film ini bagus - dari judulnya aja udah nggak biasa. Taunya? Hanya teenlit biasa. Posternya pun sangat mengejutkan - ga sebanding dengan judulnya yang terlihat cukup 'berat'.






Toilet 105 (2010)
Dari poster, judul, sinopsis, pemain, trailer - semuanya terlihat sampah. Filmnya pun seperti film horor Indonesia kebanyakkan - menjual kulit mulus dan putih, dengan cerita nol besar dan tingkat keseraman minus 10 untuk genre film horor.









Affair (2010)
Entah apa yang dipikirkan Nayato waktu membuat film ini.. Film dalam kebisuan selama 45 menit pertama (dan ga tau kalo menit selanjutnya juga masih sama)?? Helllooowwww???? Wasn't it supposed to be a film where we can hear screams and shoutings?? Where is that beside some afraid-looking-wannabe?

Entahlah. Menurut gue, dari sekian banyak list film yang sudah dibuat Nayato tahun ini, dengan segala kemiripannya, Affair bisa gw katakan sebagai karya terburuknya tahun ini. Memakai bintang yang sama, mengikuti genre yang sama, tapi GAGAL!




Love and Edelweis (2010)
Kalau tidak salah, film ini sempat tertunda cukup lama sampai akhirnya tayang di bulan April 2010 ini.

Jujur aja.. Film ini ga gw tonton sampe abis karena udah terlanjur bosan sama ekspresi Mike Lucock yang sangat tidak berhasil menunjukkan wajah psikopat. Belum lagi setting-nya yang sangat tidak riil. Adegan di hutan tapi perlengkapan dan pakaian tidak menyesuaikan.

So, I can say that Love and Edelweis is Pencarian Terakhir wannabe, but it FAILS!

Pocong 2 (2006)
Film 'pertamanya' dilarang tayang karena terlalu seram katanya. Disuruh potong adegan-adegan tertentu, mereka ga mau dan memilih untuk membuat film baru yang kata pecinta film horor merupakan salah satu film Indonesia terseram yang pernah mereka tonton. Gue ga tau gue udah kebal sama film horor apa gimana, tapi buat gw Pocong 2 ini tidak seseram kata orang-orang.

Tapi yang jelas, film ini memang berbeda dari film horor kebanyakkan, karena memang benar-benar mengandalkan atmosfir apa adanya (tidak ada musik-musik yang malah membuat rasa kaget itu hilang - pocong nya pun tak narsis), juga tidak menambah bumbu-bumbu khusus untuk memancing penonton datang ke bioskop dan menontonnya. Pun duet pemeran utama, Ringgo - Reva, mereka berhasil menampilkan wajah ketakutan yang natural dan bersinergi dengan keseluruhan film.Suatu pencapaian yang patut diapresiasi.


Sehidup (Tak) Semati (2010)
Berharap banyak pada Fanny Fabriana setelah penampilannya di Hari Untuk Amanda -- pun dengan Winky Wiryawan setelah penampilan mengesankannya di Demi Dewi. Tapi hasilnya? Gue agak kecewa sih..

Fanny ternyata tampil tidak jauh berbeda dengan di HUA -- sehingga tercipta kesan bahwa ia hanya bisa tampil seperti itu saja. Sementara Winky malah mengalami penurunan kualitas. Yang agak sedikit menonjol di sini malah Joanna Alexandra, yang semakin menunjukkan bahwa ia bisa memainkan banyak peran dengan karakter berbeda-beda di tiap filmnya.


Menculik Miyabi (2010)
Maxima memang benar-benar menjual nama Miyabi untuk 'menipu' para penontonnya. Mukanya ditampilkan paling besar di poster, nama dipajang mentereng pula, tapi penampilannya hanya di menit-menit awal film berjalan. Selebihnya? Penonton yang mengharapkan kehadiran Miyabi hanya akan diberikan KW2 nya, yaitu MiYaoBie. WTF.

Kehadiran trio jayus pun tak memberi hiburan apa-apa di film ini. Udah poster niru-niru Up in the Air, jualan nama orang yang nongol sekitar 5 menitan aja, cerita ala kadarnya, tapi berhasil mendapatkan 500rb penonton. Maxima memang juara dalam hal jualan film...


Roman Picisan (2010)
Tora Sudiro setelah sekian lama akhirnya kembali bermain dalam film drama komedi romantis. Berpasangan dengan mantan Puteri Indonesia, Artika Sari Devi, bagaimana penampilannya? Apakah membosankan seperti biasa? Jawabannya adalah iya. Tora masih tampil dengan guyonan tak lucunya seperti biasa, dan jelas tidak ia telah kehilangan charm nya sebagai sosok pria romantis seperti ketika kita menontonnya di Arisan! ataupun Banyu Biru.

Selain itu, film ini benar-benar cocok dan sesuai dengan judulnya. Roman Picisan. Seolah ingin mengajak kita kembali ke masa lalu dengan kisah cinta klise -- semuanya memang terasa sangat.... Roman Picisan! Dari dialog, jokes, juga cerita secara keseluruhan.. Sangat tertebak. Bisa dibilang, cerita ini layaknya FTV yang biasa ditayangkan di salah satu TV swasta. Parahnya, FTV-FTV itu pun kadang bisa menampilkan sesuatu yang lebih menarik, dan tentunya chemistry yang lebih kuat antara dua pemain utamanya. Sementara ini? Flat as floor.

2 comments:

  1. gue setuju sama menculik miyabi, toilet 105, sehidup (tak) semati dan affair karena udah gue review

    anehnya film si fanny masuk FFI lho. haha...

    tuker link yuk gan..

    BalasHapus
  2. sipp. link sudah dipasang.. tp feed nya ga mau keluar tuh :(

    BalasHapus