Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

26.10.10

[REVIEW] Madame X

Share

Ada beberapa hal yg perlu diperhatikan dari Madame X:
1. Nama Nia Dinata di kursi produser, yang artinya menjanjikan sebuah sajian yang baik dari segi kualitas
2. Nama Joko Anwar sebagai salah satu cast, yang artinya juga sama seperti di atas, menandakan bahwa ini bukanlah sebuah film asal-asalan
3. Ide cerita yang fresh dan unik, yang belum pernah ditemukan sebelumnya di perfilman Indonesia

Lantas, apakah ketiga poin mendukung di atas mampu menjadikan Madame X sebuah film action comedy yang dikategorikan sukses menghibur penontonnya?

Pertama-tama, gue ingin membahas dari segi marketing film ini dulu. 
Film ini mulai tayang reguler per tanggal 7 Oktober 2010, tapi acara Premiere sudah dilaksanakan sejak bulan Agustus 2010. Hal yang aneh? Tentunya tidak. Tapi yang aneh adalah kelanjutannya. Gue lupa persisnya tanggal berapa, tapi kira-kira 2 minggu menjelang jadwal rilis untuk umum, pihak Kalyana Shira rupanya mengadakan Premiere ke-dua. Lalu, kira-kira tanggal 25 September, mereka mulai menyangkan Madame X untuk show tengah malam di bioskop-bioskop. Apakah menurut Anda mereka sudah kebanyakkan bikin acara "nonton duluan dari yang lain" sebelum rilis reguler? Itu belum termasuk serangkaian acara nonton bareng (baca: gratisan) yang mereka adakan sebelum film ini rilis ke pasar umum lhoo.

Gue paham sih kalo mereka ingin memanfaatkan buzz / word of mouth untuk meningkatkan keinginan orang untuk menonton film ini. Tapi masalahnya, apakah berhasil? Apakah film ini cukup baik dan cukup memuaskan para "penonton awal" mereka itu untuk kemudian menyebarkannya pada teman-temannya yang lain, dan mengajak mereka untuk mau menonton film ini?

Jujur saja, gue pribadi agak risih dengan cara seperti ini, yang mengakibatkan hilangnya hasrat gue untuk nonton -- padahal awalnya gue sangat excited menanti kehadiran film ini. 

Ada dua film tahun 2009 (Merah Putih dan Serigala Terakir) yang menggunakan trik marketing serupa. Hasilnya? Tidak begitu baik. Penonton yang akhirnya menonton di jam tayang reguler tidaklah sebanyak yang mereka harapkan. Pun ketika gue menonton Madame X hanya dalam waktu seminggu setelah ia tayang reguler. Satu bioskop hanya terisi kurang dari 10 orang, padahal itu adalah tempat yang biasanya sangat laris manis ditongkrongi para pecinta film Indonesia.

Lalu sebetulnya, apa sih yang salah dengan tidak mulusnya strategi promo besar-besaran mereka ini? Padahal film ini sudah didukung poin-poin penting yang seharusnya menjadi kunci sukses mereka lho..

Kesalahan terbesar buat gue adalah Aming yang diplot sebagai pemain kunci film ini. Lucunya, karakter Madame X juga merupakan buatan Aming.. Padahal kita semua sudah tahu bahwa DULU Aming memang lucu. Tapi sekarang? Apakah persepsi orang masih sama? Karena sadar atau tidak, lawakkan Aming makin ke belakang makin garing dan itu-itu aja. Terbukti juga di film ini. Ia berulang kali melontarkan ekspresi-ekspresi dan jokes-jokes lucu, tapi yang berhasil membuat penonton tertawa hanya sepersekian dari sekian banyak. Bukan Aming saja. Tapi juga beberapa pemain lain seperti Titi Dj dan Sarah Sechan yang bermain agak sedikit berlebihan dan terlalu memaksa untuk terlihat lucu.

Penyelamat film ini tentu saja bisa gue katakan adalah Joko Anwar. Ia bermain dengan sangat natural (tidak berlebihan) dan meyakinkan. Kalo boleh dibilang, seandainya gue ga tau kalo Joko Anwar akan main film ini, gue pasti akan bertanya-tanya, "Itu yang jadi Aline siapa ya?".

Sayang sih memang, scoring yang mumpuni dari Aghi Narottama dan Bembi Gusti, serta visual yang sangat artistik ini tidak bisa diimbangi dengan keseluruhan kemasan yang dihasilkan. 

Lucky Kuswandi tidak mengawali karirnya sebagai sutradara dengan buruk, tapi ia hanya butuh lebih banyak jam terbang saja untuk melatih dirinya, juga untuk menemukan apa yang sebenarnya ia inginkan dan ingin ia ceritakan kepada penontonnya.

0 comments:

Posting Komentar