Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

21.8.10

,

[REVIEW] The Sexy City

Share
"Hidup di Jakarta tuh sulit.. Lu jangan sok suci atau sok moralis gini lah.. Nikmatin aja apa yang ada.." ~ Stella


Kisah sebelum, sewaktu, dan sesudah menonton film ini........
Seakan belum cukup kita diajari tentang “safe sex and no drugs” sejak jaman kanak-kanak, sineas-sineas juga seakan-akan terus menerus merasa bahwa masyarakat masih perlu dididik dengan cara ditunjukkan secara langsung melalui adegan reka ulang dalam layar. Helfi Kardit kini meneruskan jejak pakar film genre ini, Nayato Fio Nuala, untuk membuat film tentang kehidupan pinggiran kota Jakarta yang kayaknya selalu ga jauh-jauh dari seks bebas, narkoba, perjudian, dan banci.

Sebelum mulai cerita, FYI aja, gue nulis ini sambil nonton, saking bosennya gw "diajarin" hal-hal yang selalu dan melulu sama sejak gw SD. Ditambah gue kesel banget dengerin suara Ardina Rasti yang sangat amat menjengkelkan bin sok imut ini.

Katanya, Poppy (Ardina Rasti) adalah seorang gadis yang baru lulus SMA (gw asumsikan dari desa, karena di dialog berikutnya dia berkata bahwa keberadaannya di Jakarta adalah dengan harapan agar bisa kuliah). Tapi yang terjadi kemudian adalah, Poppy, seperti gadis-gadis (sok) polos lainnya, menemukan fakta bahwa Jakarta adalah kota yang keras dan sulit, sehingga jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang adalah dengan menjual diri, dan selalu kebetulan, tubuh para gadis ‘polos’ ini pastilah ‘bisa dijual’.

Hal aneh kemudian terjadi. Datanglah cowok idaman Poppy sejak SMA, Bona. Bona secara tak sengaja melihat Poppy yang kebetulan baru ingin masuk ke klab malam tsb dengan pakaian layaknya (maaf) PSK. Bagaimana reaksi Bona melihat kejadian tersebut?
A. "Poppy?! Ngapain kamu di sini?!" (Kaget)
B. "Poppy?" (Senang dan tidak kaget)
C. "Poppy? Kamu... Kerja di sini?? (Kaget dan jijik)
Kalau jawaban Anda A atau C, maka Anda salah. Jawaban yang paling tepat adalah B!
Jadi rupanya, dugaan awal gue salah. Poppy ternyata bukan dari desa.. Hmmm.. Dan Bona juga tampaknya.... Bukan dari desa... Hmm.. Ada yang aneh kan di sini?

Baiklah, lanjut ke cerita berikutnya. Tak cukup dengan kisah Bona-Poppy, muncul juga kisah lain yang tak kalah "sedih". Kisah pasangan pemakai narkoba yang dengan mudahnya menjual pacarnya ke om-om mata keranjang, dan di saat bersamaan dia malah main dengan cewek lain, ia adalah Fauzi Baadila (gue lupa nama karakternya siapa), dan ceweknya bernama Manda, yang ternyata juga kenal sama Poppy sejak SMP! Ckckckckck. Dunia memang sempit.

Dalam kisah-kisah seperti ini, pasti selalu ada satu sosok yang lebih berpengalaman. Peran itu jatuh kepada tokoh Stella di sini. Cewek yang sudah lebih "mapan" dalam kehidupan keras Jakarta ini berbaik hati memberikan atap pada Poppy dan Manda. Ternyata, Stella adalah gadis broken home yang ibundanya terlilit hutang, dan kejamnya bahkan menjual keperawanan anaknya sendiri demi membayar hutang-hutang judinya. Wah, lengkap sudah kisah penuh derita tiga gadis "rusak" ini. Kisah judinya rupanya belum berhenti di masa lalu. Kini, ibunya kembali terlibat hutang judi, dan menculik Stella serta meminta tebusan sebesar 50jt kepada teman-teman Stella yang sama-sama tidak punya apa-apa.

Apa mau dikata, Bona, mantan pacar Poppy (yang ternyata adalah gigolo), merasa sakit hati karena dicampakkan Poppy ketika tertangkap basah sedang bermain dengan Manda, malah menawarkan Poppy ke om-om kaya yg rela bayar 50jt demi keperawanannya Poppy. Poppy pun akhirnya dengan terpaksa menjilat ludahnya sendiri dan merelakan keperawanannya  kesekian kalinya kepada om-om itu (ingat, ia juga pernah merelakan keperawanannya di film Virgin). Tapi sia-sialah pengorbanan Poppy, karena Stella akhirnya mati terbunuh karena si penculik merasa dibohongi Poppy, dan Manda si pemakai narkoba pun mati OD. Hmmm... Merana lah hidup Poppy sendirian di kota yang sangat kejam ini..

Dan kisahpun berakhir, dengan gue yang terus menggeleng-geleng kepala...

0 comments:

Posting Komentar