Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

26.6.10

,

[REVIEW] Kain Kafan Perawan

Share




REVIEW
Udah lama ga nge-review ala #vividism karena belakangan film-film yang masuk kategori #vividism tidak se-#vividism yang dibayangkan -- yang artinya, terlalu membosankan untuk dibuat 'lucu'. Tapi akhirnya, gue akhirnya ketemu juga nih film yang cukup layak untuk gw review ala #vividism di tahun ini. Dan jerejengjeng! Film itu berjudul: Kain Kafan Perawan, karya tak lain tak bukan..... NAYATO FIO NUALA!!!

Film dibuka dengan adegan seorang wanita yang sedang melarikan diri dengan kondisi baju robek dan kelihatan BH nya saja, serta berdarah-darah -- panggil ia Rasti. Kemudian, muncul lah judul film ini. Setelahnya, terdengarlah suara: "ACTION!" dari sebuah pengeras suara yang gue lupa istilahnya apa. Dan tampaklah beberapa wanita - termasuk Rasti - sedang berjoged-joged dan bernyanyi-nyanyi di dalam dan di rel kereta api. Rupanya, mereka sedang shooting sebuah video klip yang low budget, di mana si penyanyi (alias Rasti) adalah sutradaranya juga. Lalu, siapa yang bilang "ACTION!" tadi? Oh.. ternyata dia hanyalah seorang script yang baik. Betul, anda tidak salah baca, dan saya tidak salah tulis. Rasti si sutradara berkata seperti ini pada temannya yang bilang "ACTION!" tadi itu, "Yang jadi sutradara siapa sih? Mending lo sana duduk, jadi script yang baik."




Karena kelelahan dan sudah tak memiliki dana lagi untuk membeli makanan kecil (ya, lagi-lagi anda tak salah baca, dan saya pun tak kelebihan kata-kata), si kameramen video klip rupanya menjadi tidak fokus dan mengambil gambar BLUR semua. Akhirnya karena kesal, Rasti kemudian membubarkan shooting hari itu dan kembali ke editing room untuk mengedit video yang blur itu tadi. Tebak apa yang ditemukan Rasti kemudian? PENAMPAKAN di salah satu gambar yang diambil tadi. jengjengjengjeng...

Rasti kemudian muncul dengan suatu ide yang sangat orisinil, dan dipercaya menjadi inspirator Olga Lidya untuk membuat Te(Rekam). Ia percaya bahwa lokasi shooting mereka kemarin berhantu, dan mengajak teman-temannya untuk membuat sebuah film dokumenter yang mengabadikan momen-momen mendebarkan itu, kemudian menjualnya kepada produser, kemudian mereka pasti akan menghasilkan uang banyak untuk itu. Mari perhatikan sejenak dialog Rasti dan teman-temannya...
Kameramen: No no no no.. gue ga mau jadi kameramen film horor! gue mau bikin film serius yang bisa ikutan festival.
Rasti: ya ampun, yang namanya bikin film horor tuh film yang laku di pasaran!

(ga heran kenapa belakangan Yato banyakan bikin pelem horor.. ckckckck)

Kembalilah mereka ke gerbong kereta tempat mereka shooting kemarin. 20 menit selanjutnya adalah adegan horor gelap-gelapan favorit Yato, yang dilengkapi dengan gue yang kebosanan melihat para aktor dan aktris yang sok berani itu sok sok ketakutan terus menerus. Satu per satu dari mereka kemudian mati dengan mengenaskan, dibunuh teman mereka yang rupanya kerasukan. Hmm, salah mereka sendiri sih, tidak mendengarkan nasihat dari si penjaga gerbong tonggos yang bilang begini, "tempat ini angker// waktu itu/ ada perempuan mati/ diperkosa/ gerbong kereta//" >> yep. saya tidak salah tulis lagi. dialog ini sampai saya rewind 3x karena meragukan kebersihan telinga saya yang dapat mengakibatkan kesalahan dalam pendengaran. Namun ternyata saya tidak salah mendengar.




Setelah bergelap-gelap ria, Yato memberikan penonton sedikit pencerahan dengan set yang cukup terang, juga adegan Ratu Felisha yang tidur dengan posisi yang menggoda. Feli dan temannya adalah seorang fotografer yang jelas jauh lebih model-look-a-like ketimbang model yang difoto Feli dan temannya yang tidak sayang adik ini. Bayangkan, ketika Feli sedang kuatir karena adiknya sudah menghilang semalaman, ia malah menyarankan agar Feli baru menelpon polisi esoknya, jika memang adik Feli (a.k.a Rasti) belum pulang juga esoknya.


atas: model, bawah: fotografer


Tak lama setelahnya, Feli mendapat kabar bahwa Rasti masuk rumah sakit dan menderita luka parah. Ia kemudian ditemani temannya menuju rumah sakit, menggunakan kereta api. Well, entah berusaha unik, biaya shooting di kereta lebih murah, atau alasan apa, tapi tampaknya Yato sangat hobi menggunakan kereta api di film ini. Hmm, atau mungkin karena dia udah kenal betul sama pengurus kereta api ya, kan sebelumnya dia juga udah pernah shooting film horor di sana..

Adegan kemudian kembali diisi oleh adegan sok-sok ketakutan oleh teman Feli, Feli, dan juga suster rumah sakit, yang entah mengapa jadi ikut diteror sama si hantu ini. Oh ya, tak lupa juga ada adegan bath tub oleh Feli (iya dong, kalo nggak itu bath tub di poster nongol dari manaaa), adegan buka baju dan mandi teman Feli, juga adegan buka dan ganti baju si suster.

Kelelahan dihantui tanpa sebab oleh si hantu, Feli dan temannya kemudian mendatangi dukun yang menyarankan mereka untuk mengambil kain kafan perawan dan membakarnya untuk menghilangkan gangguan roh jahat ini. Hal yang hampir selalu dilakukan orang-orang ketika kepepet diganggu makhluk halus: mendatangi dukun. Ck, ga orisinil seperti ide film dokumenter Rasti..

Akhirnya, mereka mendapatkan kain yang mereka inginkan, kembali ke gerbong dengan tak lupa gangguan oleh hantu yang ternyata adalah seorang mahasiswi yang berasal dari Jawa Barat namun berkuliah di perguruan tinggi di Jakarta ini. Setelah berhasil membakar kain itu, mereka pun akhirnya terbebaskan dari gangguan -- pun juga Rasti yang di saat yang bersamaan sedang diganggu oleh hantu nenek bangsal sebelah (mengingatkan gua akan film 5bia).

Btw, rasanya ada yang kelupaan.. Hmm, apakah gue udah bilang kalo kayaknya film ini di-dubbing semua sepanjang film berjalan? Dan..... rasa-rasanya.. jumlah dubber nya tak lebih dari 5 orang? Karena suara seluruh pemeran hampir terdengar sama antara satu dan yang lainnya. Termasuk si suster dan ibu-ibu di rumah sakit, juga si dokter? Bahkan, suara Feli dan Rasti pun berbeda dari biasanya. Apa jangan-jangan mereka hanya nampang bodi doang? Hmmm...

3 comments:

  1. Kameramen: No no no no.. gue ga mau jadi kameramen film horor! gue mau bikin film serius yang bisa ikutan festival.
    Rasti: ya ampun, yang namanya bikin film horor tuh film yang laku di pasaran!

    ^^
    nih sebenarnya curhatan yg terjadi antara nayata sendiri sama si koya pagayo

    dan akhirnya terwujud jadi film epic fail lol

    BalasHapus
  2. "tempat ini angker// waktu itu/ ada perempuan mati/ diperkosa/ gerbong kereta//"

    uihhhh, filmnya serem bener. Gerbong Kereta perkosa perempuan. Atutttt... :hammer
    Kalau pakai judul Diperkosa Gerbong Kereta sepertinya bakalan lebih menjual tuh.

    BalasHapus
  3. @kk rang2: bisa jadi yak.. hahahaha.. atau berusaha meniru adegan dialog Janji Joni atau Pintu Terlarang :p

    @kk tariz: saya sampe ulang 3x loh.. kirain saya salah denger.. *ngakaks

    BalasHapus