Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

5.6.10

[DOUBLE REVIEW] Arisan Brondong + Ssh.. Jadikan Aku Simpanan

Share


Well, hari ini nonton marathon dua film sekaligus.. Arisan Brondong dan Ssh.. Jadikan Aku Simpanan. Keduanya memiliki beberapa kemiripan, antara lain: keduanya adalah film keluaran 2010, ditulis oleh orang yang sama: Cassandra Massardi, dan sama-sama memiliki narator dalam metode penceriteraannya.

Dimulai dari Arisan Brondong yang bercerita tentang seorang pemuda miskin yang memacari seorang gadis kaya. Ia sadar bahwa untuk menjalin hubungan dengan sang gadis, maka ia harus memiliki uang supaya bisa menjalani kehidupan pacaran seperti pemuda-pemudi lainnya. Kesempatan pun datang. Bos tempat ia bekerja (Bella Saphira) yang kebetulan sedang dalam pencarian brondong agar tak kalah saing dengan musuh bebuyutannya (Andy Soraya) pun memberikan pekerjaan baru untuknya. Ia kemudian dilelang dalam sebuah arisan bersama para tante lainnya. Kehidupannya sebagai brondong pun dimulai.

Sejak pertama kali sekali melihat judul, poster, plus trailer filmnya, gue cukup yakin kalau film ini adalah Quickie Express wannabe. Tapi sedari awal pula gue sudah yakin bahwa filmnya akan kacrut dan "mengumbar", mengingat PH nya adalah Maxima Pictures -- yang kembali memakai artis bule, Heather Graham.

Setelah menonton, ternyata gue ga salah. Film ini memang Quickie Express wannabe (versi cupu pastinya), ditambah pula Kawin Kontrak wannabe (masih juga bersi cupu), ditambah bumbu-bumbu melodramatic ala sinetron-sinetron. Memang sih, ada beberapa adegan yang bisa memancing tawa, tapi itu bisa dihitung dengan jari, dan jelas tak sebanding dengan tampilan film secara keseluruhan.

Bella Saphira yang dikira mampu meneruskan jejak mantan bintang LUX yang kembali beken setelah bermain untuk Maxima, Tante Tamara, ternyata 1000% gagal. Dari segi bodi, jelas kalah jauh. Dari segi akting.. hmmm... walau akting Bella jelas lebih baik dari Tamara, tapi akting Bella lebih sinetron-ish lagi dari Tamara.

Film berjalan dengan nuansa fun dari awal hingga tengah, namun kemudian menjadi klise, predictable, dan sinetron-look-a-like dari tengah hingga akhir. Walau demikian, Arisan Brondong masih bisa dinikmati dan tidak membosankan (pada bagian awal) -- dan jelas tidak se-membosankan film keluaran Maxima dan Mbak Dedew, Tiran.






Lanjut ke film kedua, Ssh.. Jadikan Aku Simpanan. 

Terbalik dengan Arisan Brondong, gue pertama kali tau tentang film ini adalah ketika melihat trailernya di bioskop sebelum menonton sebuah film yang gue lupa apa. Dan jujur, gue sangat tertarik dan sangat berniat untuk menontonnya ketika menyaksikan trailer tersebut. JuPe berhasil menarik perhatian gue, dan komentar pertama gue setelahnya adalah: Jupe emang beneran bisa akting, men!

Setelah menyaksikan akting JuPe di Te(Re)Kam, ditambah beberapa pernyataan mendukung dari teman-teman yang memang mengerti soal film dan akting, gue semakin meyakini kalau Julia Perez memang betul-betul bisa akting. Dan akhirnya, gue pun berkesempatan menonton film ini setelah (kalau tidak salah) cukup flop di pasaran waktu itu.

Bercerita tentang seorang gadis shopaholic, Pamela (Acha), tapi lagi-lagi terbentur masalah keuangan, Pamela kemudian mencari beragam macam cara agar ia bisa menjadi cantik dan kaya. Tercetuslah ide untuk menjadi gadis simpanan setelah melihat bukti di depan mata kepalanya sendiri. Singkat cerita, ia kemudian berkenalan dengan Miss Tisye (Jupe), pemilik Mekarsari Club, sebuah tempat yang memproduksi gadis-gadis simpanan kualitas tinggi.

Ternyata, gue suka dengan film ini. Mungkin karena faktor Jupe kali ya.. Ia berhasil menampakkan wajah professional, sedih, hanya lewat matanya -- dan tidak lebay tentu saja. Bisa dibilang gue memang jadi agak subjektif, karena sebetulnya secara tampilan (dari poster, hingga visual film), JAS tidak memiliki kelebihan apa-apa, alias standar -- kalau tidak mau dibilang kurang (baca: jelek). Namun demikian, ceritanya pun memang berhasil terpetakan tanpa perlu nasihat-nasihat eksplisit yang menggurui, ataupun adegan-adegan vulgar yang tak perlu seperti di kebanyakan film sex education-nya Nayato.

Andai saja posternya dibuat lebih baik dan tidak sok menjual seperti itu, mungkin orang akan lebih tertarik untuk menontonnya. Dan andai saja nama Julia Perez tak kadung memiliki citra buruk, ia bisa saja diperhitungkan di industri perfilman tanah air. Andaiiii saja....


3 comments:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Jupe emang keren aktingnya, si Perssik seharusnya malu ama Jupe. Selain citra buruk di masyarakat, aku kira Jupe sering salah pilih film. Dia demen banget main film seperti ini, seharusnya nyari peran yg lebih menantang. Akting dia di Cinta Setaman & Terekam bikin aku jatuh cinta. Top abis!

    BalasHapus
  3. payudaranya mbak jupe juos gandoss
    aq pengen gtuan

    BalasHapus