Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

22.1.10

, , , , , , ,

[REVIEW] Jejak Darah - 21 Januari 2010

Share
Tanggal rilis: 21 Januari 2010
Sutradara : Nur Hidayat
Pemain: Mentari, Talita Latief, Dimas Aditya, Robby Tumewu

Review:
Film ini betul-betul membuat gue marah. Berani-beraninya dia nongol barengan sama Rumah Dara! Udah namanya mirip lagi! Dan yang paling bikin gue kesel adalah: film ini kesannya seperti sengaja dirilis lebih cepat demi 'mengelabui' penonton yang mungkin saja agak kesaruh antara Rumah Dara dan Jejak Darah. Bukti lain mengapa film ini terkesan sangat buru-buru: satu hari sebelum tayang bahkan di website 21cineplex belum ada judulnya di Coming Soon - apalagi trailernya! Begitu gue google "jejak darah" pun, yang keluar semua hanyalah tentang novelnya (yang katanya sih best seller) dan berita dari kapanlagi  dan sbeberapa situs lainnya yang memakai judul "talita dipaksa aborsi" atau "film berdasarkan kisah nyata penjualan ari-ari". Sementara berita detail tentang filmnya? Nihil.

Melihat cover novelnya, gue sih langsung teringat sama poster film Grace yang di sebelah kanan ini. Selintas mirip, bukan? Jujur, walaupun seandainya cover novel Jejak Darah meniru poster film Grace, toh gue masih bilang cover novel ini cukup membuat orang tertarik - salah satunya gue. Coba bandingkan dengan poster film Jejak Darah yang akhirnya jadi sangat umum, biasa-biasa saja, dan tidak istimewa.

Akhirnya, di tengah rasa kesal gue, gue memutuskan untuk menonton film ini dalam rangka studi banding, sekaligus survey lokasi, banyakan mana penonton Dara gadungan dan Ibu Dara yang asli. Hasilnya? Yang asli memang lebih menarik perhatian penonton.

Awal-awal film saja gue sudah dibuat berkerut oleh film ini. Bagaimana tidak? Mereka memakai San Diego Hills - yang notabene adalah tempat pemakaman - sebagai lokasi perkuliahan! Tidak cukup sampai di situ, lokasi tersebut, 5 tahun kemudian, digunakan sebagai tempat foto pre-wedding. HAH?! Mau tau yang lebih hebat lagi? Ketika tokoh yang dimainkan Talita Latief meninggal, jasadnya dikuburkan di Taman Prasasti! HAHAHAHA. Gila, ingin rasanya gue menampar manajer lokasinya yang huebatt itu.

Soal ceritanya sendiri - yang katanya tentang penjualan ari-ari - tidak gue temukan sampai 3/4 bagian film berjalan.HAH. Dan ketika 1/4 bagian itu sudah terbuka, sudah tidak ada lagi yang membuat gue penasaran hingga akhirnya gue memutuskan untuk keluar dari bioskop sebelum filmnya berakhir - yang semestinya gue lakukan lebih awal lagi karena gue sangat amat terganggu dengan tindak tanduk temannya si Talita yang berakting layaknya ini merupakan sebuah film hantu.

Well, kalau anda salah satu penganut #vividism, anda boleh coba tonton film ini hanya untuk sekadar dicaci maki. Karena apa yang saya paparkan di atas hanyalah sedikit dari sekian banyak kejanggalan yang bisa kita temukan di film ga jelas dan serba buru-buru ini.

0 comments:

Posting Komentar