Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

23.11.16

,

Film Indonesia Tayang Desember 2016



Kalau Lebaran adalah "Summer Box Office"-nya Indonesia, maka periode akhir tahun adalah "Boxing Day" untuk perfilman Indonesia. Dan Desember ini, ada 10 film akhir tahun yang sangat menggugah selera. Apa saja mereka? Ini dia daftarnya.

1. Cinta Laki-Laki Biasa - 1 Desember 2016
Desember dibuka dengan sebuah film drama dari novel laris karya Asma Nadia. Sama seperti film-film Asma Nadia sebelumnya, dari trailer-nya kita bisa memprediksi bahwa Cinta Laki-Laki Biasa akan membuat penonton berderai air mata. Seorang wanita menikah dengan seorang pria yang dicintainya, tapi pernikahan mereka tidak disetujui orangtua sang wanita. Rumah tangga mereka kemudian mengalami ujian berat ketika sang wanita mengalami kecelakaan... dan amnesia. 



2. Terjebak Nostalgia - 1 Desember 2016
Seharusnya tayang pada bulan Februari 2016 kemarin, Terjebak Nostalgia akhirnya baru bisa tayang di bulan Desember ini. Berkisah tentang seorang wanita yang ingin bersatu kembali dengan kekasihnya, tapi kekasihnya malah pergi meninggalkannya tanpa alasan. Bodohnya, ia terjebak nostalgia dan masih ingin memperjuangkan cintanya. Padahal di hadapannya ada pria lain yang lebih tampan dan baik hati, yang adalah teman baiknya sendiri.



3. Senjakala di Manado - 1 Desember 2016
Tanpa aba-aba dan pemberitahuan sebelumnya, tau-tau film ini dijadwalkan tayang sebagai film pembuka Desember. Membawa semangat kedaerahan, film ini bercerita tentang seorang Ayah yang kembali untuk memperbaiki hubungannya dengan anaknya yang ditinggalnya selama 18 tahun, tapi sang anak malah merasa kehadiran Ayahnya menganggu hidupnya. Walau posternya terlihat butut sekali, tapi ternyata trailer-nya sangat menarik. Dan akting para pemainnya itu lho... terlihat meyakinkan.



4. Headshot - 8 Desember 2016
The Mo Brothers kembali setelah 3 tahun! Kali ini, mereka hadir bukan hanya dengan genre slasher/horror/thriller seperti film-film sebelumnya, tapi juga ada elemen action di dalamnya. Bercerita tentang seorang pria yang terbangun setelah koma berbulan-bulan, pelan-pelan ia mulai menemukan jati dirinya kembali. Masalahnya adalah, masa lalunya ternyata kelam dan mengancam kehidupan barunya yang terasa lebih aman dan tenteram.



5. Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 - 8 Desember 2016
Film sensasional Bulan Terbelah di Langit Amerika melanjutkan ceritanya. Setelah tahun lalu mengeluarkan trailer yang sangat kontroversial, tahun ini mereka kembali melakukan hal yang sama. Namun, bukan hanya soal agama yang dibawa dalam edisi ke-2 ini, melainkan juga issue sejarah. Tidak main-main, Hanum dan Rangga harus menelusuri jejak harta karun pelaut Muslim Cina yang berlayar ke Amerika, jauh sebelum Christopher Colombus. Bukan tantangan yang mudah tentunya...



6. Surga yang tak Dirindukan 2 - 15 Desember 2016
Setelah menjadi pemuncak box office film Indonesia tahun lalu, sekuel dari Surga yang Tak Dirindukan kembali hadir. Meirose kembali datang ke kehidupan Pras dan Arini yang sudah harmonis lagi. Tapi herannya, bukannya marah, Arini malah meminta Meirose kembali menjadi istri Pras dan merawat anaknya. Apa yang terjadi sebenarnya? Dan mengapa surga itu tiba-tiba menjadi dirindukan sekarang?



7. Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon - 15 Desember 2016
Sama seperti Senjakala di Manado, Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon juga tau-tau muncul tanpa peringatan, seperti musuh yang menyerang dan pasukan belum memiliki persiapan (#apadah). Padahal, bisa dibilang kalau film ini adalah film besar. Bertema perang/militer, dan ingin menggambarkan Pasukan Perdamaian PBB yang tentunya membawa nama baik Indonesia. Tapi, kenapa tidak ada promo besar-besaran ya?

Pasukan Garuda: I Leave My Heart in Lebanon bercerita tentang seorang prajurit yang terpaksa meninggalkan kekasihnya untuk membela negara. Siapa sangka, di sana ia malah dekat dengan wanita setempat yang cantik dan baik hati. Sementara di tanah air, kekasihnya jadi galau karena jarang mendapat kabar, plus ia pun didekati pria lain yang lebih sukses dan bisa memberikan masa depan yang lebih pasti untuknya. Jadi, siapa yang akhirnya wanita itu pilih? Dan apakah sang prajurit akan kembali?



8. Hangout - 22 Desember 2016
Penggabungan horor dan komedi bukanlah hal baru dalam dunia film. Korea atau Thailand cukup sering melakukannya. Film Indonesia juga dulu sering melakukannya. Sekarang, setelah cukup lama, hadirlah sebuah film bergenre thriller/comedy dari tangan emas seorang Raditya Dika. Bercerita tentang 9 public figure yang diundang dengan iming-iming uang untuk datang ke sebuah acara misterius di tengah pulau terpencil. Siapa sangka, kematian mengintai mereka satu per satu. Siapakah pembunuhnya? Tidak ada yang tahu..

Jujur saja, ketika melihat teaser-nya, Hangout menjadi film pertama dari Raditya Dika yang membuat gue tertarik untuk menontonnya. Tapi setelah trailer-nya keluar, kok ya.... Saya jadi ragu lagi yaa.. Jadi, di bawah ini saya cantumkan teaser-nya saja ya..



9. The Professionals - 22 Desember 2016
Setelah vakum selama empat tahun, Affandi Abdul Rachman kembali menyutradarai film lagi! Kali ini, ia hadir dengan film bergenre action ala Hollywood bertema perampokan yang kayaknya hampir belum pernah ada di Indonesia sebelumnya. The Professionals bercerita tentang dua pengusaha yang saling mengadu strategi untuk menjatuhkan satu sama lainnya. Yang satu bermotif balas dendam, sementara yang lain tidak ingin bisnisnya hancur berantakan. Siapakah yang akan menang, ketika kemudian sekelompok perampok profesional juga terlibat di dalamnya?



10. Cek Toko Sebelah - 28 Desember 2016
Setelah mengejutkan dengan Ngenest yang begitu luar biasa tahun lalu, tahun ini Ernest Prakasa kembali menulis, menyutradarai, dan memerankan sendiri film keduanya yang berjudul Cek Toko Sebelah. Masih mengusung genre drama keluarga, kali ini Ernest bercerita tentang seorang Ayah yang sudah tua, ingin mewariskan tokonya ke anak kesayangannya yang ternyata adalah anak bungsunya. Namun, masalah muncul bukan saja karena anak bungsunya ini sudah memiliki karir yang mantap, tapi juga karena si anak sulung merasa dikhianati, padahal ia menganggap dirinya lebih perhatian terhadap Ayahnya. Jadi, siapa yang akhirnya menjadi pewaris toko sang Ayah?



Gue merasa positif banget dengan film akhir tahun ini. Semuanya terlihat menjanjikan. Prediksi gue, setidaknya 40% dari list ini akan menyelip masuk ke dalam jajaran box office 2016. So, film apa yang paling lo nanti-nantikan?

19.11.16

, , , , , , , , ,

Review: Melbourne: Rewind (Danial Rifki, 2016)



Melbourne: Rewind adalah film Indonesia berbasis novel ke-2 yang novelnya sempat gue baca sebelum filmnya dibuat. Bercerita tentang Laura (Pamela Bowie), gadis belia yang belum bisa move on dari Max (Morgan Oey), mantan pacarnya yang pergi meninggalkannya -- bukan demi wanita lain, tapi demi menggapai cita-citanya. Laura kemudian bertemu dengan Evan (Jovial da Lopez), dan jatuh cinta pada pria ini. Namun kemudian dua hal terjadi: Evan lebih memilih Cee (Aurelie Moeremans), sahabat baik Laura, dan Max kembali. JENG JENG.

Filmnya yang ditulis oleh Haqi Achmad mengambil angle yang berbeda dari novelnya. Kalau novel bercerita dari sudut pandang Laura, maka film bercerita dari sudut pandang Max. Dan hasilnya.. Filmnya jadi lebih menarik. Haqi bisa menggambarkan perubahan karakter Max ketika "muda" dulu, dan Max setelah ia berhasil menggapai mimpinya. Dan perubahan karakter itu dimainkan dengan baik sekali oleh Morgan Oey. Ada kedalaman karakter di sana, bukan hanya perubahan fisik semata. 

Sementara karakter Laura yang clueless tentang hidupnya, juga berhasil diperankan dengan baik oleh Pamela Bowie. Walaupun kemudian yaa.. Gue jadi hampir tidak bisa membedakan aktingnya di film Melbourne: Rewind ini dan di film Winter in Tokyo sebelumnya. Tapi, ketika Laura dan Max ada dalam satu frame, Laura jadi terlihat lebih hidup, sama seperti perasaannya pada Max yang sebetulnya tak pernah mati (#eaaa). Sementara Morgan tampak lebih menggemaskan dan adorable saat bersama Pamela.

Di sisi lain, dua karakter pendukung, Evan dan Cee, walau tidak diberikan karakter dan porsi yang cukup banyak, tetap bisa memberi penyegaran dengan caranya sendiri di layar. Aurelie berhasil membuat gue kagum akan daya tahan tubuhnya terhadap dingin. Ketika yang lain menggunakan jaket tebal, ia dengan santainya menggunakan cropped top yang memperlihatkan perut seksinya -- tanpa kelihatan kedinginan sama sekali. Sementara Jovial, membawa ciri khasnya sebagai Youtuber, menunjukkan kharisma dan kemampuan berbicaranya di depan kamera.

Cerita cinta empat manusia ini kemudian diramu oleh Danial Rifki menjadi sebuah film yang terasa berbeda dari film romansa Indonesia kebanyakan. Melbourne: Rewind terasa dewasa, ngga menye-menye, ngga drama, dan ngga berlebihan. Ditambah dengan deretan soundtrack super enak yang mengiringi film ini, Melbourne: Rewind jadi punya feel seperti film romance Indie ala Hollywood. Me like!
, , , , , , , , , , , , ,

Review: Shy Shy Cat (Monty Tiwa, 2016)


Kalo lo pertama kali mengetahui soal film ini dari melihat posternya, lo pasti berpikir "Shy Shy Cat nih film apa sih? Norak banget judulnya. Posternya ungu-pink gonjreng pula." Tapi kalo lo tau tentang film ini dari melihat trailer-nya di bioskop, maka ada kemungkinan lo jadi tergelitik untuk menontonnya, karena trailer-nya berhasil memancing tawa dan terlihat menjanjikan.

Shy Shy Cat bercerita tentang Mira (Nirina Zubir) yang dipaksa menikah sama si Otoy (Fedi Nuril) untuk memenuhi nazar orangtuanya. Tapi Mira menolak diperlakukan bak Siti Nurbaya. Beruntung, Mira punya sahabat-sahabat yang sangat setia, Jessy Bomb (Acha Septriasa) dan Umi (Tika Bravani). Kedua sahabat ini kemudian memutuskan untuk membantu menggagalkan rencana pernikahan Mira-Otoy. Tapi, apa mau dikata, ternyata Otoy adalah seorang high quality jomblo yang jadi idaman semua wanita di Desa Sindangbarang. Alhasil, Otoy malah diperebutkan oleh Jessy dan Umi. Persahabatan mereka pun terancam, hanya karena seorang pria. Belum lagi ada Inul (Titi Kamal), teman lama Mira yang juga nampak memendam hati pada Otoy. Siapakah yang akhirnya memenangkan hati Otoy?

Ditulis oleh Adhitya Mulya dan Monty Tiwa, Shy Shy Cat adalah sebuah film yang sangat menghibur. Film menawarkan rentetan humor yang sangat menyegarkan. Dan semuanya tak lepas dari performa empat pemeran utama wanita kita ini yang berhasil men-deliver semua jokes itu dengan sangat amat baik. Kualitas peraih Piala Citra dan nominee FFI memang ga main-main.

Acha Septriasa tampil beda dari biasanya. Aktris spesialis drama kita ini ternyata juga sangat cocok bermain komedi! Acha tampil sangat lepas, sangat norak, dan hasilnya: dia jadi sangat lucu. Gue ngga tau Acha kerasukan apa sampe dia bisa tampil sepecah itu. Tapi dia benar-benar mengejutkan dan membuat gue semakin kagum padanya. I want to see her play more comedic role in the future.

Titi Kamal, oh Titi Kamal. Siapa yang sangka dia bisa bermain sebaik itu? Di Shy Shy Cat, dia bagus banget. That role fits her perfectly. Gue ga bisa ngebayangin artis lain yang memainkan peran Inul. Dan semakin ditonton, semakin gue sadar betapa bagusnya dia. Bahkan saat gue menonton Shy Shy Cat untuk ke-2 kalinya, setiap kali Titi Kamal muncul, gue selalu menggumam "Titi Kamal bagus banget."

Tika Bravani. Banyak orang memujinya di Cado Cado The Movie. Tapi percaya lah, you haven't seen the best of Tika until you watch her here. Dramanya kena, komedinya juga, wah.. Gila. Dia bisa memainkan emosi dan ekspresinya dengan sangat baik.

Nirina Zubir. Dia sebetulnya bagus, as usual. Tapi karena Acha, Titi, dan Tika begitu bersinar, Nirina jadi kurang bercahaya. Apalagi, karakter Mira yang dimainkan Nirina ngga terlalu loveable dan cenderung ngegas melulu.

Shy Shy Cat memang senorak judul dan posternya, but in a very good term. I got a really good laugh when I watch the movie. Bukan jenis ketawa yang bikin lo terpingkal-pingkal sampe perut sakit dan keluar air mata sih, tapi ketawa yang cukup untuk menyegarkan kembali raga yang letih dan menyembuhkan hati yang luka. #eaaa

Cara Supaya Bisa Streaming iFlix Gratis dan Tanpa Perlu Mikirin Kuota Habis!


Dulu, kalau kita mau nonton film – apalagi film Indonesia – itu caranya cuma 4: nonton di bioskop, nonton di DVD, nunggu tayang di TV, atau nunggu download-an (yang tentunya illegal). Tapi yang sering jadi masalah – kecuali nonton di bioskop – adalah: waktu nunggunya lama. Nunggu DVD keluar lama, nunggu tayang di TV juga belum tentu ada, dan kalau download-an pun harus nunggu sampe yang kualitasnya bagus dan ada subtitle-nya. Belum lagi masalah internet yang lelet untuk urusan download. Rasanya, mau nonton aja kok susah.

Tapi sejak awal tahun 2016 ini, muncul cara baru yang memudahkan kita untuk menonton film. Tanpa perlu nunggu DVD, tanpa perlu nunggu tayang di TV, dan tanpa perlu nungguin download-an yang lama karena internet lelet.

Era streaming film online telah dimulai.

Dan bukan cuma film-film baru, film-film lama pun ada di situs/aplikasi streaming film online tersebut. Dari film Indonesia, film Hollywood, film/drama Korea, film Cina, film animasi, film anak-anak, film dokumenter, hingga serial TV.

Salah satu situs online streaming favorit gue karena menyediakan koleksi film Indonesia terbanyak adalah iFlix. Berkat iFlix, gue jadi bisa nonton Magic Hour dan Gangster yang ke-skip waktu film-film itu masih tayang di bioskop. Berkat iFlix juga, gue jadi bisa nonton lagi film-film “jadul” Indonesia yang keren-keren, seperti Jakarta Undercover, Jomblo, Test Pack, ngeliatin Abang Ganteng gua di Perahu Kertas (“don’t call me Pak, call me Remi” ~ awww), Perempuan Berkalung Sorban, dan masih banyak lagi.



Sama seperti hal lain di dunia ini, untuk bisa nonton di iFlix itu ngga gratis. Kita harus bayar biaya langganan sebesar Rp 39.000 per bulan. Murah banget kalau dibandingkan dengan ribuan koleksi film dan TV seri yang ada dalam database-nya. Kita bisa nonton apa aja, kapan aja, dan di mana aja. Bisa nonton lewat laptop, lewat smartphone, lagi nunggu seseorang, lagi macet, lagi di dokter, atau ketika kita sedang melakukan berbagai kegiatan lainnya. Kita bisa bebas streaming terus.

“Tapi, Kak.. Rp 39.000 itu mahal.. Dan kuota internet gimana? Nanti cepet abis.. Terus aku jadi ga eksis..”

Tenang, Dek. Karena sebetulnya ada cara supaya lo bisa nonton iFlix secara gratis, dan ngga perlu takut kuota habis! Mau tau gimana caranya? Scroll ke bawah!


GAMPANG! Tinggal daftar iFlix dan gunakan paket Freedom Combo dari IM3 Ooredoo supaya lo bisa #StreamOnTerus dari sekarang!

Karena bukan cuma lo bisa dapet layanan iFlix gratis hingga 6 bulan, lo juga bisa nonton film-filmnya tanpa perlu takut kuota internet lo abis!

Kok bisa?
Bisa dong! Dengan paket Freedom Combo dari IM3 Ooredoo ini, kuota internet utama lo akan terpisah dari kuota internet untuk streaming di iFlix, sehingga lo ga usah khawatir kuota internet cepet habis. Karena buat nonton udah ada jatahnya sendiri! Jadi, lo bisa nonton film dan serial TV apa aja di iFlix, tanpa perlu Wi-Fi ataupun mikirin kuota deh!

Nih, kurang lebih begini ilustrasinya ketika lo streming iFlix pake Freedom Combo dari IM3 Ooredoo, dan ketika lo streaming iFlix pake provider lain.


Nah, kalo lo udah punya nomor IM3 Ooredoo, lo tinggal aktifin paket Freedom Combo dan pilih besaran paket sesuai dengan kebutuhan. Mau prabayar ataupun pascabayar, semuanya bisa kok!


Kalo udah punya iFlix dan pake paket Freedom Combo dari IM3 Ooredoo kayak gue, udah ga bakal lagi mati gaya waktu macet atau lagi nunggu. Tinggal buka iFlix di smartphone atau laptop, terus langsung streaming deh! Ga perlu Wi-Fi, ga perlu takut kuota internet abis, karena ada Stream On dari IM3 Ooredoo yang bisa bikin lo bebas #StreamOnTerus! 

2.11.16

, , , , , , , ,

Review: Me vs Mami (Ody C. Harahap, 2016)


Datang dari sutradara favorit gue -- Ody C. Harahap, Me vs Mami bercerita tentang Mira (Irish Bella), gadis remaja kekinian yang ngga cocok dengan gaya parenting Ibunya, Maudy (Cut Mini), yang dianggapnya over protektif, lebay, dan sangat konvensional. Ibu dan anak yang berbeda kepribadian ini akhirnya "terjebak" dalam sebuah perjalanan ke Padang untuk mengunjungi Sang Nenek yang sedang sekarat dan ingin melihat cucunya untuk yang terakhir kalinya. Dan sama seperti kebanyakan road movie lainnya, tentunya perjalanan ini menjadi perjalanan yang membukakan mata dan menyadarkan mereka bahwa sebenarnya Maudy dan Mira sama-sama saling sayang, dengan caranya masing-masing.

That simple and that predictable, yes. Just like any other mother-daughter and father-son movies. Me vs Mami memang tidak menawarkan sesuatu yang baru. Formulanya sama. Tapi seperti yang seringkali gue bilang juga, bahwa mengemas sebuah film yang sangat tipikal menjadi tetap enak dinikmati adalah pekerjaan yang luar biasa sulit. Dan merupakan pilihan yang cukup bijak oleh MNC Pictures dengan menggaet Ody C. Harahap, sang spesialis film-film komedi, untuk mengarahkan film komedi keluarga ini.

Alhasil, Me vs Mami cukup bisa dinikmati, walaupun menurut gue -- sebagai penggemar film-film Ody -- ini bukan karya terbaik Ody. Komedinya ngga terlalu menggelitik, tapi dramanya berhasil diceritakan dan disampaikan dengan baik.

Chemistry Irish Bella dan Cut Mini pun patut diacungi jempol. Mereka yang bikin film ini jadi hidup dan believable. Ditambah dengan dialog-dialog Cut Mini yang sangat riil dan emak-emak banget, menonton duo Ibu-Anak ini seperti sedang melihat ribut-ribut-sayang Emak-Anak di dunia nyata. Sangat alami dan mengalir sekali. Setelah Athirah, gue merasa Cut Mini semakin mengukuhkan diri sebagai sosok wanita kuat dan mandiri yang patut diwaspadai #tsah. Kehadiran Rio sebagai cem-ceman Mira pun cukup berhasil menambah atmosfir lucu di film ini. 

Yang justru agak sedikit disayangkan adalah filmnya yang berusaha sedikit terlalu keras untuk memberikan twist di penghujung cerita, tapi justru malah jadi penutup yang kurang manis buat gue. Setelah semua problem berhasil dibangun dengan enak sejak awal, penonton juga berhasil dekat dengan sosok Mira-Maudy dan kesengsem dengan betapa unyunya Mira-Rio, eehh kok ending-nya jadi maksa sekali.. 

But nevertheless, sama seperti yang dilakukan MNC Pictures di awal kelahiran kembalinya dua tahun silam dengan film 7 Hari 24 Jam, rumah produksi ini nampaknya ingin menawarkan beragam pilihan genre untuk berbagai segmen usia, supaya film Indonesia tidak hanya diisi oleh jenis film dan penonton yang itu-itu saja. Untuk itu, gue memberikan apresiasi lebih untuk Me vs Mami.

4.10.16

, , , , , , , , , , , , , ,

Review: Ada Cinta di SMA (Patrick Effendy, 2016)


Pertama kali banget gue "berkenalan" dengan 2 dari 3 personil CJR yang ada sekarang adalah sewaktu gue menonton 5 Elang tahun 2011 lalu, saat mereka masih berusia 11 tahun, serta pitik-pitik imut nan lucu. Film pertama, dan nama "Coboy Junior" pun belum melekat pada diri mereka. Di tahun yang sama, Patrick Effendy menyatukan mereka, dan lahirlah little-boyband yang kemudian mengguncang dunia musik Indonesia.

Dua tahun setelah Coboy Junior terbentuk, mereka merilis sebuah film berjudul Coboy Junior The Movie, yang bercerita tentang asal muasal terbentuknya Coboy Junior. Film ini kemudian menjadi film Indonesia terlaris ke-5 pada tahun 2013. Dua tahun kemudian, berharap meneruskan jejak kesuksesan film pendahulunya, sekaligus momen untuk "rebranding" grup bocah-bocah cilik yang pada saat itu sudah menginjak usia remaja, dibuat pula lah sebuah film berjudul CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu. Di sini, lagi-lagi mereka bercerita tentang perjuangan CJR setelah ditinggal salah satu anggotanya.

Tahun 2016 ini, ketika mereka sudah berusia 16-18 tahun, CJR kembali bermain bersama dalam sebuah film -- yang katanya juga akan jadi film "perpisahan" CJR. Tapi tidak seperti 2 film sebelumnya, kali ini mereka tidak lagi mengisahkan cerita CJR, melainkan menokohkan seseorang dalam sebuah cerita fiktif. Disutradarai oleh Patrick Effendy seperti film ke-2, Starvision Plus mengajak penulis spesialis remaja, Haqi Achmad, untuk menulis skrip filmnya -- dan juga novelisasinya, dan dibuatlah film musikal berjudul Ada Cinta di SMA.


Ada Cinta di SMA berhasil menarik perhatian gue di kemunculan teaser trailer-nya. Despite the generation gap, gue merasa bahwa film tentang anak SMA ini berbeda dengan film-film anak SMA pada umumnya. Dari teaser trailer-nya, film ini terasa segar, terasa muda dan sangat dinamis, seperti layaknya anak SMA.

Ada Cinta di SMA berfokus pada kisah Iqbal (Iqbaal Dhiafakhri), kehidupannya di sekolah, di rumah, persahabatan, cita-cita, dan tentunya percikan-percikan asmara khas SMA. Iqbal yang merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara, merasa lelah selalu diremehkan oleh keluarga, maupun musuh bebuyutannya sejak kecil, Ayla (Caitlin Halderman). Memiliki cap anak bandel, Iqbal berusaha membuktikan bahwa semua orang salah karena menganggapnya tidak bisa jadi apa-apa. Karena itu, ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS menggantikan Kiki (Teuku Ryzki). Niatnya itu tentu saja kembali menerima cibiran dari keluarga, Ayla yang juga merupakan lawannya, dan secara mengejutkan, sahabatnya, Aldi (Alvaro Maldini). 


Gue nonton Ada Cinta di SMA pas penayangan perdananya tanggal 27 September 2016 kemarin, and I left the studio with a smile on my face. Dan kayaknya gue bukan satu-satunya.

Satu bioskop berkali-kali bereaksi terhadap apa yang terjadi di layar. Ketika ada adegan yang unyu-gemes-bikin baper, penonton berteriak seru kegirangan. They sounded like they were enjoying the movie a lot. And what come to my surprise was, ternyata penontonnya bukan cuma ABG lho. Ya, dengan reaksi yang gue dengar di dalam bioskop, ditambah faktor fans CJR yang mayoritas adalah ABG, ga heran dong kalo gue menduga bahwa kebanyakkan orang-orang yang nonton bareng gue adalah ABG juga? Tapi, pas film selesai dan orang-orang mulai bangun dari tempat duduk, gue kebingungan. Lah.. Banyak tante-tante juga ternyata.. Turns out, the movie worked for the "older people" too.

Sebagai sebuah film remaja yang judulnya aja "Ada CINTA di SMA", gue senang dengan fakta bahwa film ini bukan hanya tentang cinta-cintaan saja, yang kemudian menjadikan "sekolah" hanya sebagai tempelan. Di film Ada Cinta di SMA, sekolah juga dijadikan core cerita, termasuk salah satu kegiatan khas yang SMA banget, yaitu OSIS. Didukung dengan pemain yang memang benar-benar masih SMA -- bukan pemain tua yang dimuda-mudakan seperti biasanya, film ini benar-benar terasa muda. Segar, lucu, dan menggemaskan. Atau kalo kata anak muda zaman sekarang: "bikin baper!"

Dari segi akting, chemistry Iqbal-Aldi-Kiki ngga perlu diragukan lagi. Akting mereka pun natural, karena toh ini bukan kali pertama mereka berakting. Yang cukup mengejutkan adalah Caitlin Halderman yang notabene adalah pendatang baru dan tidak punya pengalaman akting apapun. Bukan hanya cantik, Caitlin juga terlihat potensial, memiliki karakter yang kuat, dan bisa berakting dengan enak. Sementara dua cewek lainnya, Gege Elisa yang berperan sebagai Tara, teman baik Ayla, dan Bella (Agatha Chelsea), gebetan Kiki, juga berakting sesuai karakternya. Terasa natural dan sesuai umurnya.

Tapi, lo ngga akan serta-merta merasakan apa yang gue deskripsikan di atas di menit pertama film dimulai. Paruh pertama filmnya terasa canggung, kayak orang baru awal-awal PDKT. Chemistry mereka belum terbangun 100%. Dan bagi penonton yang sudah terlebih dahulu membaca novelnya seperti gue, secara tidak sadar gue jadi membandingkan antara novel dengan film, karena novelnya udah "megang" dari awal. Tapi untungnya hal itu tidak berlangsung lama, karena begitu film mencapai klimaks, film ini terasa gregetnya. Lo bisa merasakan tensi kompetisi antara Iqbal-Ayla, percik-percik asmara Kiki-Bella, dan tentunya perjuangan para sahabat, Aldi-Tara, dalam upaya mereka membela best friend-nya.

Ditambah dengan lagu-lagu super ear catchy yang diciptakan Patrick Effendy, film ini akan bikin lo pengen nonton filmnya lagi, just to sing along... Sebuah kado perpisahan yang manis untuk para Comate (fans CJR), sekaligus sebuah film yang menggemaskan untuk penonton awam.

Lihat trailer-nya di sini, dan tonton filmnya di bioskop-bioskop terdekat, mulai 6 Oktober 2016!

30.9.16

, , , , , , , ,

Review: Athirah (Riri Riza, 2016)


Diadaptasi dari novel Alberthiene Endah dan berdasarkan kisah nyata dari Ibunda Jusuf Kalla, Athirah adalah film biografi yang bercerita tentang... ya, kehidupan Ibu Jusuf Kalla yang bernama Athirah tentunya. Tentang bagaimana ia dikhianati suaminya, dan perjuangannya untuk mempertahankan keluarganya.

Ketika trailer Athirah keluar, gue tau kalo film ini is not "my cup of tea". Film ini, seperti kebanyakkan film biografi lainnya, terlihat "berat". Apalagi, film ini bukanlah kisah dari tokoh penting atau pahlawan Indonesia, "hanya" kisah tentang Ibu dari Wakil Presiden kita, bikin gue ngga terlalu tertarik. Berbagai pujian di timeline pun tidak berhasil menggerakkan gue untuk menontonnya. Sampai tadi sore gue membaca sebuah sebuah tweet seperti ini, "Wah, Athirah jam tayangnya sudah berkurang." Entah mengapa, tweet ini akhirnya mendorong gue untuk ke bioskop.

Dan gue tidak menyesali keputusan gue.

Ternyata, gue sangat menikmati Athirah. Gue bisa tertawa melihat sedikit guyonan yang ada, ikut sedih melihat luka yang dihadapi Ibu Athirah, kesal melihat perlakuan Puang Ajji, Bapak Jusuf Kalla, pada istrinya, dan gue sangat amat kagum pada ketabahan, kesabaran, dan kekuatan Ibu Athirah dalam upayanya mempertahankan keluarganya.

Yang lebih membuat salut lagi adalah fakta bahwa film ini sangat minim dialog, tapi Riri Riza sebagai sutradara bisa bertutur dan menyalurkan emosinya dengan sangat baik. Kisah disampaikan lewat visual yang sangat bercerita dan memiliki emosi, dan didukung oleh ekspresi dua aktor utamanya, Cut Mini (Athirah) dan Christoffer Nelwan (Jusuf Kalla muda), yang juga sangat luar biasa.

Film ini membuat gue mengagumi sosok Ibu Athirah sebagai wanita yang sabar, tabah, kuat, pemaaf, dan penyayang, namun juga cerdik. Film ini juga membuat gue semakin salut pada Bapak Jusuf Kalla, bukan hanya sebagai seorang pemimpin dan pedagang, tapi terlebih lagi sebagai seorang anak. Kita jadi tahu apa yang membuat Jusuf Kalla menjadi seorang Jusuf Kalla yang kita kenal sekarang. #sok #ikrib #banget #luh #kan. Dari film ini gue juga belajar bahwa mengalah bukan berarti kalah, dan diam bukan berarti bodoh. Ibu Athirah mengajarkan gue tentang makna dari "menang dengan caranya sendiri".

Jadi kawan-kawan, tontonlah film Athirah di bioskop sesegera mungkin. Seperti slogan Pak JK, "lebih cepat, lebih baik." Karena nampaknya umur film ini akan pendek. Jadi, selagi ada di bioskop, tontonlah, karena belum tentu Kamis depan masih nangkring di bioskop-bioskop kesayangan Anda.

15.9.16

, , , , , , , ,

Review: Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 (Anggy Umbara, 2016)


Ketika tau Warkop akan di-remake sama Falcon Pictures, semua penonton dan pengamat film Indonesia pasti sudah memprediksi bahwa film ini akan jadi film besar. Tapi, kayaknya ngga ada yang menyangka bahwa Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 akan sehebat ini. Baru satu hari tayang, mereka sudah berhasil mendapatkan 270.000 penonton -- sebuah angka yang biasanya baru bisa didapatkan di (setidaknya) hari ke-7 penayangan. Dua hari tayang, mereka sudah mendapatkan 600.000 penonton. Tiga hari tayang, angka 1 juta penonton sudah berhasil terlewati. Dan yang terbaru, di hari penayangan ke-7 kemarin, mereka sudah mendapatkan 3 juta penonton. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.

Kenapa hasilnya bisa se-fantastis ini? Ada dua faktor penting menurut gue. Pertama: promosi yang super gencar dari Falcon. Tanpa promo yang layak, film sebagus apapun ngga akan bisa mendapatkan hasil sebaik ini. Tapi, faktor kedua yang tidak kalah penting adalah: materinya sendiri memang bagus, sehingga membuat proses word of mouth berjalan dengan sangat mudah.

Cerita yang ditawarkan Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 ngga istimewa sebetulnya, tipikal film-film Warkop zaman dulu. Cenderung forgettable malah. Gue bahkan sampe menunda penulisan review ini karena gue stuck dalam mengingat, "ini film benernya ceritanya gimana yaa?" I remember some of the jokes, some of the actions, tapi kalo disuruh menyimpulkan ceritanya dalam satu plot line, gue bingung. Jadi, sepenangkapan gue, cerita Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 berkisar seputar hidup Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro), dalam menjalankan pekerjaannya sebagai anggota CHIIPS (sejenis kesatuan pembela kebenaran gitu), yang ditugaskan untuk menangkap begal. Saking inkompetennya mereka, berbagai masalah terus muncul. Dan masalah-masalah ini lah yang kemudian menjadi sumber dari berbagai kelucuan yang terjadi sepanjang film.

Abimana sudah mencuri perhatian sejak trailer dirilis, karena penampilan fisiknya yang berubah menyerupai alm. Dono. Tapi ternyata bukan sekedar fisik yang membuat Abimana berhasil menjadi Dono; ia sukses menghidupkan karakter Dono kembali lewat tingkah laku, gerak-gerik, dan cara bicaranya sepanjang film berjalan. Terlepas dari karakternya yang ngga banyak dikasih kesempatan bicara -- kalah sama Kasino -- tapi gue merasa melihat Dono hidup lagi lewat Abimana. Sementara Vino, surprisingly bisa memerankan Kasino dengan sangat baik, bikin gue lupa bahwa itu adalah Vino. Yang disayangkan adalah Tora Sudiro yang berperan sebagai Indro. Tora was just being Tora there, bukan Indro. Tapi ya, karakter Indro pun memang tidak semenonjol yang lainnya, hanya lebih banyak bermain lewat logat dan cara bicara saja -- yang sayangnya, Tora sudah cukup sering memainkan peran seperti itu sebelumnya.

Di luar akting, pertanyaan yang kemudian diajukan kebanyakkan orang yang berniat menonton filmnya, tapi masih ragu adalah: apakah Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 memang selucu itu? Karena sesungguhnya, trailer-nya memang ngga appealing sama sekali. Beberapa temen gue bahkan males diajakkin nonton karena mereka turn off duluan sama trailer-nya. Tapi surprisingly, filmnya berhasil, ngga kayak trailer-nya.

Terlepas dari ceritanya yang lemah sekali -- terbukti dari gue bahkan sampe lupa ceritanya tentang apa, jokes-jokes-nya cukup menhibur. Walaupun ngga semuanya kena, tapi beberapa bisa bikin lo ngakak gila, sementara beberapa yang lainnya bikin lo "hmmmm....." aja. Tapi satu yang pasti: lo akan tetap keluar bioskop dengan hepi. Kenapa? Karena se-ngga ketawa-ngga ketawanya lo sepanjang film, lo pasti akan tertawa melihat bloopers ketika film berakhir.