Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

15.9.16

, , , , , , , ,

Review: Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 (Anggy Umbara, 2016)


Ketika tau Warkop akan di-remake sama Falcon Pictures, semua penonton dan pengamat film Indonesia pasti sudah memprediksi bahwa film ini akan jadi film besar. Tapi, kayaknya ngga ada yang menyangka bahwa Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 akan sehebat ini. Baru satu hari tayang, mereka sudah berhasil mendapatkan 270.000 penonton -- sebuah angka yang biasanya baru bisa didapatkan di (setidaknya) hari ke-7 penayangan. Dua hari tayang, mereka sudah mendapatkan 600.000 penonton. Tiga hari tayang, angka 1 juta penonton sudah berhasil terlewati. Dan yang terbaru, di hari penayangan ke-7 kemarin, mereka sudah mendapatkan 3 juta penonton. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.

Kenapa hasilnya bisa se-fantastis ini? Ada dua faktor penting menurut gue. Pertama: promosi yang super gencar dari Falcon. Tanpa promo yang layak, film sebagus apapun ngga akan bisa mendapatkan hasil sebaik ini. Tapi, faktor kedua yang tidak kalah penting adalah: materinya sendiri memang bagus, sehingga membuat proses word of mouth berjalan dengan sangat mudah.

Cerita yang ditawarkan Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 ngga istimewa sebetulnya, tipikal film-film Warkop zaman dulu. Cenderung forgettable malah. Gue bahkan sampe menunda penulisan review ini karena gue stuck dalam mengingat, "ini film benernya ceritanya gimana yaa?" I remember some of the jokes, some of the actions, tapi kalo disuruh menyimpulkan ceritanya dalam satu plot line, gue bingung. Jadi, sepenangkapan gue, cerita Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 berkisar seputar hidup Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro), dalam menjalankan pekerjaannya sebagai anggota CHIIPS (sejenis kesatuan pembela kebenaran gitu), yang ditugaskan untuk menangkap begal. Saking inkompetennya mereka, berbagai masalah terus muncul. Dan masalah-masalah ini lah yang kemudian menjadi sumber dari berbagai kelucuan yang terjadi sepanjang film.

Abimana sudah mencuri perhatian sejak trailer dirilis, karena penampilan fisiknya yang berubah menyerupai alm. Dono. Tapi ternyata bukan sekedar fisik yang membuat Abimana berhasil menjadi Dono; ia sukses menghidupkan karakter Dono kembali lewat tingkah laku, gerak-gerik, dan cara bicaranya sepanjang film berjalan. Terlepas dari karakternya yang ngga banyak dikasih kesempatan bicara -- kalah sama Kasino -- tapi gue merasa melihat Dono hidup lagi lewat Abimana. Sementara Vino, surprisingly bisa memerankan Kasino dengan sangat baik, bikin gue lupa bahwa itu adalah Vino. Yang disayangkan adalah Tora Sudiro yang berperan sebagai Indro. Tora was just being Tora there, bukan Indro. Tapi ya, karakter Indro pun memang tidak semenonjol yang lainnya, hanya lebih banyak bermain lewat logat dan cara bicara saja -- yang sayangnya, Tora sudah cukup sering memainkan peran seperti itu sebelumnya.

Di luar akting, pertanyaan yang kemudian diajukan kebanyakkan orang yang berniat menonton filmnya, tapi masih ragu adalah: apakah Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 1 memang selucu itu? Karena sesungguhnya, trailer-nya memang ngga appealing sama sekali. Beberapa temen gue bahkan males diajakkin nonton karena mereka turn off duluan sama trailer-nya. Tapi surprisingly, filmnya berhasil, ngga kayak trailer-nya.

Terlepas dari ceritanya yang lemah sekali -- terbukti dari gue bahkan sampe lupa ceritanya tentang apa, jokes-jokes-nya cukup menhibur. Walaupun ngga semuanya kena, tapi beberapa bisa bikin lo ngakak gila, sementara beberapa yang lainnya bikin lo "hmmmm....." aja. Tapi satu yang pasti: lo akan tetap keluar bioskop dengan hepi. Kenapa? Karena se-ngga ketawa-ngga ketawanya lo sepanjang film, lo pasti akan tertawa melihat bloopers ketika film berakhir. 

12.7.16

, , , , , , , , , ,

Review: ILY from 38.000 FT (Asep Kusdinar, 2016)


ILY from 38.000 FT adalah film kedua Screenplay Films tahun ini. Padahal baru di awal tahun Screenplay merilis London Love Story, yang sejauh ini masih nyaman duduk di kursi no. 5 perolehan penonton terbanyak sepanjang 2016. Berharap mengulang kesuksesan? Pastinya. Baru seminggu tayang saja mereka sudah mendapatkan 523rb penonton lebih dari ILY from 38.000 FT. 

Film ini bercerita tentang Aletta (Michelle Ziudith), seorang gadis berdarah biru yang menolak dijodohkan oleh Eyang-nya, dan memutuskan untuk kabur ke Bali. Tak sengaja, ia bertemu dengan Arga (Rizky Nazar) di pesawat, di mana Arga "menyelamatkannya" dari gangguan penumpang resek yang kebetulan duduk di sebelah Aletta. Belum lagi setelahnya Aletta diantarkan hingga ke depan penginapannya oleh Arga. Jatuh cinta pada pandangan pertama lah ia. Apakah mereka akan bersatu semudah itu? Tentu tidak.. Karena selain Arga ternyata adalah tipe pria pemalu, ada banyak masalah lain yang selalu saja siap menjegal mereka sepanjang perjalanan. Lyfe.


Sejujurnya, gue tadinya sama sekali tidak berniat menonton ILY from 38.000 FT ini, karena gue tidak sanggup menonton London Love Story hingga selesai. Saya pusing dengan cerita yang bolong dan banyaknya dialog-dialog yang tweetable, hingga lama-lama bikin eneg. Tapi kemudian gue menonton Magic Hour (film pertama Screenplay yang tayang tahun lalu dan juga jadi box office, red.), dan gue melihat ternyata Rizky Nazar cakep juga dan aktingnya pun oke. Padahal tadinya gue kira dia penyanyi dangdut. Peace. Jadi, mungkin masih ada harapan untuk saya bisa bertahan di film terbaru mereka ini.

Lantas, bagaimana filmnya?

Awalnya gue cukup menikmatinya. Candaannya cukup bisa bikin ketawa, adegan romantis-romantisnya pun cukup unyu, mengingatkan masa muda -- halah. Bahkan, sikap Aletta yang berlebihan tanpa motif sehingga membuat ia jadi terlihat seperti orang sugar rush aja masih bisa gue terima. Tapi... Setelah adegan malam pertama di kemah, gue jadi merasa, kok kayaknya banyak adegan yang ngga lulus sensor LSF, hingga gue ga bisa memahami jalan ceritanya ya? Jangan-jangan, ada "sesuatu" yang terjadi antara Aletta dan Arga di dalam kemah malam itu, hingga Aletta segitu cintanya sama Arga, dan Arga yang pemalu dan super cool itu mendadak bisa dengan mudahnya bilang "suka dan sayang, tapi belom cinta" sama Aletta. Jeng jeng. 

Sisa film setelah adegan tersebut seakan-akan di-shoot oleh dua orang yang berbeda, dalam waktu yang berbeda, ngga ada skrip, dan editornya pun ngga pegang skrip pas ngedit. Jadi kayak ngga ada yang tau mau dibawa ke mana film ini, gitu. Karena banyak banget adegan di mana Aletta ngomong apa, disautin apa sama Arga, dan sebaliknya. Banyak juga adegan yang mendadak ada, tiba-tiba emosi sudah memuncak, tapi ngga ada yang tau apa yang terjadi sebelumnya yang menyebabkan kemunculan emosi yang memuncak itu. 


Dari segi akting pun ngga ada yang menolong, kecuali Rizky Nazar yang berperan sempurna sebagai cowok cool pemalu yang sulit mengungkapkan rasa cintanya pada gadis impiannya. Cool-nya effortless gitu, mengingatkan gue akan Rio Dewanto di zaman FTV dulu. Sebagai leader in the group ia berhasil menunjukkan wibawanya, ketika marah ia cukup menakutkan, ketika romantis ia berhasil bikin penonton cewek baper barbar, seperti "tagline" yang dibawa ILY 38.000 FT selama mengkampanyekan filmnya.

Sementara Michelle Ziudith, I've seen better from her, seperti di Remember When misalnya. Ketika ia ngga perlu teriak-teriak, sok imut, sok manis, and just be a normal and loveable girl. Tanta Ginting? Gue ga tau apa yang terjadi dengan 3 penghargaan yang telah ia terima sebelumnya, tapi di ILY from 38.000 FT ini dia jelek banget. Marah-marah ga jelas dan basically over the top in every aspect. Derby Romero yang berperan sebagai Rimba (namanya bagus, btw), juga sebenarnya cukup baik memerankan sosok cowok cool-romantis gitu, tapi sayang, karakter tersebut sudah di-own sama Arga, sehingga ia kalah spotlight. Dan terakhir, Ricky Cuaca yang hadir sebagai laugh-maker juga cukup menghibur di tengah kepusingan gue sama cerita dan dialognya yang bolong-bolong kayak sundel bolong.


Here's the thing. I used to watch every episode of Love in Paris -- sinetron favorit gue di SCTV dulu -- dan bahkan gue menontonnya lagi di Youtube sambil mencatat dialog-dialognya yang menurut gue bagus. Tapi gue ngga tau apa yang terjadi dengan Tisa TS, sang penulis skrip ILY from 38.000 FT yang juga menuliskan skrip Love in Paris, tapi di film ini Tisa ngaco banget. Karakter tokoh-tokohnya ngga punya basis (terutama Aletta), hingga dia bisa bertindak semaunya dan berubah-ubah, tergantung suasana hatinya. Jadi kayak ngga ada yang nge-guide dia untuk stay on track dan juga membentuk dia sebagai sesosok manusia yang believeable. Belum lagi dialog-dialognya. It's like Tisa was trying TOO hard to make tweetable dialogues, sehingga bukannya unyu, malah bikin gue mengernyit karena dialog-dialog itu terasa benar dipaksakan ada -- untuk ditwit. 

Namun yang menurut gue paling krusial adalah jalan dan logika ceritanya. Gue sadar betul kalau film cinta-cintaan remaja akan selalu menggunakan "formula" yang sama dan cenderung tidak terlalu kompleks. But that's fine, karena ketika menonton film remaja, kita memang diajak untuk haha-hihi dan ber-aww-aww ria saja. Tapi bukan berarti karena ceritanya yang ketebak itu, sang penulis skrip bisa membuat cerita yang asal-asalan, melupakan logika berpikir, dan lupa bahwa ia harus bercerita kepada penonton. It doesn't have to be perfect, tapi penonton berhak mengerti atas apa yang mereka tonton, se-cheesy dan se-predictable apapun ceritanya. 

Karena ngga mungkin kan, Beauty bisa jatuh cinta sama Beast tanpa kita tahu apa penyebabnya, atau Sang Pangeran rela ke sana kemari mencari sang pemilik sepatu kaca jika tidak ada penyebab jelas akan apa yang membuat Cinderella begitu memikat hatinya?

9.7.16

, , , , , , , , , , , ,

Review: Sabtu Bersama Bapak (Monty Tiwa, 2016)


Sabtu Bersama Bapak adalah salah satu film Indonesia yang paling gue tunggu tahun ini. Novelnya gue suka banget. Jadi ga heran kalau gue punya ekspektasi yang super tinggi pada filmnya. Apalagi, sutradaranya adalah Monty Tiwa, yang emang sutradara spesialis film drama rumah tangga begini. Penulis skenarionya pun Adhitya Mulya, yang juga merupakan penulis novel aslinya. Jadi mestinya, "jiwa" novelnya tidak akan hilang.

Tapi mungkin karena ekspektasi yang ketinggian itulah, gue sebetulnya agak kecewa dengan Sabtu Bersama Bapak ketika gue pertama kali menontonnya.

All I know is Acha Septriasa as Rissa was great. Banyak orang bilang kalau Acha itu bagus, tapi baru di film Sabtu Bersama Bapak ini lah gue sadar betapa bagusnya Acha. Bukan cuma dari ekspresi, tapi Acha benar-benar menghidupi karakter Rissa dari gestur tubuh dan bahkan perasaannya. Gue takjub banget lho waktu melihat air matanya jatuh ketika memang momennya dia harus jatuh. Keren!

Gue juga tahu bahwa Deva Mahenra luar biasa menokohkan Cakra. Gue yang awalnya pesimis sama Deva setelah melihat aktingnya di Romeo+Rinjani, plus belum lagi mukanya yang playboy itu, gue sempet bingung gimanaaaa ceritanya Deva Mahenra bisa memerankan sosok Cakra yang kurang atraktif, polos, dan grogian? Tapi ternyata, Deva membuktikan bahwa saya salah besar. Deva benar-benar bisa memainkan karakter Cakra yang polos, grogian, dan sayang banget sama Mamahnya dengan sangat baik. Belum lagi tek-tokannya dengan Firman (Ernest Prakasa) dan Wati (Jennifer Arnelita) yang mulus banget dan bisa menampilkan komedi yang bukan cuma menyegarkan, tapi juga bikin ketawa ga kira-kira.

Ketiga, Abimana Aryasatya sebagai Bapak. He just never fails. Walaupun sempet takut salah fokus karena Abimana sebagai Bapak gantengnya luar biasa, tapi ternyata Abimana bisa menyalurkan "kebijaksanaan" Bapak dengan sangat baik, walaupun hanya muncul lewat layar kaca dan posisi yang itu-itu saja. Dan hasilnya, gue ga salah fokus sama kegantengan Abimana, dan bisa melihatnya sebagai Bapak, seperti Bapak yang gue baca di novelnya.

Tapi.. Gue ga puas. Gue ga puas hanya karena 3 aktor utamanya bermain dengan sangat brilian. Gue mau mendapatkan rasa yang sama ketika menonton filmnya, seperti ketika gue membaca bukunya. Tapi.. Gue ngga berhasil mendapatkan rasa itu ketika gue pertama kali nonton film Sabtu Bersama Bapak.

And that's where I did wrong.


Membandingkan sebuah novel dengan sebuah film ketika novelnya difilmkan adalah hal yang sangat wajar. Apalagi jika lo suka banget sama novelnya. Lo berharap filmnya bisa mewujudkan bayangan lo akan novelnya menjadi nyata. Gue pun melakukannya.

Di novel, fokus Sabtu Bersama Bapak adalah Bapaknya. Kita diceritakan bagaimana seorang Bapak begitu sayang sama keluarganya, dan betapa ia menyadari pentingnya peran seorang Bapak dalam proses tumbuh kembang anaknya menjadi dewasa nanti. Apalagi anaknya dua-duanya laki-laki. Kita diajak membaca nasihat-nasihat si Bapak yang diceritakan lewat video tape setiap Sabtu, dan bagaimana nasihat-nasihat itu berhasil membentuk anak-anaknya menjadi laki-laki yang baik dan anak-anak yang membanggakan orangtua. Tapi bukan cuma untuk anak-anak atau laki-laki. Novelnya juga mengajarkan gue -- seorang perempuan -- bagaimana menjadi wanita yang baik, istri yang baik (nantinya), dan ibu yang baik (nantinya juga). Intinya, novelnya membuat gue yang juga kehilangan Ayah ketika gue masih anak-anak ini merasa gue memiliki Ayah, lewat Bapak.

Namun, filmnya tidak menampilkan itu. Filmnya tidak bisa membuat gue merasakan sesosok Ayah. Makanya, ketika pertama kali gue menonton filmnya, gue kecewa. 

Tapi kemudian gue sadar kalau gue melakukan kesalahan dengan membanding-bandingkan novel dengan filmnya, seperti kata Haqi Achmad, "novel dan film adalah dua medium yang berbeda". Ketika membaca novel, seorang pembaca bisa berimajinasi seliar mungkin. Interpretasi masing-masing orang berbeda. Sementara di film, orang lain -- yang juga punya interpretasi yang berbeda dengan lo -- mewujudkannya ke dalam bentuk visual yang mau ga mau harus lo terima, karena itu adalah wujud dari interpretasi mereka (para pembuat film) atas novelnya. Makanya, ngga heran ketika sebuah novel difilmkan, banyak pembaca yang marah dan ga suka sama hasil filmnya.

Jadi, gue memutuskan untuk menonton Sabtu Bersama Bapak sekali lagi, membuang semua ekspektasi, dan melupakan rasa yang gue dapatkan sehabis membaca novelnya, dan menonton film Sabtu Bersama Bapak sebagai sebuah film yang "terpisah" dari novelnya. Seperti kata Deva Mahenra sebelum filmnya dimulai pas premiere kemarin, "tontonlah filmnya sebagai sebuah film utuh, dan jangan bandingkan dengan novelnya." 

Dan hasilnya pun berbeda.


Second viewing ini membuat gue sadar bahwa novel dan film memang tidak bisa dibandingkan. Mediumnya beda. Proses berpikirnya beda. Dan proses penonton mengonsumsi kedua media ini pun berbeda, maka jelas, treatment-nya pun harus berbeda.

Di film, gue ga bisa melihat sesosok Bapak karena memang bukan Bapak fokusnya. 

Fokus film adalah tentang kehidupan istri dan kedua anaknya sepeninggal sang Bapak. Bagaimana mereka menjalani hidup mengikuti "kata Bapak", dan pada akhirnya, bagaimana mereka menjadi anak, laki-laki, suami, dan Ayah yang baik untuk anak-anaknya di kemudian hari.

Seperti kata Bapak menjelang akhir film, "saya adalah masa lalu yang menolak untuk pergi, sementara kamu, adalah masa depan mereka." Keberadaan Bapak di film hanyalah sebagai "panduan" bagi anak-anak dan istrinya, sesuai dengan latar belakang kenapa novel Sabtu Bersama Bapak ini ada: karena Adhitya Mulya sadar betul pentingnya peran seorang Ayah terhadap tumbuh kembang anaknya. Tapi, itu hanya panduan, yang seharusnya menjadi fokus ya memang mereka-mereka yang ditinggal dan masih menjalani hidup seperti biasa.

Jadi, setelah nonton lagi, gue sadar bahwa sebagai sebuah film, Sabtu Bersama Bapak berhasil bercerita dengan sangat baik, dan juga berhasil menghibur penontonnya. Monty Tiwa berhasil membawa kita melihat perkembangan Satya dan Cakra dari kecil, kehidupan mereka dan Bu Itje (Ira Wibowo) yang tidak lepas dari pengaruh nasihat-nasihat Bapak, proses mereka "naik jenjang", serta bagaimana Satya (Arifin Putra) dan Cakra memiliki karakter yang begitu berbeda -- karena proses penerimaan mereka akan nasihat Bapak yang juga berbeda, sehingga membentuk dua pribadi yang begitu berbeda pula -- dan Arifin Putra dan Deva Mahenra berhasil memerankan dua karakter tersebut dengan sangat baik. Kita juga dibikin tertawa terbahak-bahak oleh kekonyolan Cakra-Firman-Wati, dibikin nangis oleh romantisme dan kesetiaan cinta Bapak dan Bu Itje, dibikin takut oleh Satya, dan dibikin kagum oleh Rissa.


Filmnya memang ngga sempurna. Akting semua tokoh anak-anaknya -- Satya dan Cakra kecil, dan apalagi Ryan dan Miku -- yang super duper bikin frustrasi, serta kualitas gambar (beberapa stock shot Eropa) yang kurang baik, mungkin membuat pengalaman menontonnya menjadi berkurang. But hey, gue ga terlalu terganggu akan hal itu. Karena buat gue, selama filmnya bisa bercerita dengan baik dan bisa menyampaikan rasa ke penontonnya, gue sudah senang.  

1.7.16

, , , , , , , , , , , , ,

5 Film Lebaran 2016 Yang Akan Bikin Lo Nangis Haru!


Lebaran segera tiba, artinya it's the time of the year again! Saat di mana film Indonesia jadi tuan rumah di negerinya sendiri, dan siap menghibur para penonton setianya!

Berbeda dengan tren film lebaran biasanya yang lebih didominasi oleh film-film bernuansa Islami, maka film lebaran tahun ini lebih bervariasi. Kita punya film biografi, drama keluarga, drama romantis, drama komedi, dan film remaja romantis. Walau berbeda genre, tapi kelima film ini memiliki satu kesamaan: mereka bisa bikin lo nangis haru!

1. Rudy Habibie
Mencuri start dengan tayang seminggu lebih awal di antara yang lainnya -- yaitu tanggal 30 Juni 2016 -- Rudy Habibie adalah prekuel dari film Indonesia terlaris tahun 2012, Habibie & Ainun. Masih dibintangi Reza Rahadian sebagai Habibie, film ini bercerita tentang masa muda Habibie yang penuh intrik. Perjuangannya menggapai mimpi untuk membuat pesawat dan memajukan Indonesia, cintanya dengan gadis cantik Ilona (Chelsea Islan), serta kisah persahabatan dan pengkhianatan yang dialaminya selama berkuliah di Jerman. 

Akankah film ini selaris pendahulunya? Let's see.. Tapi yang pasti, film ini akan membuat penontonnya menangis lebih haru lagi, karena bukan cuma cinta yang diperjuangkan di sini, tapi juga mimpi, persahabatan, dan negara Habibie.. 


2. Sabtu Bersama Bapak
Sabtu Bersama Bapak adalah film yang paling gue tunggu-tunggu tahun ini. Alasannya simpel: novelnya bagus banget!!!

Film/novel ini bercerita tentang bagaimana seorang Ayah yang sudah pergi meninggalkan istri dan kedua anaknya, tetap bisa dirasakan keberadaannya, serta menjalankan perannya sebagai seorang Ayah yang mendidik dan membimbing anaknya. Tapi, film/novel ini bukan cuma untuk para lelaki dan para Ayah, karena novel ini juga mengajarkan kita bagaimana cara menjadi istri, perempuan, dan anak yang baik. Dan sebagai seorang anak yang ditinggal Bokapnya waktu kecil, ya jelas lah gue nangis ngejer sepanjang baca novelnya.. Dan begitu tau novelnya mau difilmkan, excited banget gue melihat gimana novel favorit gue ini "dibawa hidup". Apalagi, yang nulis skrip filmnya adalah penulis novelnya sendiri, Adhitya Mulya. Udah gitu, yang jadi sutradara pun Monty Tiwa, yang emang spesialis film drama yang sederhana, tapi ngena.

Ngeliat trailer-nya, bedegh.. Nangis gua.
Sangat ga sabar untuk segera nonton filmnya tanggal 5 Juli 2016! *siap-siap bawa tisu banyak pas nonton nanti*


3. Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea
Jilbab Traveler adalah novel ke-6 Asma Nadia yang dijadikan film. Dan sama seperti beberapa novel Asma Nadia yang difilmkan sebelumnya (Assalamualaikum Beijing dan Surga yang Tak Dirindukan), Jilbab Traveler juga membawa nafas Islami dalam ceritanya, dan unsur sedih pastinya.

Bercerita tentang Rania (Bunga Citra Lestari), seorang wanita muslim yang gemar traveling, yang sedang menghadapi dilema dalam menjalani passion-nya, mewujudkan mimpi orangtuanya, dan menemukan jawaban atas pencarian hatinya. Dalam sebuah perjalanan, ia dipertemukan dengan Hyun Geun (Morgan Oey), pria Korea yang perlahan memikat hatinya. Namun di sisi lain, ia pun memiliki Ilhan (Giring Ganesha), teman lamanya yang kemudian menyatakan cinta. Siapakah yang akhirnya dipilih Rania, dan apakah ia menemukan jawaban atas kegelisahan hatinya?


4. Koala Kumal
Raditya Dika memang terkenal sebagai seorang komedian. Tapi komedian yang galau. Berulang kali ia menceritakan soal pahitnya patah hati di film-film sebelumnya. Tapi di Koala Kumal, ia menceritakan bagaimana pedihnya gagal menikah karena calon isterinya selingkuh. Ngenes level: doubled up!


5. ILY From 38.000 Feet
Seakan tak puas membuat penontonnya baper (dan nangis) massal lewat Magic Hour (2015) dan London Love Story di awal tahun ini, Screenplay Films kembali mengeluarkan sebuah film yang dari trailer-nya saja sudah memberi jaminan derai air mata berjudul ILY From 38.000 FT.

Masih menggunakan Michelle Ziudith sebagai pemeran utama wanita, ILY From 38.000 FT bercerita tentang Aletta (Michelle Ziudith) yang kabur dari rumah karena cekcok dengan keluarganya. Ia kemudian pergi ke Bali dan bertemu dengan Arga (Rizky Nazar) yang mengguncang dunianya. Aletta berharap kejadian di Bali bukanlah sebuah kisah summer love biasa.. Tapi, apakah Arga memiliki perasaan yang sama terhadap Aletta dan membalas cintanya?

Dialog-dialog (yang terlalu) tweetable dari Tisa TS saja sudah cukup membuat ABG-ABG ini nangis dan baper massal, apalagi kalau ditambah dengan adegan kecelakaan seperti yang nampak di trailer-nya ya? Perlu siapin ember kayaknya...


Jadi, dari antara 5 film ini, mana yang menurut lo bakal bikin lo nangis paling parah?

29.5.16

, ,

10 Penampilan Reza Rahadian yang Paling Berkesan

Photo credit: Movie.co.id

Kalo lo ga tau siapa itu Reza Rahadian, lo pasti bukan penonton film Indonesia. Tapi kalo lo tau Reza Rahadian, berarti mungkin lo adalah satu dari sekian banyak orang yang bosan melihat nama Reza Rahadian terus menerus ada di poster film Indonesia. Tapi lo juga pasti tau, semuak-muaknya lo liat nama dia, lo ga bisa memungkiri fakta bahwa akting Reza Rahadian memang sangat keren adanya. 

Semenjak berkarir di dunia perfilman 9 tahun yang lalu, Reza Rahadian sudah bermain dalam 34 film, plus setidaknya 2 film lagi yang akan tayang tahun ini. Bukan itu saja, ia pun sudah meraih 3 kemenangan dan 8 nominasi di Festival Film Indonesia. Belum lagi, 9 dari film yang dimainkannya masuk dalam daftar teratas box office Indonesia. WOW! Bisa dibilang, Reza Rahadian adalah salah satu aktor papan atas terbaik di Indonesia, yang bukan cuma punya kualitas, tapi juga bisa "jualan".

Berbagai genre film sudah dijalaninya, mulai dari horror, drama, drama romantis, drama komedi, thriller, hingga action. Namun, bukan hanya keragaman genre yang membuatnya hebat, tapi juga kemampuannya yang selalu berhasil menjelma menjadi berbagai karakter yang dimainkannya. Inilah mengapa Reza Rahadian begitu dikagumi dan terus dipilih para sutradara untuk bermain dalam film-filmnya.

Dari sekian banyak filmnya, gue memilih 10 film dengan akting Reza yang paling berkesan, berdasarkan tahun rilisnya:

1. Perempuan Berkalung Sorban (2009)
Ini adalah film ke-3 Reza, tapi ini adalah film pertama di mana penonton film Indonesia "diperkenalkan" pada sesosok aktor hebat yang kini telah menjadi "wajah" dari perfilman Indonesia. Berperan sebagai suami yang diktator dan ringan tangan, Reza berhasil menjadi orang yang sangat menyeramkan. Karena perannya ini, Reza pun berhasil membawa pulang Piala Citra pertamanya sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik pada FFI 2009.



2. Hari Untuk Amanda (2010)
Walaupun sudah membawa Piala Citra pertamanya di tahun sebelumnya, Reza tidak langsung melenggang sebagai pemeran utama di film berikutnya. Semua butuh proses. Semua butuh waktu.

Ada satu scene Reza di Hari Untuk Amanda yang masih membekas dengan jelas di ingatan gue. Adalah adegan di kantor polisi, di mana Reza sedang melaporkan Amanda yang “hilang”, dan Reza marah-marah ke Pak Polisinya. Scene ini bisa dilihat di menit ke 2:39 onwards. Manis banget deh dia di sini.


3. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010)
Hanya satu tahun berselang, Reza Rahadian berhasil membawa pulang Piala Citra lagi, dan kali ini, untuk kategori Pemeran Utama Terbaik. Hooraay! Di 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta ini, Reza berperan sebagai pemuda Muslim yang jatuh cinta pada seorang gadis Katolik. Walau film ini bergenre drama, tapi bakat komedi Reza mulai terlihat di sini. Aktingnya yang lepas dan bisa menunjukan berbagai sisi emosi, ditambah dengan cerita yang menarik, membuat penonton terbius oleh penampilan Reza yang ciamik.


4. Perahu Kertas (2012)
Walaupun sudah membawa pulang 2 Piala Citra, dan salah satunya sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik pula, tapi ternyata Reza tetap mau mengambil peran pendukung, seperti di Perahu Kertas ini. Di sini, ia berperan sebagai Remi, bos-nya Kugy yang benernya ga penting-penting amat perannya. Semacam menjadi godaan, tapi kita tau seberapa kuat radar Neptunus-nya Kugy ke Keenan, kan. But... yang menjadi highlight gue adalah betapa gantengya Reza di film ini. MASYAALLAH. Kalo sampe lo ga bilang dia ganteng di sini, then I don’t know what ganteng is to you. Apalagi pas dia bilang, “Jangan panggil Bapak, panggil aja Remi,” – Aww.. How I wish he were my boss… Ga bisa konsen kerja gua kayaknya tiap hari.


5. Habibie & Ainun (2012)
Menjadi film terlaris di Indonesia pada tahun 2012 dengan 4.5juta penonton, film ini lah yang membawa Reza memenangkan Piala Citra untuk yang ke-3 kalinya. Gimana ngga menang, Reza Rahadian berhasil menjelma menjadi Pak Habibie dengan sempurna. Ia berhasil menghidupkan sosok Pak Habibie lewat gestur dan cara bicaranya serta logatnya yang luar biasa.



6. Finding Srimulat (2013)
Satu hal yang gue kagumi dari Reza Rahadian: dia ngga pernah “malu” untuk main di “film kelas B” atau jadi pemeran pendukung, walaupun namanya sudah sangat besar. Apalagi di tahun sebelumnya ia memerankan seorang tokoh besar di film besar pula.

Di Finding Srimulat, ia berperan sebagai pemuda yang begitu cinta pada Srimulat, hingga ia mengorbankan keluarganya demi membuat Srimulat bisa pentas kembali. Filmnya terasa sangat personal, dan Reza berhasil menyampaikan emosi itu dengan sangat baik.

Btw, trailer ini masih menjadi salah satu trailer film Indonesia terbaik yang pernah gue liat. Dan filmnya juga masih jadi salah satu film Indonesia yang paling gue sukai hingga kini.


7. Strawberry Surprise (2014)
Sejujurnya, gue ga tau kenapa Reza Rahadian dan Acha Septriasa mau main film ini. Ceritanya biasa aja, gambarnya jelek, art-nya jelek, tim make up-nya masyaallah. Long story short, film ini adalah visual disaster for the eyes. Reza sedikit menyelamatkan film ini lewat aktingnya yang tetap charming, ga peduli seburuk apapun filmnya. Kalo ga ada Reza, ga ada sedikit pun hal bagus dari film ini. 


8. Kapan Kawin? (2015)
Seperti gue bilang sebelumnya, sebetulnya bakat komedi Reza sudah mulai terlihat sejak 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Tapi percaya ngga percaya, dari sekian banyak film Reza, baru di Kapan Kawin? Reza bermain film komedi. Not purely comedy, tapi peran Reza di sini sangat comedic, and he nailed it perfectly. Dan gantengnya tentu menambah poin lebih. 


9. Talak 3 (2016)
Lagi-lagi Reza membuat gue kagum. Setelah 3 Citra dan film mega box-office yang sekarang bahkan mau dibikin Universe-nya biar kayak Marvel, seorang Reza Rahadian tetap mau mengambil peran pendukung dalam sebuah film. Dan yang bikin gue salut banget adalah bagaimana Reza bisa “menekan” presence-nya, sehingga ia tidak “menutupi” spotlight pemeran utama yang adalah Vino G. Bastian di film Talak 3 ini.


10. My Stupid Boss (2016)
Peran Reza di sini adalah acting brilliance at its best. Kalau Kapan Kawin adalah film romantic-comedy pertamnya, maka My Stupid Boss adalah film full-comedy pertama Reza, and it seems like he was actually born for it. How he transformed as Bossman, bos super bodoh yang bikin karyawannya kesel setengah mati, tapi bikin penonton ngakak tak henti-henti, adalah kunci keberhasilan film ini. Kenapa? Karena dari segi cerita, sebetulnya film ini ga selucu itu, tapi Reza berhasil menunjukkan apa yang seharusnya ditunjukkan, dan menyampaikan komedinya dengan tepat sasaran. Kalo dia ga dapet Piala Citra untuk film ini, I don’t know who will. 


Setelah My Stupid Boss, masih ada 2 film Reza lagi yang patut dinanti tahun ini. Ada Rudy Habibie yang akan menjadi film lebaran, dan 3 Srikandi yang akan tayang satu bulan setelahnya. 2 film ini juga kayaknya akan membuat Reza masuk nominasi Piala Citra lagi deh, hahaha. Kalau sebelumnya ia hanya bisa mendapatkan 2 nominasi di tahun yang sama, mungkin ini akan jadi kali pertama dia mendapatkan 3 nominasi dan membawa pulang 2 di antaranya?

Mungkin saja...

29.12.15

, , , , , , , ,

Review: Ngenest The Movie (Ernest Prakasa, 2015)



Baru kelar nonton Ngenest The Movie sekitar dua jam yang lalu, dan sekarang review-nya udah jadi. Tanda apa? Tanda gue terinspirasi dan excited banget.

Sejujurnya, gue ga ada ekspektasi apapun terhadap film ini. Gue bahkan ga tau ini film tentang apa. Pemikiran awal gue, yaaah ini paling akan jadi another so-so movie. Tapi gue salah besar. Salah sesalah-salahnya. Ngenest The Movie instantly jadi film terfavorit gue tahun ini. Akhirnya, setelah menunggu 12 bulan, ada juga film Indonesia yang bener-bener bagus, bener-bener gue suka, bener-bener ngena di hati, dan bisa bikin gue se-excited ini.

Ngenest The Movie diangkat dari buku trilogi Ngenest, yang merupakan kisah nyata dari penulisnya, Ernest Prakasa. Film ini pun ditulis skripnya, disutradarai, dan diperankan sendiri oleh Ernest Prakasa himself. Bercerita tentang Ernest, seorang Cina tulen yang bercita-cita untuk punya istri pribumi. Alasannya sederhana: ia lelah di-bully “Cina, Cina” mulu dari kecil, dan ingin mengakhiri “garis pem-bully-an” tersebut. 

Siapapun yang besar di keluarga Cina (atau di lingkungan Cina) akan mengerti “keinginan sederhana” Ernest ini. Isu yang disampaikan Ernest ini sebetulnya sensitif (isu tentang ras gitu lho), tapi Ernest berhasil membungkusnya dengan sangat baik, sehingga waktu nonton kita ngga perlu mengernyit ataupun mikir sampai kepala pusing, karena penyampaiannya penuh canda dan tawa. 

Hal lain yang gue suka banget adalah gimana Ernest menggambarkan segala atribut ke-Cina-annya. Kalo ke-Cina-an Jody di Filosofi Kopi adalah hal-hal berbau stereotype, maka semua elemen ke-Cina-an Ernest di Ngenest dipaparkan dengan apa adanya. Dan itu bikin yang Cina bisa relate dan menertawakan Ernest (serta diri mereka sendiri), sementara yang bukan Cina bisa melihat Cina yang sebenarnya atau yang non-stereotype itu seperti apa.

Intinya, gue sukaaaaaa banget sama Ngenest The Movie. Komedinya kena, dramanya kena, romance-nya pun kena. Gue suka cara penceritaan Ernest, ngelawak, tapi sarat makna. Ernest berhasil membangun ritme cerita dan emosi penonton dengan sangat baik. Pelan-pelan dikeluarin, dibikin panas, sampai akhirnya kita dibawa ke titik klimaks. Waktu lucu ya kita ketawa ngakak, waktu sedih ya kita nangis, waktu unyu ya kita ber-“aww.. aww” ria. Sebuah pencapaian mengagumkan dari seorang sutradara debutan yang bahkan ngga punya basic penyutradaraan sama sekali.

Dari departemen akting, Ernest sebetulnya tidak terlalu istimewa sebagai aktor. Tapi sebagai sutradara, ia berhasil mengarahkan seluruh pemainnya dengan sangat luar biasa. Mulai dari yang kecil, yang tua, pemain utama, pemain pendukung, hingga yang numpang lewat doang, semua bermain bagus sekali. Natural dan meyakinkan. Lucu pada tempatnya dan pas momennya.

Special mention buat Morgan Oey yang jadi Patrick, sahabat Ernest, dan Lala Karmela, yang jadi Meira, istri Ernest. Morgan semakin mengukuhkan namanya di blantika perfilman Indonesia, karena sejak Assalamualaikum Beijing, ia konstan memberikan penampilan yang memukau dan bikin gue semakin ngefans. Sementara Lala Karmela yang lebih dikenal sebagai penyanyi, secara mengejutkan juga bisa berakting! Dan bagus! Ia tampil sangat natural dan chemistry-nya dengan Ernest pun mungkin bisa bikin Meira asli cemburu.

What a great way to end 2015. Thank you, Ernest. Ngga banyak lho yang bisa menghasilkan film sebagus ini di debut penyutradaraan dan penulisan skenarionya. Tapi Ernest bisa. Gue hanya berharap semoga Ernest mempertahankan prestasinya dan mengulanginya lagi di film-film berikutnya, karena ia sangat menjanjikan sebagai seorang sutradara. 

Semoga filmnya laku. Amin! Karena menurut gue, film ini sangat pantas untuk laku. Ayo ditonton filmnya, Ngenest The Movie, mulai 30 Desember 2015 di bioskop-bioskop kesayangan Anda! Dijamin bakal bikin lo happy and smiling from ear to ear setelah selesai nonton filmnya. Ga sabar untuk nonton lagi!

20.11.15

, , , ,

Review: Kakak (Ivander Tedjasukmana, 2015)


Trailer Kakak menjanjikan. Terlihat digarap serius dan dimainkan oleh dua aktor yang juga ngga main-main ketika berakting. Premisnya sebetulnya standar: pasangan suami istri, Kirana (Laudya Cynthia Bella) dan Adi (Surya Saputra) pindah ke rumah baru dengan harapan memulai hidup baru, tapi taunya rumah itu malah berhantu.

Kakak punya cerita utama dan side story yang menarik dan potensial. Sayangnya, potensi itu tidak digali lebih dalam untuk menambah detil cerita. Misal, background Kirana keguguran sampai tiga kali tidak jelas, kenapa mama Abi tidak pernah suka sama Kirana, kenapa si Kakak jadi hantu, padahal ia meninggal dengan tenang, dan lain-lain. Padahal, jika diberi porsi yang cukup, Kakak bisa jadi horor yang memiliki drama yang kuat.

Sedihnya lagi, untuk kategori horor, film ini "terjebak" dalam pakem film horor Indonesia kebanyakan: penampakan hantu yang seram dan bunyi suara super besar sebagai penanda kehadiran hantu. Padahal, Kakak sudah mengambil "jalur" horor yang berbeda. Jika biasanya hantu di film selalu digambarkan sebagai sosok yang jahat, maka tidak dengan Kakak. Hantu Kakak di sini justru digambarkan sebagai hantu yang baik dan penolong. Tapi, treatment ke si hantu ini tak beda dengan hantu-hantu di film-film kebanyakan.

Dari segi akting, Laudya Cynthia Bella dan Surya Saputra tidak mengecewakan, terutama Bella. Ia berhasil menyampaikan rasa kesal, marah, frustrasi, takut, but at the same time, that longing feeling, semuanya bisa ia ekspresikan dengan sangat baik. Chemistry di antara keduanya tidak fantastis, tapi cukup lucu di beberapa adegan. Natural seperti pasangan suami istri pada umumnya. Suasana natural itu kemudian didukung dengan musik yang tak mendominasi ketika ada dialog, sehingga itu semua terlihat semakin... real. Tapi herannya, ketika hantu muncul, suara musik jadi terlalu bernapsu. Zzz.

But overall, Kakak cukup memuaskan. It's just lacking a little bit depth, yang kalo diisiiiii.. aja, film Kakak bisa jadi luar biasa.

Btw ya, panggilan "yang" yang terus-terusan itu cukup gengges ya lama-lama. Zzz.


14.11.15

, , , , , , , ,

Review: Air Mata Surga (Hestu Saputra, 2015)


Mungkin agak telat ya, me-review film ini setelah hampir sebulan tayang, udah dapet 355ribu penonton lebih, dan asyik nangkring di posisi ke-6 box office Indonesia tahun ini. Tapi gapapalah ya, daripada ngga sama sekali.

Jadi, Air Mata Surga tayang berdekatan dengan Ayah dan Sebuah Lagu Untuk Tuhan. Entah mengapa, ketiga film ini memiliki tone poster yang sama. Sendu. Dan kelihatannya, ketiga film ini juga sama-sama pilu, pedih, dan bakalan menguras air mata penontonnya. Tapi, berhubung Air Mata Surga tayang duluan, gue jadinya nonton dia duluan (dan yang dua lainnya jadi ga gue tonton, haha).

Air Mata Surga bercerita tentang perjalanan hidup Fisha (Dewi Sandra), seorang mahasiswi S2 di Jogja cantik, baik hati, dan sholehah. Ia ditaksir sahabatnya yang juga ganteng, baik hati, dan sholeh, Hamzah (Morgan Oey) namanya. Tapi apa daya, cinta Hamzah bertepuk sebelah tangan. Singkat cerita, Fisha yang lagi sibuk bikin thesis mendapatkan seorang dosen pembimbing bernama Doktor Fikri (Richard Kevin), yang ternyata masih muda, ganteng, kaya raya, dan Maha Santri pula. Jatuh cinta lah mereka pada pandangan pertama, dan kemudian menikah. Apa daya, pernikahan yang mestinya barokah ini tidak mendapat restu dari Ibunda Fikri (Roewina), karena Fisha bukan berasal dari keluarga ningrat. Mungkin tulah, mungkin takdir, pernikahan mereka mendapat banyak sekali guncangan. Fisha hamil dua kali, dan dua kali-dua kalinya keguguran. Tidak cukup sampai di situ, Fisha pun ternyata mengidap kanker! Jeng jeng.

Dari sinopsisnya saja kita sudah menebak bahwa Air Mata Surga adalah film yang melelahkan. Film yang sudah jatuh, ketimpa tangga pula. Dan semestinya, film ini bisa menjadi sumber air mata dan isak tangis penontonnya. Tapi ternyata, film ini tidak berhasil mewujudkan keinginannya tersebut.

Satu, karakter utama wanitanya tidak bisa membuat penonton bersimpati. Dewi Sandra yang dua kali keguguran dan terkena kanker rahim tidak berhasil membuat gue kasihan sama dia, sodara-sodara. I don't know why. Dia terlihat tidak meyakinkan, tidak menghidupi perannya, dan terlihat terlalu berkating. Ia terlihat sangat berusaha tampil bubbly, ceria, polos, lovely, dan itu semua terlalu... berusaha. Karakter yang tidak simpatik itu diperburuk dengan cerita yang diberikan kepadanya. Yakali bro, nyuruh sahabat sendiri nikahin suaminya. Udah ngasih bekas, nyakitin sahabat plus suaminya pula. Sahabat dan istri macam apa itu. 

Dua, karakter utama prianya pun tidak meyakinkan. Sama seperti Dewi Sandra yang terlihat terlalu berusaha, Richard Kevin pun sama. Ia terlihat terlalu berusaha tampil sebagai Don Juan yang ganteng, kaya, dan baik hati. Saking terlalu berusahanya, lagi-lagi ia malah gagal mewujudkan apa yang seharusnya muncul dari karakternya. Penonton seharusnya mengasihani Richard Kevin ketika ia gagal menjadi Ayah dan ketika ia dipaksa menikah dengan sahabat istrinya sendiri, padahal ia tidak mau. Tapi, ini engga tuh.

Tiga, karakter yang aktingnya meyakinkan malah tidak mendapatkan porsi yang layak. Setelah mencuri perhatian di Assalamualaikum Beijing, Morgan Oey kembali menunjukan pesona dan kemampuannya di Air Mata Surga. Ia bukan cuma tampil meyakinkan, tapi ia pun berhasil menghidupi karakternya dengan sangat baik, sebagai seorang sahabat yang cintanya bertepuk sebelah tangan, tapi tetap ikhlas ketika orang yang dicintainya itu memilih orang lain. Dan harusnya, Morgan mendapat porsi cerita yang lebih banyak. 

Menurut gue, Air Mata Surga gagal karena poin yang sangat krusial: para aktor dan ceritanya. Kalau saja akting para pemainnya bisa lebih meyakinkan dan bisa menarik simpati penonton, ceritanya yang tidak simpatik itu tetap bisa membuat penonton simpatik kok, seperti Surga Yang Tak Dirindukan misalnya. Padahal, production value-nya oke lho. Sayang, oh sayang.